Posts

Showing posts with the label theme: crossover

Traumatic

Kateikyoushi Hitman Reborn! © Amano Akira Kuroshitsuji © Toboso Yana Psycho-Pass © Production I.G, Funimation Entertainment, Urobuchi Gen . Karena tidak ada kejutan ulang tahun yang lebih baik dari kejutan yang membuat sang birthday boy mengalami trauma, 'kan? . Sudah jadi rahasia umum bahwa Gokudera Hayato membenci Rokudou Mukuro. Karena pria yang memegang separuh hak untuk menyandang gelar sebagai Mist Guardian klan Vongola itu jahat sampai ke inti yang paling dasar. Karena pria itu seorang kriminal kelas atas, bahkan dalam komunitas mafia sendiri. Karena pria itu terus saja mengincar bosnya tercinta bahkan setelah sepuluh tahun berlalu. Karena, kesimpulannya, pria itu eksistensi paling menyebalkan yang pernah ditemui Hayato. Sebisa mungkin Hayato menghindari kontak dengan Mukuro, baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung. Frekuensi kejadian di mana ia berbincang dengan sang ilusionis bisa dihitung dengan jari dan sebagian besar terjadi saat seluruh...

Slow Dance

Roman, Moira, Märchen © Sound Horizon, Revo Inspired by romandehiver and emptyborder. . Imagine your OTP slow-dancing to a love song, with Person A quietly singing the words in Person B’s ear. . Aeolia menguap lebar dan merenggangkan badannya. Jam dinding sudah menunjuk pukul setengah empat, yang artinya ia hanya perlu menunggu tiga puluh menit lagi hingga bisa mengunci pintu perpustakaan, lalu pulang dan menikmati sore menjelang akhir pekan. Ia meninggalkan tempat duduknya di balik meja jaga, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Sekilas, 'sih, tidak ada siapa-siapa. Tapi di antara dua rak di salah satu bagian terdalam perpustakaan, ia tahu ada seorang murid yang mengubur diri di antara tumpukan buku-buku. Wanita berambut pirang itu beranjak, hendak mencari murid yang dimaksud ketika pintu perpustakaan digeser agar membuka lebih lebar dan seorang remaja berkulit pucat dan berambut hitam-perak menyelinap masuk. Pandangan mata mereka saling berte...

Date

Defteros merasa risih. Benar-benar merasa risih. Pasalnya, ia tidak terbiasa melakukan perjalanan dengan menggunakan alat transportasi Muggle dan berjalan di trotoar yang juga digunakan oleh para Muggle. Ia tidak suka karena menurutnya tidak praktis, juga karena para manusia tanpa kekuatan sihir itu memberinya tatapan aneh ketika melihatnya berjalan di area mereka. Wajar, 'sih, kalau mereka menatapnya aneh, karena kemungkinan besar mereka tidak pernah melihat manusia tampan berkulit gelap dengan tinggi 6 kaki lebih sepertinya sepanjang umur mereka. Tapi semua ketidaknyamanan itu ia tahan. Toh, sebentar lagi ia akan sampai di tempat tujuannya: Ipsden House. Kediaman Asmita dan sanak saudaranya.

EXEC_SPHILIA

Kiafa hynne mea? Pagle tes yor. His voice echoed throughout the whole city. Animals and plants alike swirled ever so lightly, admiring the beautiful voice. The singer closed his lips, have no intentions to continue his song until he heard a reply from a familiar voice. Fou paks ga kiafa hynne yor... Smiling, he opened his mouth and sang: Kiafa sarla pagle tes yor? Silence engulf the time. People pass by, unaware of the sudden change of atmosphere around them. The song continues, followed by the howls and cries from various night animals and vague dances from the plants. Wee paks ga faf yora accrroad mea? , the other inquired. He would smile calmly as usual and replied, Was yea ra pauwel en wael yor. Wee paks ga chs mea? Infel mea, melenas mea There was a long silence, where the animals stopped their cries only to wait for the other's voice to answer his statement. When she spoke, they began to cry in joy once more. Was paks ga chs na mea, the voice stuttered, en pa...

Regulus

Teritorial Asrama Slytherin adalah ruang-ruang bawah tanah Hogwarts. Ruang kelas untuk pelajaran Ramuan, ruang kantor Kepala Asrama, ruang rekreasi dan ruang asrama Slytherin—semuanya terletak di bawah tanah. Ada juga sejumlah ruangan lain di bawah tanah yang secara tak langsung menjadi properti mereka, pemanggul panji hijau dengan simbol ular perak itu, tapi pada dasarnya murid-murid Slytherin tidak termasuk tipe yang gemar kongkow, sehingga mereka tidak pernah menggunakan ruangan-ruangan tersebut. Mereka lebih senang berdiam diri di dalam ruang rekreasi mereka yang sejuk sambil melihat pemandangan di dalam danau. Meskipun selalu ada pengecualian. Seperti Regulus, misalnya. Putra bungsu dari pasangan Orion dan Walburga Black itu sejak pertama kali menjejakan kaki di Hogwarts selalu mencari kesempatan untuk mengeksplorasi kompleks sekolahnya yang amat sangat luas nggak pake aja itu—tentunya sambil berhati-hati agar tidak ketahuan dan menghindari teguran baik dari staf sekolah ataup...

Regulus #2

Awalnya, Regulus sedikit malas karena mengira bahwa sang hantu hanya membual. Bagaimanapun, jika ia terbunuh di usia muda dan bergentayangan seperti itu, pasti ilmunya tidak seberapa. Namun, sang hantu berhasil membuktikan klaimnya. Dengan telaten Regulus diajari cara mengayunkan tongkat dan pelafalan mantera yang benar. Ia juga diajari tips dan trik agar konsentrasinya tidak terpecah dan mantera-mantera apa saja yang baik digunakan untuk berduel, tergantung pada level dari lawan yang dihadapai. Singkatnya, sang hantu menjadi guru terbaik yang bisa Regulus minta. Lebih baik daripada Profesor Flitwick, malahan. "Ngomong-ngomong, agak terlambat, sebenarnya, tapi... kenapa kau ingin belajar mantera sampai sebegininya, Regulus?" Pertanyaan itu muncul ketika mereka tengah beristirahat setelah Regulus berhasil menguasai Kutukan Peledak. "Kenapa? Ya, karena..." Regulus menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Aku ingin jadi lebih hebat." "Lal...

Spoiled

Mukuro menoleh ke arah jam dinding. Pukul 10 malam. Suara televisi dari arah ruang tamu belum juga berhenti. Ia menghela napas panjang. "Shougo, sudah waktunya tidur. Matikan televisinya dan bersiaplah untuk naik ke ranjang." Suaranya cukup keras untuk terdengar jelas hingga ke ruang tamu, meski tidak cukup untuk mengejutkan seisi rumah besar yang mereka huni. Namun, tidak ada jawaban seperti yang ia harapkan, dan hal itu membuatnya mengerutkan dahi. Beranjak dari ruang kerjanya yang terletak tepat di samping ruang santai, Mukuro pergi untuk mengecek kondisi putra semata wayangnya itu dan benar saja: Shougo berada di posisi berbaring telungkup di atas sofa panjang favoritnya, dengan pipi beralaskan buku Kumpulan Dongeng Grimm dan mata terpejam rapat. Ia tertidur di tengah-tengah kegiatan kesukaannya—membaca. "Manisnyaaaa." Komentar yang begitu akrab di telinga sampai-sampai ia tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang mengucapkannya. Mukuro se...

Juli's Everyday

My name's Juli. I'm just your ordinary nine-years old boy living my ordinary, rather monotonous live the best way I can. Well, the only thing that's not so ordinary about me is my hair color, which is gray due to low amount of pigments and melanin, that's all. Okay, I lied. The life I went though up until now might seem ordinary but due to my family background, it's actually not so ordinary. Because my family consist of men and men only. For serious. . . . Everyday I would wake up in the morning as my alarm clock rings, washes my face and get dressed while staying half-awake, then head to the dining room where my parents had gathered way earlier than I do. "G'morning..." "Good morning, Juli." My father would answer first, looking up from the morning newspaper or morning news on the TV or whatever that he was preoccupied with prior to my arrival in the room to flash his usual bright smile. He would've already appear nea...

koi no yokan #1

- All I want is is your time and attention. - . . . "That's... Miwa- basan 's fourth child?" "Yes. Another son." Dozen pairs of sparkly eyes staring at the motherly figure sitting on the bed, hugging a little life wrapped in blue cloth, surrounded by adults who congratulate her for having a safe delivery and been gifted with a healthy-looking boy. When those eyes--the eyes of the children of those adults--were finally regarded and gestured to come closer, they tried their best to not show exaggerated excitement. The adults stepped back to allow some space for the children, smiling fondly at how they seemed to be so giddy, for being able to look at the newest addition to their big family. "It's really a boy. Miwa- basan keeps giving birth to boys..." "Just like our mother keeps giving birth to girls!" "Boy, girl, does the gender matter? We have another little brother that we can play with!" "Come on, ...

Scrapped: Slow Dance

Roman, Moira, Märchen © Sound Horizon, Revo Inspired by romandehiver and emptyborder. . "Sudah kubilang, kau itu pasnya menarikan bagian perempuan," Hiver menukas, "lebih terasa alami saat kita melakukan putaran-putaran!" "Hanya karena kau sedikit lebih kekar dariku akibat kegiatan rutinmu," Märchen melirik tumpukan buku yang sudah siap dibawa pergi, "'angkat berat: edisi buku bacaan'. Kalau seperti ini terus, spekulasiku bahwa tahun depan kau akan termutasi sempurna menjadi semacam makhluk peranakan manusia dan gorila akan jadi kenyataan." "Aku tahu kau suka membayangkanku dengan kondisi tubuh sepertiku. Kau dan fetish -mu, hm." Hiver tertawa pelan saat menghindari sikutan Märchen. Aeolia tersenyum saja melihat keduanya bersenda gurau. Sementara kawannya yang kutu buku mengangkut tumpukan pinjamannya dari atas meja, Märchen mengeluarkan CD Rom dan mematikan komputernya, baru menyusul Hiver dan Aeolia yan...

Nakhes

Hari yang ditunggu-tunggu Fudou tiba.  Tepat sebelum acara makan pagi dimulai, seekor burung hantu mendatangi rumah keluarganya, membawa sepucuk surat untuknya.  Laporan nilai OWL-nya.  Sebenarnya, ia cukup percaya diri dengan hasil ujiannya. Bagaimanapun, ia adalah salah satu murid terbaik dari asrama Ravenclaw. Laporannya pasti akan penuh dengan nilai Outstanding atau setidaknya Exceeds Expectations.  Tapi, melihat hasilnya di depan kedua orang tuanya itu…  "Ada apa, Fudou?"  Suara ibunya mengagetkannya. Ternyata sedaritadi ia melamun memandangi amplop yang masih tersegel rapi.  "Tidak ada apa-apa, kok, Mam."  "Kenapa tidak langsung dibuka?" Giliran ayahnya yang bertanya. Ada seringai lebar di wajah pria berkulit hitam itu. "Kalau tidak mau, aku saja yang--ouch!"  Ibunya mengirim delikan tajam ke arah suaminya, yang diabaikan karena rasa sakit di jari-jari kakinya lebih menyita perhatian. Fudou tersenyum kecil. Ayah dan ibunya selalu bisa m...

Regulus #1

"Oh? Tumben sekali!" Regulus berjengit kaget kala mendengar suara yang, menurutnya, terlampau ceria itu. Menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mencoba melihat siapa yang baru saja bersuara, tapi tidak bisa menemukannya. "Tengok ke atas! Ke atas!" Patuh, ia mendongak dan matanya membelalak lebar kala menemukan seorang—oh, tunggu, makhluk semacamnya tidak tergolong manusia. Seekor? Sebuah? Ah, apapun satuan yang digunakan untuk menghitung—hantu. Hantu berwujud penyihir lelaki muda yang kelihatannya tak jauh lebih tua dari abangnya, yang kini menjalani tahun ke-5 di Hogwarts. Jadi, pemuda itu menjadi hantu ketika masih remaja. Menyedihkan. "Halo!" Sang hantu perlahan menurunkan ketingiannya di udara hingga matanya bisa menatap langsung mata Regulus. Aneh; meskipun ia tahu bahwa yang berada di hadapannya ini seharusnya sudah lama mati, namun ia merasa tatapan sang hantu begitu... hidup. Penuh semangat. Seolah esensi-esensi kehidupan belum meninggalkannya. ...

Composure

Shougo selalu kagum pada ibunya. Di situasi seperti apapun, beliau tidak pernah kehilangan ketenangannya. Bahkan ketika ia terjangkit virus DBD (yang virusnya ia terima entah darimana), beliau dengan tenang mengurus segala macam proses perawatannya dari awal hingga akhir. Ah, tapi, Shougo ingat bahwa ada satu kesempatan di mana ibunya melepaskan kontrol diri di hadapannya. . . . "--apa yang kau lakukan?!" Shougo, yang sedang berbaring telungkup di atas ranjangnya sambil membaca Supernova yang baru dibelikan oleh ayahnya kemarin lusa, menoleh ke arah asal suara. Ibunya berdiri di ambang pintu dengan mata membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Membaca buku," adalah jawaban lugas yang ia berikan. "Bukan itu!" Ibunya mendekati ranjangnya dengan langkah gusar. "Maksudku, kenapa kau memakai pakaian seperti itu?!" Ia melirik apa yang tengah ia kenakan saat itu. "Karena Papa menyuruhku memakainya....

Micawber

I. Putih bersih. Berapa kalipun ia mencoba mengecek—setelah memperhatikan rekaman kematian Mido Masatake, menyimak Ouryou Rikako mengawetkan karya seninya, melihat perburuan Senguji Toyohisa—angka Koefisien Kriminalitas-nya tidak berubah. Tetap berada di dalam standar. Berubah menjadi sedikit gelap pun tidak. Anak buah kesayangannya, Chou Gu-sung, tampaknya tertarik dan menanyainya, namun jawaban yang ia berikan sama dengan apa yang ia jelaskan pada inspektur wanita dari Biro Keamanan Publik: ia tidak begitu paham, namun begitulah kenyataannya. Semenjak pertama kali Sistem Sybil diimplementasikan, Warna-nya tetaplah putih bersih seperti warna rambutnya yang putih bersih serupa butiran salju itu. Bicara soal momen di mana Sistem Sybil pertama kali digunakan secara luas, ia jadi teringat akan masa kecilnya. II. Masa kecilnya adalah masa di mana manusia, menurutnya, hidup lebih bebas. Di mana manusia dituntut untuk lebih berhati-hati dalam melangkah, dalam menentukan pil...

Comfort

Dia melakukannya dengannya. Lagi. Tanpa bisa menentang, ia tunduk pada apa-apa saja yang dilakukan olehnya. Saudara kembarnya. Kakaknya. "A-... Aspros..." Menghentak, mendorong dan menekan tubuhnya agar punggungnya semakin menempel pada dinding batu di belakangnya. Mengunci bibir satu sama lain agar tidak ada orang maupun hantu yang mendengar desah dan teriakan bergairah mereka. Ketika mereka mencapai puncak, kembarannya memikirkan dan membisikan namanya. "Defteros..." Ketika mereka mencapai puncak, kepalanya dipenuhi figur satu sosok dan mulutnya bergerak tanpa suara, mengucap satu nama. Asmita... . . . "Defteros? Kau di situ?" Suara lembut dan setengah ragu yang menyapanya begitu ia masuk dalam radius lima meter yang diukur dari tempat Asmita tengah duduk bersandar pada sebuah kursi membuatnya segala rasa kalutnya hilang. Menguap bagaikan asap. Dengan satu, dua, tiga langkah panjang ia sudah berada di dekat sang Hufflepuff ber...

Warmth

Pemandangan biasa tiap kali klub Duel mengadakan kegiatan: kilatan-kilatan cahaya melesat dari ujung tongkat, berbagai objek meledak atau terbakar kala mantera-mantera tersebut meleset dari target sesungguhnya, dan ramai seru-seruan para penonton menyemangati pihak yang mereka dukung. Satu yang tidak biasa hari itu: "ASMITA!" Suara yang memanggilnya itu sampai di telinganya lebih dulu daripada suara dahan pohon yang meretak dan semakin turun karena tertarik gaya gravitasi. Kaget karena tiba-tiba saja namanya disebut dengan suara super kencang membuatnya terlambat bereaksi. Ia bergerak maju untuk menyelamatkan diri dari bahaya tertimpa dahan pohon, namun kayu tersebut berhasil menimpa punggungnya, sukses membuat dirinya jatuh tersungkur ke tanah. Ada bunyi debam keras kala tubuhnya mencium tanah, disusul koor teriakan kaget dalam berbagai vibran suara, dan suara keras yang sama kembali memanggil namanya. "Asmita!" Lalu ia kehilangan kesadarannya. . . ...

His Family: Freakish

"Kutanya sekali lagi: kau serius ingin bertemu dengan mereka?" "Bukankah agak terlambat kau menanyakannya sekarang? Kita sudah berada di depan rumahmu." Minos menghela napas panjang, terlihat benar-benar depresi. Bahkan sampai detik-detik terakhir, ia masih merasa tidak enak membawa kekasihnya ke rumah untuk diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarganya. Kekasihnya itu tersenyum lembut seraya berkata, "Jangan khawatir, karena aku yang meminta untuk bertemu dengan mereka, aku sudah mempersiapkan mentalku kalau-kalau nanti aku dicemooh oleh mereka." "Bukan itu yang ku khawatirkan... tapi, sudahlah. Ayo masuk, Albafica." Lelaki dengan rambut biru panjang itu mengangguk lalu berjalan mengikuti si surai keperakan. Sebuah taman besar menyambut mereka setelah melewati pintu pagar dan Albafica kesulitan untuk menatap lurus ke depan sehingga akhirnya Minos harus menggandeng pacarnya itu agar mereka bisa sampai di teras rumah. Setela...

Reminiscence

Title: Kenangan Fandom: Katekyo Hitman Reborn! x Black Butler Bahasa: Inggris Pairing: Byakuran / Mukuro & Sebastian / Ciel Rating: PG-13 Peringatan: BL, crack, crossover Ketika Mukuro tidur, kadang-kadang dia bermimpi. Terjebak dalam penjara air yang terisolasi adalah tubuh fisiknya, namun bahkan berarti penjara Vendice tidak pernah bisa menahan kebebasan pikirannya yang sangat bebas. Sementara tubuhnya tidur, jiwanya mengembara. Dia berjalan melalui mimpi orang lain di mana mimpi hampir tak terpisahkan apakah mereka hanya kenangan lama atau ilusi. Dia mengembara dalam tidur. Dan kadang-kadang dalam tidur yang lebih dalam dari kematian, ia tenggelam kembali ke kenangan sendiri - kenangan yang begitu tua yang bahkan tidak dikenali oleh tubuh fisiknya. Dalam mimpi, dia hanya seorang anak kecil tapi matanya sudah tidak cocok - warna biru langit dan rubi merah - meskipun tidak ada huruf kanji di mata merah itu. Aneh, dan mungkin yang membuat anak-anak usia ya...

Haru's Haru Haru Dangerous Interview: with Ar Tonereborn cast!

Image
kAuthor's Notes: terinspirasi dari Haru's Haru Haru Interview: Dangerous Love -nya Hana1225 XD Disclaimer: Ar Tonelico series punya GUST n NIS, KHR punya Amano Akira, Ar Tonereborn...entah punya gue ato punya Mimo... -plak- Warning: geje, abal, lebay, OOC, ngaco, ngawur, aneh, script-style, faceset usage, penghancuran imej besar-besaran   ========================================================================== Characters: =============================================================== Minna! Jumpa lagi bersama Haru di acara Haru's Haru Haru Dangerous Interview! SFX: *claps hands* Yak! Hari ini Haru akan mewawancari para pemain Ar Tonereborn: Melody of Mist yang kemarin memenangkan penghargaan Best Movie of the Year di acara Reborn Award(?)! Dari awal, hasilnya udah keliatan sih...soalnya banyak artis KHR universe yang main di situ...   Ahem! Tanpa berbasa-basi lagi, mari kita panggilkan...para tokoh utama Ar Tonereborn!!! -Tsuna c...