Posts

Waiting

Albafica. Hasgard. Manigoldo. El Cid. Kardia. Dègel. Sisyphus. Lalu, dirinya sendiri. Delapan dari dua belas Saint Emas telah tiba di alam barzah, Asmita menghitung. Empat masih bertarung sekuat tenaga di dunia fana, mendukung Athena dalam perang syahid melawan pasukan Hades. Adalah sesuatu yang tidak pantas untuk mengharapkan kematian seseorang, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berdoa agar 'orang itu' segera muncul di hadapannya. Ia rindu. Akan hangat yang ia rasakan tiap kali berada di dekatnya. Akan rasa nyaman yang muncul kala disentuh olehnya. Akan damai yang terbawa ketika ia melihat wajahnya. Ia merindukannya. "Asmita?" Melirik ke samping kanan dan ia menemukan Sisyphus tiba di sisinya. Wajah ksatria dari kuil ke-9 itu menunjukkan ekspresi cemas. Mungkin karena menyadari bahwa sedaritadi Asmita diam terpaku menatap satu titik tak berujung. "Ada sesuatu yang meresahkanmu?" Ia menggeleng. "Aku—" Kalimatnya ta...

Scrapped: Memory

Ia menatap ekspresi keduanya. Ada sedikit rasa kaget, yang kemudian diganti dengan ekspresi heran, lalu mereka berakhir tertawa, meskipun dalam volume suara berbeda-beda. Yang berambut keabuan terbahak keras, bahkan nyaris melempar diri ke tanah untuk berguling-guling, sementara yang berambut hitam menutupi mulutnya dengan tangan, berusaha agar tidak terkesan tidak sopan. Ia sendiri mendengus, sedikit merasa kesal. “Terserah kalau kalian—” “Tidak, tidak. Kami bukannya tidak percaya.” Si rambut hitam buru-buru menyela. “Tapi, tidak masuk akal kalau saat ini kau memiliki racun di dalam darahmu padahal kau belum menjalani ritual untuk menjadi Saint Pisces.” Kalimat tersebut membuatnya tertegun. Darimana dia tahu tentang ritual Ikatan Merah? Menyadari tatapan kebingungan yang ditujukan kepadanya, si rambut hitam itu segera berujar: “Bukan kau saja yang mendapatkan sedikit ingatan tentang inkarnasimu.” Dari situ, perlahan-lahan ia mengerti. Bahwa yang berdiri di hada...

Scrapped: 200 tahun kemudian

Ia terbangun karena merasakan wajahnya basah entah oleh apa. Air mata, ia menyimpulkan, setelah cukup sadar untuk menggerakan tangan dan menyentuh pipinya sendiri. Belum kering sama sekali, yang berarti ia baru saja menangis sambil tidur… sambil bermimpi. Mimpi yang tidak bisa ia ingat jelas, padahal belum lama waktu berselang semenjak ia terjaga dari tidurnya. Yang tersisa dari mimpi itu hanyalah rasa sedih dan rindu mendalam yang tidak bisa ia pahami. Kemudian ia mendengar suara-suara dari arah bawah—dari arah lantai satu. Seperti orang-orang bertengkar. Rasa penasaran membuatnya mengabaikan pertimbangan untuk mengganti piyama yang ia kenakan dengan pakaian yang lebih baik dan merapikan penampilannya yang jelas-jelas menunjukkan bahwa ia baru saja bangun tidur. Ia bergegas turun ke lantai dasar, menghampiri asal suara yang ternyata bersumber di ruang makan rumah tersebut. Dari ambang pintu ia bisa melihat seorang pria dengan surai emas bergelombang berhadapan dengan seorang ...

Scrapped: Afterlife

Alam barzah. Alam kubur. Alam akhirat. Alam baka. Underworld. Dunia yang menjadi teritorial Hades, yang menjadi tuan dari sejumlah dewa-dewi dan yang mengomandoi ratusan makhluk kegelapan yang umum dikenal sebagai Specter. Tentunya banyak orang yang akan berpikir bahwa merekalah, penduduk asli dunia tersebut, yang hapal seluk beluk tempat tinggal mereka itu. Pikir lagi. “Hentikan dia! Hentikan!” Sejumlah Specter yang memang ditugaskan untuk tetap berjaga di Underworld sibuk berlari ke sana kemari. Teknik-teknik dilancarkan, merusak bangunan dan bentang alam yang ada tiap kali serangan tersebut meleset dari target. Target yang hanya seorang, namun begitu gesit dan tak takut dihadang jalan buntu. Karena Underworld adalah taman bermainnya—taman bermain mereka , para Saint Cancer. “Kroco-kroco menyebalkan,” Manigoldo menggumam kesal, memfokuskan diri untuk tidak menghentikan larinya tapi juga tetap awas menghindari ataupun memblok serangan-serangan para Sp...

Re-marriage #1

"Ayah ingin menikah lagi." Sepasang mata biru membelalak lebar, dan di sebelahnya sebuah mulut kecil membulat membentuk huruf O. Hening lama sementara si Ayah tetap memasang wajah kalem dan menatap kedua putranya tegas, menunggu mereka keluar dari kondisi syok akibat ucapannya barusan. Yang pertama melepaskan diri dari fase terkejut adalah si bungsu, yang memang lebih reaktif daripada abangnya. "Menikah... dengan siapa?" Pertanyaannya terlontar dengan suara setengah berteriak, yang berperan rangkap untuk menyadarkan sang Kakak. Si Ayah mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada bantalan lengan sofa tempatnya duduk—sebuah kebiasaan yang anak-anaknya pahami sebagai tanda bahwa beliau tengah merasa gugup luar biasa. "Teman kerja Ayah." Jawabnya akhirnya. "Kalian pernah bertemu dengannya sekali, 'kok." Dua kakak beradik itu saling pandang. Kalau bicara soal kolega ayah mereka yang pernah mereka temui sekali, 'sih... jumlahnya luar biasa ...

Scrapped: Unexpected Saviour

Suara bariton dengan intonasi kasar itu mengejutkan Manigoldo. Begitu dalamnya ia merenung hingga ia tidak menyadari bahwa dua Specter yang menjaga gerbang Cocytus akhirnya menemukan tempat persembunyiannya. Seorang Kapten dan seorang Mayor, ia menebak dari zirah yang mereka kenakan. Bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Sang Kapten menyipitkan matanya dan terkesiap. “Zirah Emas itu… kau salah satu Saint Emas Athena!” Ia mengambil posisi bertarung, yang tidak diikuti oleh kawannya si Mayor. “Apa yang kau lakukan di dekat gerbang masuk Cocytus, hah? Apa kau diperintahkan untuk diam-diam menyusup dan menghancurkan kami dari dalam?” “Mana mungkin dia bisa melakukannya sendirian, Edward.” Sang Mayor tersenyum sinis. “Kita berdua bisa menanganinya sendiri, tapi untuk berjaga-jaga… pergilah dan panggil Valentine- sama , juga orang-orang yang sedang sedikit senggang. Aku akan menahannya dulu, jadi cepatlah.” Edward mengangguk, menyetujui keputusan atasannya itu. Ia berbalik dan...

C-I-N-T-A #2

"Darimana saja kamu, Milo?" Yang ditanyai mendongak dan melihat tatapan penuh selidik salah seorang seniornya, Saga. Tanpa merasa takut kalau ia akan dimarahi, bocah dengan surai emas bergelombang itu menjawab riang, "Dari tempatnya Kyoukou-sama , menanyakan sesuatu~" "Kenapa tidak kau lakukan nanti saja? Apa sebegitu pentingnya sampai-sampai kau bolos setengah jam latihan?" "Hm... tidak juga, 'sih. Tapi, aku penasaran sekali, jadi daripada aku tidak konsen berlatih karena memikirkannya terus, lebih baik aku tanya dulu baru latihan nanti!" Saga membuka mulut untuk menghardik lagi, namun belum sempat ia bersuara, tepukan di bahunya membuatnya menoleh. Aiolos. "Sudahlah, Saga. Apa yang diucapkan Milo, 'toh, ada benarnya. Kita tidak bisa berlatih dengan maksimal kalau ada sesuatu yang mengganjal pikiran." Pemuda berambut cokelat itu tersenyum dan mengedik ke arah Milo, yang tersenyum dengan rasa penuh terima kasih karen...