Scrapped: Raijin no Keifu
Orang-orang
lemah berkumpul, membentuk kelompok.
Kemudian mereka akan mencari kambing hitam—orang yang dapat mereka salahkan
atau siksa setiap kali ada sesuatu yang salah dalam kehidupan mereka.
Itulah kodrat manusia.
Pikiran pesimis seperti itu melintas di
benak seorang bocah lelaki yang di kala itu sedang dipukuli dan ditendangi oleh
sekumpulan anak-anak seusianya, namun berfisik lebih besar darinya.
Karena ia hanya seorang anak kecil
bertubuh lemah, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan menerima
perbuatan orang-orang di sekitarnya.
Karena ia hanya seorang anak kecil yang
tidak memiliki orang tua ataupun sanak saudara, tidak ada yang berminat untuk
menunjukkan belas kasihan padanya.
Karena ia hanyalah seorang anak kecil yang
tak memiliki cahaya—tidak setipispun—pada simbol miliknya, maka ia tidak
dianggap sebagai saudara sedarah oleh mereka...
.
.
.
Hujan mengguyur desa itu dengan derasnya.
Orang-orang berlindung di dalam rumah mereka masing-masing, sementara ia hanya
bisa berteduh di bawah atap teras rumah orang. Duduk diam tak bergerak,
berharap tidak ada yang melihatnya dan mendapat hasrat dadakan untuk
menindasnya di cuaca seperti ini. Separuh tubuhnya basah, namun ia tidak
memedulikannya. Ia merasa kedinginan dan lapar, namun tidak mungkin mencari
kain usang untuk menyelimuti diri dan makanan saat itu juga.
Ia hanya bisa pasrah, duduk memeluk lutut
dan membenamkan wajah sambil berdoa agar hujannya cepat mereda.
Tapi kemudian ia mendengar suara ramah
menyapanya.
"Kau baik-baik saja?"
Comments
Post a Comment