Posts

Showing posts with the label series: real life

Effort

"Vi, coba ulurkan tanganmu sambil berdiri di samping Yasmin." Vivi menaikkan sebelah alisnya, bertanya melalui tatapan mata, tapi karena tak kunjung diberi jawaban jelas ia toh menurut—berdiri di samping gadis mungil yang telah lebih dulu mengulurkan tangan dan menyisingkan lengan baju, memperlihatkan jelas kulit putih mulusnya yang— —oh. "Nggak jadi, ah," ia berbalik, berjalan lagi ke tempat duduknya. "Udah jelas, 'sih, kalau aku yang lebih hitam daripada Yasmin." Julian cengengesan. "Makanya coba pake krim pemutih gitu, lho... 'kan jadinya nggak sepadan kalau kalian berdua jalan bareng." "Peeeeduli banget! Manisnyaaaa!" . . . "Vi, kamu pake lotion ini?" Dea mengangkat botol lotion yang dimaksud tepat ketika Vivi menoleh. "Oh. Iya. Dulunya." "Dulunya? Jadi sekarang nggak lagi?" "Iya, udah nggak lagi sekarang." "Kenapa?" Vivi menjawab dengan sikap acuh t...

Pengkhayal

Mengkhayal menurutnya begitu menyenangkan. Mengkhayalkan sebuah adegan seru atau manis adalah yang paling sering ia lakukan, di mana kemudian ia akan menuangkannya dalam bentuk kata-kata, menggubahnya menjadi kisah yang dipandangnya menarik. Mengkhayalkan sesuatu yang lucu ketika pengajar memberikan materi kuliah juga tak jarang ia lakukan, dan lagi biasanya muncul juga ide-ide untuk menjadikannya sebuah kisah pendek. Mengkhayal dan mengkhayal. Karena ia percaya khayalan adalah salah satu dari segelintir hal yang mampu menyelamatkannya dari kegilaan dunia nyata. Mengkhayal, bahkan ketika ia sedih dan marah. Mengkhayalkan apa yang akan ia katakan kepada seseorang yang membuatnya naik pitam, namun berakhir tak bisa ia keluarkan karena sisi rasionalnya cukup kuat untuk menahan dirinya dari mengatakan hal-hal yang tidak seronok, yang akan memperburuk citra dirinya. Mengkhayalkan apa yang akan ia cerocoskan ketika memijat deretan angka pada ponselnya, ketika dadanya sesak dan ...

Hero

"Besar, gendut, bodoh!" Tiga kata yang cukup untuk membuat bendungan air mata dibuka, yang langsung membuat rangkaian hinaan bertambah. "Cengeng!" Dan yang akan datang untuk membelanya adalah pahlawannya sejak kecil. Pahlawan yang tak pernah lelah menolongnya kapanpun dan dimanapun. "Kalian anak kecil banget, 'sih, ngeledekin anak cewek sampai nangis!" "Cewek?" Gerombolan anak nakal itu tertawa terbahak-bahak. "Vivi mananya yang keliatan kayak anak cewek? Rambut pendek, gaya selalu kayak anak cowok, mulutnya kasar! Tapi tetep aja pengecut! Diledekin dikit, nangis!" "Itu bukan pengecut, tolol! Cewek, mau penampilannya bagaimanapun juga, tetap cewek di dalamnya! Ngaku, deh, di antara kalian pasti ada yang ibunya kelihatan tegar. Tapi, coba, bayangin kalau bapak kalian mukul beliau atau dihina dengan sangat menyakitkan oleh siapapun--pasti beliau bakal nangis juga!" Kontan anak-anak itu terdiam. Yang tersisa han...

Illness

"Kalian ini ngapaiiin?" Kontan semua mahasiswa-mahasiswi yang duduk melingkar di salah satu sudut lapangan rumput itu menoleh, melihat ke arah yang dipandang oleh Karina. Beberapa yang memang duduk dekat Karina segera mengerti maksud ucapan gadis itu, sementara beberapa yang lain bertanya-tanya bingung, melongokan kepala untuk mencoba melihat apa yang terjadi. "Cieeee Yasmin!" "Cieeee Julian!" "Aduh, ada yang panas niiiih." Lalu gelak tawa segera memenuhi kumpulan itu, sementara Yasmin dan Julian ikut tertawa dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Beberapa terus mengompori, berusaha membuat keduanya salah tingkah. Bryan bertepuk tangan keras, meskipun ia masih menyeringai nakal--puas bersiul-siul dan membantu teman-temannya menggoda pasangan baru yang mereka temukan. "Hei, hei, sudah! Kita lanjutin bicara soal eventnya, ya." Pembicaraan kembali berlanjut, tapi tidak bisa berlangsung serius total. Dua orang target kembal...

Rivalry

"Berapa nilai Choukai -mu hari ini?" "80. Pas." "B+ ya... aku, dong, 95." "Eciee... kalau kamu, Vi?" Vivi mengerjap pelan saat merasakan teman-temannya menatapnya dengan wajah penasaran. Ia buru-buru melepas salah satu  earphone yang menyumbat telinganya. " Sumimasen , bilang apa kamu tadi, Yui?" "Hedeh..." Yui menghela napas dan menggelengkan kepala, sementara teman-temannya yang lain tertawa pelan. "Nilaimu pas tesuto Choukai  tadi! Berapa?" "Oh... sama kayak Putri, 95." Vivi nyengir selama dua detik, lalu merengut karena teringat sesuatu. "Kita berdua seri sama Julian kali ini. Ya, 'kan, Put'?" Putri mengangguk. "Baru kali ini nilai tesuto  kita bertiga sama." Helaan napas tanda kecewa. "Biasanya kami berdua bisa melampaui nilai Julian, atau salah satu dari kami menang dan yang satunya seri dengan dia, atau malah salah satu menang, salah satu kalah. Ajaib ba...

Diam

"Mengakulah!" "Siapa yang menulis kata-kata itu, maju ke depan!" Aku diam. Kawan-kawanku diam. Kami diam, mendengarkan senior-senior meraung di kanan, kiri, depan, belakang, barisan mahasiswa baru. Lalu, satu persatu beberapa dari kami memberanikan diri maju ke depan. Perlahan-lahan jumlah mereka yang berdiri di depan semakin banyak. Aku masih diam. Mulutku terkatup namun hatiku mencemooh. Cari perhatian. Hanya berani setelah lima dari kalian memberanikan diri maju ke depan! Diam dan hening, kudengar salah satu dari senior kami meneriakkan hal yang sama. Oh, hei, Kak, kau membaca pikiranku atau kita memang sehati? Manisnya. Aku kembali diam, mulut dan pikiranku, dan senior kembali berkoar. Namun dahiku sedikit berkerut, saat salah satu dari mereka berucap, "Lihat kawan-kawan kalian yang di depan ini!" Ia memberi jeda antara kalimat pertamanya ini dengan kalimatnya yang lain, melambaikan tangan untuk menunjuk barisan mahasiswa baru yang berdir...