Poison
Setelah tawarannya untuk berhenti dan beristirahat sejenak ditolak, Kirsch mengunci mulutnya kembali. Suara rumput terpijak dan semak dibelah jadi satu-satunya yang mengiringi perjalanan mereka menuju danau yang menjadi pusat dari hutan tersebut, menciptakan ilusi bahwa hanya ada mereka berdua di dalam sana. Seandainya saja ia tak merasakan sebuah tatapan yang seolah mengawasi pergerakan mereka. Tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyadarinya, dia coba menerka-nerka dalam kepala. Hewan liar kah? Tidak, tatapan yang dirasakannya bukan berasal dari sepasang mata binatang yang hendak menentukan apakah dua insan manusia yang telah lancang memasuki teritori mereka ini berbahaya atau tidak. Tatapan itu terasa telah merekognisi mereka sebagai ancaman, dan tak kan melepaskan sosok mereka berdua dari pandangannya apapun yang terjadi. "Die," kembali dia membuka mulut, dengan sengaja menyamakan timingnya dengan gerakan membelah semak, "kau pergilah duluan." S...