Posts

Showing posts from October, 2019

僕の不朽恋人 #2

Chapter 2: Ante . . . Lessons starts on the very next day after ceremony day. I pretty much ignore what the lecturers say, as if I'm still half-awake, and comes out of the classes along with everyone. My only purpose to go to campus that day is only one: to go the tennis court after all lessons end.

Belle en het Beest #8

In the Moonlight © aicchan . Rasanya banyak hal telah terjadi dalam satu kali kejapan mata. Pertama-tama Lune memperkenalkan dirinya dan menjelaskan alasan kedatangannya sesingkat mungkin ("Tuan Minos tahu bahwa pihak kalian tidak akan rela menyerahkanmu, Yang Mulia, jadi saya diperintahkan untuk membawa Anda ke sisinya."), lalu, tanpa mengindahkan protes Dohko dan Pefko, menggendongnya seolah-olah dia adalah karung goni dan keluar dari kamarku melalui jalur yang sama dengan saat ia masuk sebelumnya—jendela. Kemudian dalam jangka waktu yang terasa seperti sedetik saja untukku, aku sudah menemukan diriku berada di tengah-tengah kumpulan orang-orang. Ada Shion dan prajurit-prajuritnya. Lalu ada Agasha, terlindungi di belakang salah seorang prajurit, dan tak jauh dari tempat gadis kecil itu berdiri adalah seorang pria berambut putih perak panjang yang dandanannya serupa dengan Lune. Orang yang kuyakin pasti bernama Minos. Sekilas orang itu benar-benar mirip manusia bia...

Belle en het Beest: Scrap 1

It was a topic that arrived to their dining table. On one cold night of late autumn, ten years ago. "When would you marry and let your father steps down from the throne, Your Highness?" Her hand movement stopped midair from putting her spoonful of stew into her mouth when her brain finished processing his sentence. Blue eyes stared wide at the green haired man, and the act was copied by the man sitting on the farthest end of the table—her father, His Royal Majesty the King. It was him who replied to the question. "What brought upon this topic?" "Well, Brother... don't you agree that it's high time to hold a marriage for her?" The man who asked, the King's younger brother, spoke. "The Princess had come to a standard age for royalties like her to find a husband, yet I never saw or even heard stories of her getting close with any of our young noblemen." "We don't have to necessarily follow common traditio...

Why did I come to fall for you?

Why did I come to fall for you? Even though I think that no matter how time flows, you will always be by my side But you chose a different path Why couldn't I convey anything to you? Even though I understand that everyday, every night, this feeling become stronger and words begin to overflow (I can't return anymore) Since the first day we chance upon each other, I realized that I become conscious of you The time we spend together feels way too natural We always go to whatever place together, it's only natural that you are there with me... And then the two of us mature together But you chose a different path Why did I come to fall for you? Even though I think that no matter how time flows, you will always be by my side (I can't go back anymore) The special meaning that today carries, the you who stands with such joyous face today The you who prayed to the god with your beautiful figure With someone who isn't me beside you, your blessed...

Why did I come to fall for you?

. . . One night on the previous week, a mail from Azusa came. It had been awhile since we contacted each other, since both of us are busy with our own careers, so it made me happy when she asked if I'm already out of my office and whether we can meet each other. I sent her a reply that the two of us can meet at the park that we frequently visited, back when we weren't too absorbed with our works, and when she confirmed that she'll be there, I drove my car to said park. A man and a woman meets at the infamously beautiful Inokashira Park at nighttime might sound romantic. Especially because Spring almost comes and the plums had bloomed. But somehow, I don't think that it'll turn into a romantic night for both of us. I arrived earlier and waited for her, sitting on one of the empty benches. The park was rather quiet as the night had grown later. Turned out it actually took awhile for her to reach this place, but I patiently waited, watching the lake and small...

Hanya Isyarat

Dulu, Lugonis berpikir bahwa yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama hanyalah bualan penganut aliran romantis, atau perempuan-perempuan yang khayalannya terlampau manis. Dan yang ia maksud adalah jatuh cinta pada pandangan pertama yang membuat seorang individu rela berjuang keras agar dapat menjalin hubungan intim dengan individu yang menjadi target kasmarannya, hingga mereka berakhir di altar gereja untuk melangsungkan pernikahan, lalu menjalani hidup bahagia sakinah mawadah bersama anak cucu keturunan mereka. Terus bersama hingga akhir hayat, dibawah sumpah yang disaksikan oleh Dewi Hera, saling mencintai dengan tulus ikhlas. Mungkin ini karma karena ia diam-diam menertawakan kisah pasangan-pasangan yang mengaku mengalami hal tersebut. Ia menemukan dirinya merasakan sendiri jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu menyadari hal itu, ia langsung bingung bukan kepalang. Karena apa? Alasan pertamanya adalah ketika ia akhirnya mengalami rasanya jatuh cinta, ia sedan...

Traumatic

Kateikyoushi Hitman Reborn! © Amano Akira Kuroshitsuji © Toboso Yana Psycho-Pass © Production I.G, Funimation Entertainment, Urobuchi Gen . Karena tidak ada kejutan ulang tahun yang lebih baik dari kejutan yang membuat sang birthday boy mengalami trauma, 'kan? . Sudah jadi rahasia umum bahwa Gokudera Hayato membenci Rokudou Mukuro. Karena pria yang memegang separuh hak untuk menyandang gelar sebagai Mist Guardian klan Vongola itu jahat sampai ke inti yang paling dasar. Karena pria itu seorang kriminal kelas atas, bahkan dalam komunitas mafia sendiri. Karena pria itu terus saja mengincar bosnya tercinta bahkan setelah sepuluh tahun berlalu. Karena, kesimpulannya, pria itu eksistensi paling menyebalkan yang pernah ditemui Hayato. Sebisa mungkin Hayato menghindari kontak dengan Mukuro, baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung. Frekuensi kejadian di mana ia berbincang dengan sang ilusionis bisa dihitung dengan jari dan sebagian besar terjadi saat seluruh...

Slow Dance

Roman, Moira, Märchen © Sound Horizon, Revo Inspired by romandehiver and emptyborder. . Imagine your OTP slow-dancing to a love song, with Person A quietly singing the words in Person B’s ear. . Aeolia menguap lebar dan merenggangkan badannya. Jam dinding sudah menunjuk pukul setengah empat, yang artinya ia hanya perlu menunggu tiga puluh menit lagi hingga bisa mengunci pintu perpustakaan, lalu pulang dan menikmati sore menjelang akhir pekan. Ia meninggalkan tempat duduknya di balik meja jaga, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Sekilas, 'sih, tidak ada siapa-siapa. Tapi di antara dua rak di salah satu bagian terdalam perpustakaan, ia tahu ada seorang murid yang mengubur diri di antara tumpukan buku-buku. Wanita berambut pirang itu beranjak, hendak mencari murid yang dimaksud ketika pintu perpustakaan digeser agar membuka lebih lebar dan seorang remaja berkulit pucat dan berambut hitam-perak menyelinap masuk. Pandangan mata mereka saling berte...
MYth © Zelda C. Wang . "Kau pacaran dengan Thanatos?" Eros berhenti memainkan dan memutar-mutar panahnya di udara, berganti memberi tatapan horor kepada gadis yang biasanya menjadi partner-in-crime -nya, yang sering disangka orang sebagai ibu kandungnya. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" "Maksudmu 'apa' itu bagaimana..."

Scent

In the Moonlight © aicchan . . . "Albafica?" Menolehkan kepalanya, ia langsung menemukan sosok pemanggilnya, Camus, berjalan mendekatinya sambil mendorong sebuah troli. Berbagai macam makanan, mulai dari bahan-bahan mentah untuk dimasak hingga cemilan, memenuhi troli tersebut. Albafica tersenyum tipis melihatnya. "Kau dan Kardia ingin hibernasi di dalam apartemen baru kalian atau apa?" Camus tertawa miris. "Milo ingin kami membuat pesta perayaan pindahan dan Kardia setuju saja. Kau tahu mereka tidak akan menerima penolakanku kalau sudah kompakan begitu." Giliran Albafica yang tertawa, pelan dan anggun, dan seketika membuat Camus teringat akan impresi pertamanya ketika dulu ia berpapasan dengan pria berambut biru panjang itu. Pasangan hidup Minos itu, kalau boleh dikatakan secara hiperbolis, adalah manusia paling cantik sejagat raya. Dan pesona yang dimilikinya itu tidak terbatas pada penampilan luarnya, tapi juga dari gerak-geri...

Konstelasi: Aries

Prompt: Cancer  - Both characters get into an argument. Characters: Leo Ilias, Pisces Lugonis . . . "Serahkan surat itu padaku." Ilias mengangkat sebelah alisnya. Tatapannya berpindah-pindah; dari amplop yang baru saja ia temukan tergeletak di lantai dan kini berada di tangannya, kepada Lugonis, lalu kembali ke sang amplop. Amplop sederhana nan tipis berwarna putih yang biasa dijual murah di toko alat tulis. Tidak ada tulisan apa-apa di permukaannya, jadi ia tidak bisa menilai apakah surat ini ditujukan pada Lugonis atau... buatan Lugonis. Ia jadi tidak ingin menyerahkannya. "Maaf, Lugonis, tapi kau harus punya alasan yang jelas kalau kau mau aku menyerahkan surat ini padamu." Lelaki berambut merah bata itu mengerutkan dahinya dalam-dalam. "Kenapa harus begitu? Itu bukan suratmu, kau tidak punya hak untuk seenaknya menentukan aturan itu." "Benar, dan ini juga bukan suratmu, jadi kau tidak punya hak untuk memerintahku agar memberikanny...

Date

Defteros merasa risih. Benar-benar merasa risih. Pasalnya, ia tidak terbiasa melakukan perjalanan dengan menggunakan alat transportasi Muggle dan berjalan di trotoar yang juga digunakan oleh para Muggle. Ia tidak suka karena menurutnya tidak praktis, juga karena para manusia tanpa kekuatan sihir itu memberinya tatapan aneh ketika melihatnya berjalan di area mereka. Wajar, 'sih, kalau mereka menatapnya aneh, karena kemungkinan besar mereka tidak pernah melihat manusia tampan berkulit gelap dengan tinggi 6 kaki lebih sepertinya sepanjang umur mereka. Tapi semua ketidaknyamanan itu ia tahan. Toh, sebentar lagi ia akan sampai di tempat tujuannya: Ipsden House. Kediaman Asmita dan sanak saudaranya.
" Tadaima. " Pengumuman singkat bahwa ia sudah memasuki kediaman itu langsung disambut koor suara bariton. " Okaeri! " Dari asal suaranya, bisa ia duga bahwa seluruh anggota keluarganya sedang berkumpul di ruang makan--well, saat itu memang waktunya makan malam. Biasanya, ia akan langsung mengabaikan sahutan tersebut dan ngeloyor masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Namun, ketika ia sadar bahwa dalam paduan suara dadakan tadi terdapat suara-suara yang sedikit asing di telinga, kakinya langsung membawanya ke ruang yang dimaksud. Segera saja ia menemukan pemilik suara-suara asing tersebut. "Manigoldo dan Angelo...?!" "Yo, Albafica. Kok telat?" Manigoldo menyeringai lebar. ""

Habit

Habit is a little scary. When I realized, I would always turn my head right a few seconds before the hands of the clock hanging on the wall behind the cashier pointed at 8 PM. It seemed my body has remembered, and now able to sense whenever the end of my shift is coming around. Today's not an exception. When I turned my head, I saw that there are only five seconds left before my shift ended. Shifting my gaze to my supervisor, who currently took charge of the cashier, our eyes met and I saw him smiling thinly. He then nodded lightly to my direction, which I took as a sign that it's fine for me to leave. I gave him a bright smile as I lightly bowed to his direction before heading to the staff's changing room to change my uniform into my casual clothes. After I said my good byes to fellow staffs that were also in the room, I made a run to a shop located three buildings away from the cafe where I worked at. This is also a habit. And as if he'd also taken...

EXEC_SPHILIA

Kiafa hynne mea? Pagle tes yor. His voice echoed throughout the whole city. Animals and plants alike swirled ever so lightly, admiring the beautiful voice. The singer closed his lips, have no intentions to continue his song until he heard a reply from a familiar voice. Fou paks ga kiafa hynne yor... Smiling, he opened his mouth and sang: Kiafa sarla pagle tes yor? Silence engulf the time. People pass by, unaware of the sudden change of atmosphere around them. The song continues, followed by the howls and cries from various night animals and vague dances from the plants. Wee paks ga faf yora accrroad mea? , the other inquired. He would smile calmly as usual and replied, Was yea ra pauwel en wael yor. Wee paks ga chs mea? Infel mea, melenas mea There was a long silence, where the animals stopped their cries only to wait for the other's voice to answer his statement. When she spoke, they began to cry in joy once more. Was paks ga chs na mea, the voice stuttered, en pa...

Little Snow pt. 5

"Is that castle the place where the ceremony will be held?"

Scrapped

Pemakaman itu berlangsung khidmat. Begitu khidmat sampai Manigoldo merasa bosan. Banyak orang menghadirinya, mulai dari kalangan prajurit rendah sampai Gold Saint. Meskipun terkenal anti-sosial dan jarang muncul di depan khalayak, kabar tentang segala jasanya semasa ia masih aktif membuat mereka semua menyayangi dan menghormati Lugonis, sama besarnya dengan yang mereka rasakan terhadap Leo Ilias, yang baru saja meninggal dua tahun yang lalu. Manigoldo melirik sekelilingnya. Ia berdiri bersama para Gold Saint lainnya, di belakang Sage-sensei-nya tersayang. Ada Sagittarius Sisyphus, yang berdiri mengapit keponakannya, Regulus, bersama Capricorn El Cid. Ada juga Gemini Aspros, yang akan sesekali melirik ke satu arah—tempat saudara kembarnya, Defteros, secara sembunyi-sembunyi ikut menghadiri upacara pemakaman tersebut. Di sebelahnya berdiri Taurus Hasgard dan Virgo Asmita—dua orang yang baru dilantik menjadi Gold Saint beberapa tahun yang lalu—yang sama-sama khusyuk mendengarkan doa ya...

Scrapped: A-11

Mata Albafica mengerjap malas sementara ia memandangi langit-langit kamarnya. Bukan, bukan karena langit-langit kamarnya didekor dengan amat sangat menarik sehingga ia rela menghabiskan waktu untuk mengamati detil-detilnya, namun lebih dikarenakan saat ini tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain melamun sambil menatap langit-langit. Bagaimanapun, ia baru saja berhasil lolos dari cengkeraman dewa kematian setelah berjuang selama tiga hari tiga malam—atau itulah penjelasan yang diberikan gurunya ketika ia terbangun dan merasakan tubuhnya nyeri dan basah oleh keringat dingin. Susah payah Albafica menggerakan tangan kanannya hingga ia bisa melihat jari-jarinya. Jari-jari yang, perlu ia akui, sama sekali tidak mulus karena terlalu sering bersentuhan dengan duri-duri mawar. Banyak luka gores di sana-sini, namun yang ia perhatikan hanya satu titik: luka yang paling baru, yang tertoreh tiga hari yang lalu. Luka tempat darahnya dan darah gurunya bertukar. Ritual Ikatan Merah, guru...
Dering weker menarik paksa Haru keluar dari alam mimpinya. Menggeram pelan, tangannya malas-malasan bergerak untuk mematikan weker tersebut, lalu perlahan ia bangkit ke posisi duduk dan langsung bertatapan dengan cermin. Selama semenit ia diam, beradu pandang dengan refleksinya sendiri, seolah mengira-ngira siapa sosok berwajah kucel dan rambut berantakan yang tengah menatapnya balik itu, sementara sesungguhnya otaknya telah berfungsi penuh, mengingat-ngingat apa yang telah terjadi kemarin hingga sebelum ia tertidur. Menunduk ke bawah, ditemukannya gumpalan-gumpalan tisu yang telah terpakai berserakan di lantai kamar dan juga seprai kasurnya. Tisu-tisu yang semalam mengeringkan air mata dan ingusnya kini telah kering setelah ia tinggal tidur. Ia menangis, semalam. Menangis hingga air matanya kering, hingga rongga hidungnya dipenuhi mucus, hingga kelenjar air mata dan kelopak matanya lelah hingga tidak kuat membuka dan ia menyerahkan diri dalam buaian Dewa Tidur. Ya... s...

Marriage of Convenience pt. 2

"Chrome?" She snapped out of her thoughts and looked up, staring at the face of the one who called out to her. "Yes, Mukuro-sama?" The navy haired man

[REBORN!] Kuantar Ke Gerbang

Cerita fiksi ini merupakan parodi dari kisah nyata--biografi kisah cinta antara Presiden Sukarno dengan Inggit Garnasih. Hanya diubah agar sesuai dengan Reborn verse, tenang saja. . . . Pria bercambang itu mendongak, menatap papan besar yang didirikan di dekat gerbang kota. Benvenuti a Catania , begitu yang tertulis di papan tersebut. Kota tujuannya. Hanya perlu berjalan sedikit lagi, hingga ia tiba di tempat peristirahatan yang telah ditunjuk, sebelum ia bisa merasa lega dan melepas lelah. Sembari berjalan dan menyeret koper ia mengamati sekelilingnya. Kota yang cukup indah dan, sesuai dengan apa yang ia dengar, cukup damai. Kebanyakan masyarakat yang berkeliaran di jalan saat ini berkendara dengan sepeda, menggunakan kereta kuda, atau berjalan kaki sepertinya. Mereka tertawa-tawa, menikmati apapun yang sedang mereka kerjakan seolah tak merasa terbebani. Sepertinya memang tepat ia memilih untuk melanjutkan studi di sekolah tinggi yang ada di kota ini. Kembali ia terngiang ak...

Love and Hate and Toy

"I want to be with you for eternity." Mukuro blinked at the words. He turned to look up at Dino, staring straight at those determined amber eyes. "What?" "I want to be with you for eternity, Mukuro," the blond repeated. "That's impossible," Mukuro snorted. "You know that I hate mafiosi , and you are one of them—even worse, you're the Don of one of the most influential clans in the whole world. I will be bound to kill you in one way or another, you know." Dino sighed heavily. He inched closer to Mukuro, tracing the outline of the younger's face with his thumb. "I know that." "Then, are you trying to force me to stop hating the mafia again?" "No." One slim eyebrow raised, and again Mukuro inquired. "So?"
In respond to Tsuna and Gokudera's marriage XD . . . "Chrome." She doesn't respond. "Chrome." The voice calling out to her is getting louder by a fraction, yet she still not responding. "Chrome!" It's only after she feels a light poke on her sleeve that she snaps out of her thoughts. "Oh, I'm sorry, Bianchi-san..." the illusionist mutters apologetically. "Did you say something?" The redhead sighs, eyes set to the road in front of her as she says, "You zoned out a lot. Do you feel unwell?" A shake of head, followed by an answer. "No, I'm perfectly fine." "Something bothers you?" "I was just thinking that I should've record the whole process back then, but I'm afraid that Boss will be angry if I do." Bianchi blinks, but then she laughs. "Is that so?" She doesn't question Chrome further afterwards. She fails to realize that sh...
Dering weker menariknya keluar dari alam mimpi. Perlahan kelopak matanya ditarik membuka, memperlihatkan iris mata berwarna sebiru malam yang masih tak begitu fokus. Diabaikannya suara alarm yang masih dengan telaten berbunyi nyaring dan tak sadar bahwa majikannya sesungguhnya sudah terbangun. "... rasanya aku memimpikan sesuatu yang aneh," gumamnya pelan. Ia terus melamun tanpa memperdulikan wekernya--tanpa memperdulikan suara apapun, termasuk suara langkah kaki menapaki anak tangga dan bergegas menyeruak masuk ke dalam kamarnya. "KAK FICAAAA!" Kasurnya serasa anjlok karena berat tambahan dan lamunannya otomatis terputus. Ia berbalik, melihat bocah kecil berusia kurang lebih 8 tahun tersenyum lebar ke arahnya. "Ayo bangun, Kak! Hari ini Ayah memasak spanakorizo untuk sarapan, lho!" "Ngg... Kakak bisa mendengarmu, Regulus. Tidak usah berteriak begitu." Regulus tertawa, menonjolkan kekanakannya, dan bergeser sedikit saat 'Kak Fic...

Re-marriage #2

Pintu kamarnya diketuk dan namanya dipanggil, tapi ia tidak menyahut. Meski berada dalam posisi duduk dengan memeluk lutut di pojok kamar, ia bisa mendengar kenop diputar dan pintu mengayun membuka, disusul langkah kaki yang perlahan mendekatinya. "Aphrodite, mau dengarkan Kakak sebentar?" Tidak ada jawaban afirmatif darinya, tapi ia juga tidak menolak permintaan itu. Dirasakannya Albafica berjongkok di hadapannya, mengelus ubun-ubun kepalanya. "Kalau kamu memang tidak suka Ayah menikah lagi, kamu bisa langsung bilang ke Ayah. Beliau tidak akan marah." "... bukannya tidak suka." "Lantas?" Aphrodite mengangkat kepalanya sedikit, menampakkan mata birunya yang sedikit sembab. ""

Regulus

Teritorial Asrama Slytherin adalah ruang-ruang bawah tanah Hogwarts. Ruang kelas untuk pelajaran Ramuan, ruang kantor Kepala Asrama, ruang rekreasi dan ruang asrama Slytherin—semuanya terletak di bawah tanah. Ada juga sejumlah ruangan lain di bawah tanah yang secara tak langsung menjadi properti mereka, pemanggul panji hijau dengan simbol ular perak itu, tapi pada dasarnya murid-murid Slytherin tidak termasuk tipe yang gemar kongkow, sehingga mereka tidak pernah menggunakan ruangan-ruangan tersebut. Mereka lebih senang berdiam diri di dalam ruang rekreasi mereka yang sejuk sambil melihat pemandangan di dalam danau. Meskipun selalu ada pengecualian. Seperti Regulus, misalnya. Putra bungsu dari pasangan Orion dan Walburga Black itu sejak pertama kali menjejakan kaki di Hogwarts selalu mencari kesempatan untuk mengeksplorasi kompleks sekolahnya yang amat sangat luas nggak pake aja itu—tentunya sambil berhati-hati agar tidak ketahuan dan menghindari teguran baik dari staf sekolah ataup...

Regulus #2

Awalnya, Regulus sedikit malas karena mengira bahwa sang hantu hanya membual. Bagaimanapun, jika ia terbunuh di usia muda dan bergentayangan seperti itu, pasti ilmunya tidak seberapa. Namun, sang hantu berhasil membuktikan klaimnya. Dengan telaten Regulus diajari cara mengayunkan tongkat dan pelafalan mantera yang benar. Ia juga diajari tips dan trik agar konsentrasinya tidak terpecah dan mantera-mantera apa saja yang baik digunakan untuk berduel, tergantung pada level dari lawan yang dihadapai. Singkatnya, sang hantu menjadi guru terbaik yang bisa Regulus minta. Lebih baik daripada Profesor Flitwick, malahan. "Ngomong-ngomong, agak terlambat, sebenarnya, tapi... kenapa kau ingin belajar mantera sampai sebegininya, Regulus?" Pertanyaan itu muncul ketika mereka tengah beristirahat setelah Regulus berhasil menguasai Kutukan Peledak. "Kenapa? Ya, karena..." Regulus menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Aku ingin jadi lebih hebat." "Lal...

Spoiled

Mukuro menoleh ke arah jam dinding. Pukul 10 malam. Suara televisi dari arah ruang tamu belum juga berhenti. Ia menghela napas panjang. "Shougo, sudah waktunya tidur. Matikan televisinya dan bersiaplah untuk naik ke ranjang." Suaranya cukup keras untuk terdengar jelas hingga ke ruang tamu, meski tidak cukup untuk mengejutkan seisi rumah besar yang mereka huni. Namun, tidak ada jawaban seperti yang ia harapkan, dan hal itu membuatnya mengerutkan dahi. Beranjak dari ruang kerjanya yang terletak tepat di samping ruang santai, Mukuro pergi untuk mengecek kondisi putra semata wayangnya itu dan benar saja: Shougo berada di posisi berbaring telungkup di atas sofa panjang favoritnya, dengan pipi beralaskan buku Kumpulan Dongeng Grimm dan mata terpejam rapat. Ia tertidur di tengah-tengah kegiatan kesukaannya—membaca. "Manisnyaaaa." Komentar yang begitu akrab di telinga sampai-sampai ia tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang mengucapkannya. Mukuro se...

His Present: Fluff

Title: His Present: Fluff Category: Anime/Manga » Katekyo Hitman Reborn! Author: Shara Sherenia Language: English, Rating: Rated: T Genre: Family/Humor Published: unknown, Updated: unknown Chapters: 1, Words: unknown Author's Notes: A tribute for Giotto and Tsunayoshi roleplayer in facebook ( Giotto Di Vongola and 沢田綱吉 ), and also a birthday fic for Moe-san xD -frozen- Sorry for not updating my other G27 fic yet. My laptop's broken and I wrote this in a rush, and no, I didn't check for any grammar mistakes, so spare me some mercy!!! ...anyway, enjoy the story ^^ Timeline: Sometimes before Inheritance Ceremony Arc? His Present: Fluff Tsunayoshi plopped down onto his single-poster bed. His hand clutched at a paper that turned out to be a ticket to enter the new swimming pool in the town. He moped, muttering something about 'why he's so unlucky'. To explain why our young Decimo acted like that was because today he was planning to bring Kyoko t...

May's Public Holiday

May's Public Holiday <登場人物> Gyoza……Tangyuan's friend. Tangyuan……Gyoza's friend. She's fond of Moon Cake and treats her like an older sister. Nian Beast (Eve)…… A Nian Beast who lives in Light Kingdom. Moon Cake……Dotes on Tangyuan like she's her younger sister. A friend of Double Scoop twins. Lion's Head……Jing'an Trading Co.'s member. He's fond of Mapo Tofu and treats her like an older sister. Mapo Tofu……The young proprietress of a Chinese restaurant in Jing'an. Mandarin Squirrel Fish……Jing'an Trading Co.'s member. He's fond of Mapo Tofu and treats her like an older sister. Buddha's Temptation……Jing'an Trading Co.'s president. Has a grudge against Heaven's Society. Beggar's Chicken……Jing'an Trading Co.'s member. Loves alcohols. Wuchang Fish……A man who chases after Heaven's Society. He sends the information he obtained to Jing'an Trading Co.. Zongzi……Tangyuan's guar...