Mind

Suatu hari di musim dingin yang, well, dingin. Hari yang lebih pantas dihabiskan dengan mengurung diri di dalam kastil, di ruang rekreasi, di tempat manapun yang dapat memberikan kehangatan yang cukup bagi tubuh.

Namun Defteros memilih untuk berada di luar, duduk di bawah salah satu pohon cemara di lapangan tengah sambil menengadahkan kepala, menatap kosong dedaunan dan batang yang tertutupi salju yang turun pagi tadi. Sosoknya aman terlindung oleh bayangan gelap yang diciptakan sang pohon dan jubah hitam yang memang wajib dikenakan oleh seluruh siswa Hogwarts. Ia seolah menyatu dengan pemandangan.

Ia tidak mau dilindungi oleh kehangatan kastil sihir tempatnya menimba ilmu itu. Ia tidak mau menemui ataupun ditemukan siapapun, kecuali oleh—

"Defteros."

—Asmita.

Senyum lega mengembang di bibirnya sementara ia mengamati Hufflepuff kelas empat itu berjalan mendekat. Tangannya terulur menyambut.

Namun uluran tangannya itu disambut dengan acungan tongkat.

"Maafkan aku—"

"Asmi—?"

"—Legilimens!"

.
.
.

Ia paham bahwa semua ini hanyalah memori. Memori orang lain, pula.

Namun semuanya terasa begitu nyata.

Kegelapan yang seharusnya begitu akrab dengannya membuatnya merinding. Panas yang tak wajar dan tubuhnya lengket oleh substansi yang awalnya ia pikir sebagai keringat, namun ia ketahui sebagai zat lain ketika sesuatu yang fleksibel dan hangat menyentuh kulit.

"Tumben kau lebih diam hari ini."

Suara yang familiar. Lalu sebuah hentakan di bagian bawah dan erangan tertahan menyambut.

"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, hm, adikku sayang?"

Tidak ada jawaban. Hanya ada desahan dan erangan tak teratur.

"Tidak menjawab karena tidak bisa berkonsentrasi?" Aspros tertawa pelan tanpa memelankan apalagi menghentikan hentakannya. "Bagus. Saat ini kau hanya boleh memikirkanku..."

Ritme dipercepat dan beberapa saat kemudian rasa hangat memasukinya, diikuti erangan dan pencapaian klimaksnya sendiri. Tubuh besar Aspros masih menaunginya.

Memori itu ditutup oleh pengelihatan wajah Aspros yang terus mendekat dan rasa sebuah bibir hangat mengecup hidungnya.

.
.
.

Yang Asmita rasakan selanjutnya adalah tangan Defteros yang mencengkeram erat kedua lengannya, membuatnya mengernyit menahan sakit. "Lepaskan aku, Defteros... !"

"Akan kulepaskan setelah kau berjanji kalau kau akan melupakan apa yang baru saja kau intip."

"... aku menolak."

Asmita mendengar bunyi gemeresak dan ia tahu bahwa Defteros mengeluarkan tongkatnya. Rapalan Mantera Memori terucap setengahnya saja karena Asmita dengan sigap meraih dan menarik pergelangan tangan sang Gryffindor yang memegang tongkat, membuat salah satu Prefek tingkat enam itu jatuh tersungkur menimpanya.

"Jangan sembrono, Defteros." Bisik Asmita, mengeratkan cengkeramannya pada pergelangan tangan sang kekasih. "Kau tidak perlu memaksaku melupakannya. Aku tidak akan menyebarkan rahasiamu pada orang banyak-"

"Bukan itu masalahnya!" raung Defteros, yang membuat Asmita sedikit terlonjak kaget. Beruntung tidak ada siapapun selain mereka di sekitar sana.

Hufflepuff kelas empat yang masih tertimpa di bawah tubuh besar Defteros itu diam selama beberapa saat. Pegangannya mengendur kala ia merasakan bahwa dirinya tidak lagi terancam menerima serangan dan tangannya berpindah ke kepala seniornya itu, mengelus pelan.

"Kau tidak mau mengatakan masalahmu padaku." Asmita kembali berbicara setelah lama mereka bertahan di posisi itu. "Tidak pernah mau. Kalau kau tidak menjelaskannya padaku, Defteros, bagaimana aku tahu apa yang boleh kulakukan dan tidak boleh kulakukan padamu? Bagaimana aku bisa membantumu?"

"Ketidaktahuanmu sudah cukup membantu."

"... Maksudmu?"

Defteros bergerak, mengangkat tubuhnya sendiri agar ia tak lagi membebani tubuh Asmita. Ia duduk di samping si pemuda dengan surai pirang yang masih terbaring, tangan besarnya mengelus lembut pipi putih yang sedikit memerah itu.

"Di mataku, kau terlalu 'putih'." Jari-jari jenjang yang biasa digunakan untuk menggenggam gagang sapu itu perlahan menyapu bibir Asmita. "Terlalu suci untuk dikotori dengan hal-hal seperti ini. Dan itu yang kusukai darimu, Asmita. Kekontrasanmu denganku."

"Kau mau bilang kalau kau tidak lagi menyukaiku kalau aku mulai paham tentang 'hal-hal seperti ini'?"

"Bukan begitu, tapi..." Asmita merasa suara pemuda yang lebih tua darinya itu sedikit bergetar saat mengucapkan kalimat selanjutnya. "... aku takut kau tidak akan sama lagi. Dan aku akan mengutuki diriku sendiri jika akulah yang menjadi alasan perubahanmu itu."

...

Asmita tertawa. Awalnya hanya kekeh pelan, lalu perlahan berubah menjadi tawa keras yang membuat Defteros mengernyit bingung.

"Kau merasa ini lucu?"

Hufflepuff muda itu menutup mulutnya, berusaha untuk berhenti namun hanya berhasil untuk meredamnya sampai kekeh-kekeh kecil. "Ha-habis... kau sudah mengenalku selama tiga tahun lebih, tapi kau belum juga mengerti bahwa aku bukanlah tipe yang mudah berubah karena dipengaruhi rangsangan dari luar?"

Asmita kembali tertawa sementara Defteros terus diam selama beberapa saat... sebelum ia memutuskan untuk menggelitiki pinggang juniornya yang satu itu, memancing derai tawa yang lebih keras dari sebelumnya.

"Defteros! Cukup!" protes Asmita ketika ia mulai merasa kesulitan bernafas. "A-ku minta maaf, oke?"

"Tidak."

Si manis berambut pirang itu mengira ia akan mati karena kehabisan napas, namun kemudian gelitikan di sisi kanan-kiri pinggangnya berhenti. Tangan nakal yang sedari tadi menggodanya berganti memeluk tubuhnya, membawanya bersandar pada dada bidang sang Keeper Gryffindor.

"Aku yang seharusnya meminta maaf. Rupanya aku gagal memahami."

"Setiap kegagalan harus kau jadikan alasan untuk mencoba lagi di masa depan, hingga kau berhasil," ujar Asmita kalem setelah sukses mengatur irama pernapasannya. "Dan kau dimaafkan, asal mulai sekarang kau katakan padaku jika kau mengalami masalah. Aku akan membantumu semampuku untuk menemukan solusinya."

Satu kecupan cepat mendarat di ubun-ubun sang Hufflepuff. "Terima kasih. Tapi, kau tidak perlu membantuku untuk masalah yang satu ini."

"Kau bisa menyelesaikannya sendiri?"

"... tidak ada yang bisa aku, apalagi kau, lakukan, Asmita."

"Pesimistis."

"Terserahlah."

"Apa itu artinya terserah padaku juga jika aku bersikeras ingin menemukan cara untuk membebaskanmu dari problema ini?"

Tidak ada jawaban, tapi Asmita tahu Defteros sedang merengut, tanda tak setuju dengan ucapannya. Menanggapi hal itu, ia hanya terkekeh pelan dan mengelus punggung tangan yang masih melingkar di sekeliling pinggangnya, mengamankannya.

"Aku akan diam kalau nyatanya aku memang tidak bisa melakukan apa-apa. Janji."

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius