Regulus #1
"Oh? Tumben sekali!"
Regulus berjengit kaget kala mendengar suara yang, menurutnya, terlampau ceria itu. Menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mencoba melihat siapa yang baru saja bersuara, tapi tidak bisa menemukannya.
"Tengok ke atas! Ke atas!"
Patuh, ia mendongak dan matanya membelalak lebar kala menemukan seorang—oh, tunggu, makhluk semacamnya tidak tergolong manusia. Seekor? Sebuah? Ah, apapun satuan yang digunakan untuk menghitung—hantu. Hantu berwujud penyihir lelaki muda yang kelihatannya tak jauh lebih tua dari abangnya, yang kini menjalani tahun ke-5 di Hogwarts. Jadi, pemuda itu menjadi hantu ketika masih remaja. Menyedihkan.
"Halo!" Sang hantu perlahan menurunkan ketingiannya di udara hingga matanya bisa menatap langsung mata Regulus. Aneh; meskipun ia tahu bahwa yang berada di hadapannya ini seharusnya sudah lama mati, namun ia merasa tatapan sang hantu begitu... hidup. Penuh semangat. Seolah esensi-esensi kehidupan belum meninggalkannya. "Murid Slytherin, 'kan? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan seorang penghuni asrama Slytherin!"
"Well, kalau kau ingin lebih sering bertemu dengan mereka, kau bisa naik ke permukaan, ke lorong-lorong atau menara-menara kastil," jawab Regulus acuh tak acuh.
Hantu itu tertawa. "Kalau aku bisa, pasti sudah kulakukan."
Kalimat itu membuat Regulus menaikkan sebelah alisnya. "'Kalau bisa'? Kau terperangkap di sini?"
"Kurasa begitu." Lagi, si hantu tertawa melihat ekspresi Regulus atas responnya yang tidak pasti. "Yang jelas, aku tidak bisa keluar dari area duel ini."
Regulus terdiam. Dari hasil mengobrol dengan Profesor Binns, ia tahu kalau hantu adalah roh para penyihir yang telah meninggal, yang memilih untuk tetap tinggal di dunia entah itu karena takut pada kematian atau karena ada suatu alasan kuat lainnya yang membuat mereka tidak ingin meninggalkan dunia. Mereka biasanya bergentayangan di tempat-tempat yang memiliki hubungan erat dengan semasa mereka hidup... atau tempat di mana mereka meninggal.
"Kau tewas di tempat ini?"
Jika sang hantu merasa sedih, maka Regulus harus memberinya acungan jempol karena senyum yang terpampang di wajah wujud berwarna kelabu itu sama sekali tidak berubah. "Begitulah. Tapi, jangan tanya kenapa aku tidak bisa keluar, ya, karena aku sendiri juga tidak mengerti." Ia tertawa lagi. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Ingin melakukan sesuatu yang melanggar aturan sekolah, ya!"
"Enak saja!" Regulus memberengut, kesal karena dituduh yang tidak-tidak. "Aku hanya ingin belajar mantera!"
"Mantera yang aneh-aneh pasti..."
"Bukan!"
"Kalau begitu, mantera yang seharusnya belum boleh kau pelajari? Atau malahan sama sekali tidak boleh kau pelajari?"
"Bisa diam tidak, 'sih? Ini bukan urusanmu, 'kan?"
"Kata siapa? Urusanku, dong. Ini, 'kan, tempat yang aku gentayangi dan aku tidak mau kau menghancurkannya sebelum kau bisa menguasai apa-apa. Lagipula..." Hantu itu melayang rendah hingga seolah-olah kakinya menapak di lantai batu nan berdebu. Tangan kanannya ia gerak-gerakan, memperagakan cara menggoyangkan tongkat sihir jika akan melancarkan kutukan kepada target. "... Ketika aku masih hidup, aku lumayan ahli dalam bidang itu. Professor Kelas Mantera-ku waktu itu juga memujiku berbakat. Bagaimana kalau kau kuajari?"
"Kau?" Regulus mengangkat sebelah alisnya.
"Iya. Aku. Atau... kau keberatan diajari hantu sepertiku?"
Mana mungkin Regulus merasa keberatan diajar hantu. Bagaimana pun, salah satu pengajarnya di Hogwarts juga hantu, dan ia menghormati Profesor Binns meskipun berkali-kali ia nyaris tertidur di kelas beliau.
"... Baiklah." Regulus melihat sang hantu tersenyum girang mendengar jawabannya, dan ia langsung menambahkan, "Tapi jika caramu mengajar tidak membuatku nyaman, maka kau harus diam dan biarkan aku berlatih sendiri."
Ancamannya dibalas dengan cengiran lebar dan anggukan kepala, beserta satu kata: "Deal!"
Regulus berjengit kaget kala mendengar suara yang, menurutnya, terlampau ceria itu. Menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mencoba melihat siapa yang baru saja bersuara, tapi tidak bisa menemukannya.
"Tengok ke atas! Ke atas!"
Patuh, ia mendongak dan matanya membelalak lebar kala menemukan seorang—oh, tunggu, makhluk semacamnya tidak tergolong manusia. Seekor? Sebuah? Ah, apapun satuan yang digunakan untuk menghitung—hantu. Hantu berwujud penyihir lelaki muda yang kelihatannya tak jauh lebih tua dari abangnya, yang kini menjalani tahun ke-5 di Hogwarts. Jadi, pemuda itu menjadi hantu ketika masih remaja. Menyedihkan.
"Halo!" Sang hantu perlahan menurunkan ketingiannya di udara hingga matanya bisa menatap langsung mata Regulus. Aneh; meskipun ia tahu bahwa yang berada di hadapannya ini seharusnya sudah lama mati, namun ia merasa tatapan sang hantu begitu... hidup. Penuh semangat. Seolah esensi-esensi kehidupan belum meninggalkannya. "Murid Slytherin, 'kan? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan seorang penghuni asrama Slytherin!"
"Well, kalau kau ingin lebih sering bertemu dengan mereka, kau bisa naik ke permukaan, ke lorong-lorong atau menara-menara kastil," jawab Regulus acuh tak acuh.
Hantu itu tertawa. "Kalau aku bisa, pasti sudah kulakukan."
Kalimat itu membuat Regulus menaikkan sebelah alisnya. "'Kalau bisa'? Kau terperangkap di sini?"
"Kurasa begitu." Lagi, si hantu tertawa melihat ekspresi Regulus atas responnya yang tidak pasti. "Yang jelas, aku tidak bisa keluar dari area duel ini."
Regulus terdiam. Dari hasil mengobrol dengan Profesor Binns, ia tahu kalau hantu adalah roh para penyihir yang telah meninggal, yang memilih untuk tetap tinggal di dunia entah itu karena takut pada kematian atau karena ada suatu alasan kuat lainnya yang membuat mereka tidak ingin meninggalkan dunia. Mereka biasanya bergentayangan di tempat-tempat yang memiliki hubungan erat dengan semasa mereka hidup... atau tempat di mana mereka meninggal.
"Kau tewas di tempat ini?"
Jika sang hantu merasa sedih, maka Regulus harus memberinya acungan jempol karena senyum yang terpampang di wajah wujud berwarna kelabu itu sama sekali tidak berubah. "Begitulah. Tapi, jangan tanya kenapa aku tidak bisa keluar, ya, karena aku sendiri juga tidak mengerti." Ia tertawa lagi. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Ingin melakukan sesuatu yang melanggar aturan sekolah, ya!"
"Enak saja!" Regulus memberengut, kesal karena dituduh yang tidak-tidak. "Aku hanya ingin belajar mantera!"
"Mantera yang aneh-aneh pasti..."
"Bukan!"
"Kalau begitu, mantera yang seharusnya belum boleh kau pelajari? Atau malahan sama sekali tidak boleh kau pelajari?"
"Bisa diam tidak, 'sih? Ini bukan urusanmu, 'kan?"
"Kata siapa? Urusanku, dong. Ini, 'kan, tempat yang aku gentayangi dan aku tidak mau kau menghancurkannya sebelum kau bisa menguasai apa-apa. Lagipula..." Hantu itu melayang rendah hingga seolah-olah kakinya menapak di lantai batu nan berdebu. Tangan kanannya ia gerak-gerakan, memperagakan cara menggoyangkan tongkat sihir jika akan melancarkan kutukan kepada target. "... Ketika aku masih hidup, aku lumayan ahli dalam bidang itu. Professor Kelas Mantera-ku waktu itu juga memujiku berbakat. Bagaimana kalau kau kuajari?"
"Kau?" Regulus mengangkat sebelah alisnya.
"Iya. Aku. Atau... kau keberatan diajari hantu sepertiku?"
Mana mungkin Regulus merasa keberatan diajar hantu. Bagaimana pun, salah satu pengajarnya di Hogwarts juga hantu, dan ia menghormati Profesor Binns meskipun berkali-kali ia nyaris tertidur di kelas beliau.
"... Baiklah." Regulus melihat sang hantu tersenyum girang mendengar jawabannya, dan ia langsung menambahkan, "Tapi jika caramu mengajar tidak membuatku nyaman, maka kau harus diam dan biarkan aku berlatih sendiri."
Ancamannya dibalas dengan cengiran lebar dan anggukan kepala, beserta satu kata: "Deal!"
Comments
Post a Comment