Posts

Showing posts from December, 2012

Challenge

Seluruh klub duel yang dimiliki asrama Hogwarts berkumpul hari itu untuk pertemuan tahunan mereka. Agenda pertemuan mereka sama seperti sebelum-sebelumnya: satu orang wakil akan menantang yang lainnya dan melakukan duel singkat—satu serangan. Jika keluar pemenangnya, bagus. Jika mantera sama-sama meleset dari target dan menghasilkan seri, tidak masalah dan duel akan dilanjutkan dengan giliran berikutnya. Semua orang mengira wakil dari Gryffindor akan mulai terlebih dahulu, namun perkiraan mereka meleset. Asmita dari Hufflepuff, tanpa mengindahkan seruan ketua klubnya, masuk ke dalam lapangan begitu guru pengawas mempersilakan siapapun yang ingin bertarung pertama kali. Semua melihatnya mengangkat tongkat sihirnya, menunjuk ke satu titik. "Aspros dari Slytherin. Kutantang kau untuk satu duel." Kontan semua perhatian penonton berikutnya tertuju pada sang Slytherin kelas 6. Ekspresi Aspros datar, seolah tak terganggu dengan segala tatapan yang didapatkannya. ...

Mind

Suatu hari di musim dingin yang, well , dingin. Hari yang lebih pantas dihabiskan dengan mengurung diri di dalam kastil, di ruang rekreasi, di tempat manapun yang dapat memberikan kehangatan yang cukup bagi tubuh. Namun Defteros memilih untuk berada di luar, duduk di bawah salah satu pohon cemara di lapangan tengah sambil menengadahkan kepala, menatap kosong dedaunan dan batang yang tertutupi salju yang turun pagi tadi. Sosoknya aman terlindung oleh bayangan gelap yang diciptakan sang pohon dan jubah hitam yang memang wajib dikenakan oleh seluruh siswa Hogwarts. Ia seolah menyatu dengan pemandangan. Ia tidak mau dilindungi oleh kehangatan kastil sihir tempatnya menimba ilmu itu. Ia tidak mau menemui ataupun ditemukan siapapun, kecuali oleh— "Defteros." —Asmita. Senyum lega mengembang di bibirnya sementara ia mengamati Hufflepuff kelas empat itu berjalan mendekat. Tangannya terulur menyambut. Namun uluran tangannya itu disambut dengan acungan tongkat. "Maa...

Comfort

Dia melakukannya dengannya. Lagi. Tanpa bisa menentang, ia tunduk pada apa-apa saja yang dilakukan olehnya. Saudara kembarnya. Kakaknya. "A-... Aspros..." Menghentak, mendorong dan menekan tubuhnya agar punggungnya semakin menempel pada dinding batu di belakangnya. Mengunci bibir satu sama lain agar tidak ada orang maupun hantu yang mendengar desah dan teriakan bergairah mereka. Ketika mereka mencapai puncak, kembarannya memikirkan dan membisikan namanya. "Defteros..." Ketika mereka mencapai puncak, kepalanya dipenuhi figur satu sosok dan mulutnya bergerak tanpa suara, mengucap satu nama. Asmita... . . . "Defteros? Kau di situ?" Suara lembut dan setengah ragu yang menyapanya begitu ia masuk dalam radius lima meter yang diukur dari tempat Asmita tengah duduk bersandar pada sebuah kursi membuatnya segala rasa kalutnya hilang. Menguap bagaikan asap. Dengan satu, dua, tiga langkah panjang ia sudah berada di dekat sang Hufflepuff ber...

23 years ago

Suara tangisan bayi yang nyaring terdengar ketika kakinya melangkah keluar dari kuil Capricorn yang tak berpenghuni membuatnya kontan berlari ke arah sumber suara—kuil Pisces. Apa yang ia temukan di tempat kejadian perkara membuatnya membelalakan mata tanda tak percaya. "Oh... kau, toh, Ilias. Tumben sekali; biasanya kau akan memberi salam terlebih dahulu." Penjaga kuil ke-12 itu tengah berdiri di dekat jendela sembari menggendong sesuatu yang terbungkus kain berwarna biru cerah. Sesuatu yang menjadi sumber suara tangisan yang menggema di seluruh penjuru kuil. "Tapi, kebetulan kau datang kemari. Kau pernah merawat Sisyphus ketika ia masih bayi, 'kan? Bisakah—" "Lugonis." "—kau tolo... eh, apa?" "Jadi, kau benar perempuan dan itu hasil hubungan kita ber—" Sebuah mawar hitam melesat melewati pelipis sang Singa, memotong halus beberapa helai rambut cokelatnya. "Tidak lucu."

Warmth

Pemandangan biasa tiap kali klub Duel mengadakan kegiatan: kilatan-kilatan cahaya melesat dari ujung tongkat, berbagai objek meledak atau terbakar kala mantera-mantera tersebut meleset dari target sesungguhnya, dan ramai seru-seruan para penonton menyemangati pihak yang mereka dukung. Satu yang tidak biasa hari itu: "ASMITA!" Suara yang memanggilnya itu sampai di telinganya lebih dulu daripada suara dahan pohon yang meretak dan semakin turun karena tertarik gaya gravitasi. Kaget karena tiba-tiba saja namanya disebut dengan suara super kencang membuatnya terlambat bereaksi. Ia bergerak maju untuk menyelamatkan diri dari bahaya tertimpa dahan pohon, namun kayu tersebut berhasil menimpa punggungnya, sukses membuat dirinya jatuh tersungkur ke tanah. Ada bunyi debam keras kala tubuhnya mencium tanah, disusul koor teriakan kaget dalam berbagai vibran suara, dan suara keras yang sama kembali memanggil namanya. "Asmita!" Lalu ia kehilangan kesadarannya. . . ...