[REBORN!] Kuantar Ke Gerbang
Cerita fiksi ini merupakan parodi dari kisah nyata--biografi kisah cinta antara Presiden Sukarno dengan Inggit Garnasih. Hanya diubah agar sesuai dengan Reborn verse, tenang saja.
.
.
.
Pria bercambang itu mendongak, menatap papan besar yang didirikan di dekat gerbang kota. Benvenuti a Catania, begitu yang tertulis di papan tersebut. Kota tujuannya. Hanya perlu berjalan sedikit lagi, hingga ia tiba di tempat peristirahatan yang telah ditunjuk, sebelum ia bisa merasa lega dan melepas lelah.
Sembari berjalan dan menyeret koper ia mengamati sekelilingnya. Kota yang cukup indah dan, sesuai dengan apa yang ia dengar, cukup damai. Kebanyakan masyarakat yang berkeliaran di jalan saat ini berkendara dengan sepeda, menggunakan kereta kuda, atau berjalan kaki sepertinya. Mereka tertawa-tawa, menikmati apapun yang sedang mereka kerjakan seolah tak merasa terbebani. Sepertinya memang tepat ia memilih untuk melanjutkan studi di sekolah tinggi yang ada di kota ini.
Kembali ia terngiang akan ucapan mentornya sebelum ia meninggalkan Palermo.
"Kalau kau sudah sampai di Catania, segera temui kawan-kaan Bapak. Mereka aktivis Cosa Nostra juga, jadi kau tidak usah khawatir dan bisa bebas berdiskusi dengan mereka kalau kau senggang."
Aktivis Cosa Nostra. Ia tidak menyangka di kota sedamai ini tinggal anggota mafia. Meskipun mentornya percaya dengan mereka, ia tidak mungkin segampang itu mempercayai mereka. Terlalu banyak mata-mata, baik dari luar maupun dari dalam. Ia harus pandai memilah-milah, dan tidak boleh langsung mempercayai seseorang hanya karena kawannya sendiri mempercayai orang itu.
"Hei, signor dengan kemeja kuning di sana!"
Ia berhenti, menunduk melihat kemeja kuning nyentrik yang ia kenakan. Seseorang memanggilnya. Siapa gerangan?
Menoleh, ia bisa melihat seorang pria yang tampaknya berasal dari etnis Cina berjalan mendekatinya. Senyumnya ramah, dan logatnya tidak seperti orang Cina sungguhan.
"Kau Reborn, bukan? Menantu Timoteo?"
.
.
.
Pria bercambang itu mendongak, menatap papan besar yang didirikan di dekat gerbang kota. Benvenuti a Catania, begitu yang tertulis di papan tersebut. Kota tujuannya. Hanya perlu berjalan sedikit lagi, hingga ia tiba di tempat peristirahatan yang telah ditunjuk, sebelum ia bisa merasa lega dan melepas lelah.
Sembari berjalan dan menyeret koper ia mengamati sekelilingnya. Kota yang cukup indah dan, sesuai dengan apa yang ia dengar, cukup damai. Kebanyakan masyarakat yang berkeliaran di jalan saat ini berkendara dengan sepeda, menggunakan kereta kuda, atau berjalan kaki sepertinya. Mereka tertawa-tawa, menikmati apapun yang sedang mereka kerjakan seolah tak merasa terbebani. Sepertinya memang tepat ia memilih untuk melanjutkan studi di sekolah tinggi yang ada di kota ini.
Kembali ia terngiang akan ucapan mentornya sebelum ia meninggalkan Palermo.
"Kalau kau sudah sampai di Catania, segera temui kawan-kaan Bapak. Mereka aktivis Cosa Nostra juga, jadi kau tidak usah khawatir dan bisa bebas berdiskusi dengan mereka kalau kau senggang."
Aktivis Cosa Nostra. Ia tidak menyangka di kota sedamai ini tinggal anggota mafia. Meskipun mentornya percaya dengan mereka, ia tidak mungkin segampang itu mempercayai mereka. Terlalu banyak mata-mata, baik dari luar maupun dari dalam. Ia harus pandai memilah-milah, dan tidak boleh langsung mempercayai seseorang hanya karena kawannya sendiri mempercayai orang itu.
"Hei, signor dengan kemeja kuning di sana!"
Ia berhenti, menunduk melihat kemeja kuning nyentrik yang ia kenakan. Seseorang memanggilnya. Siapa gerangan?
Menoleh, ia bisa melihat seorang pria yang tampaknya berasal dari etnis Cina berjalan mendekatinya. Senyumnya ramah, dan logatnya tidak seperti orang Cina sungguhan.
"Kau Reborn, bukan? Menantu Timoteo?"
Comments
Post a Comment