Scrapped: EC-8


Kuil Virgo, satu-satunya yang kuil selain kuil Pisces yang memiliki taman di antara 12 kuil Zodiak, malam itu disulap menjadi tempat pelaksanaan acara ulang tahun kecil-kecilan. Sebuah pohon bambu ditancapkan di tanah. Dahan-dahannya penuh menampung tanzaku bertuliskan aksara-aksara Yunani dan Latin—permohonan para Saint yang sempat menghadiri acara tersebut.

Acara sudah berjalan selama beberapa jam dan karena hari sudah larut, banyak dari hadirin yang undur diri dengan alasan lelah atau ingin bangun pagi untuk latihan esok hari. Hanya beberapa yang masih bertahan di sana, yakni mereka yang sebaya dan memang dekat dengan si bocah yang sedang berulang tahun.

Dan, tentu saja, si bocah yang berulang tahun itu sendiri,.

“Manigoldo.”

Calon pewaris Cancer Cloth itu mendongak, menemukan El Cid berjalan mendekatinya yang sedang duduk di bawah pohon elm. “Masih belum mau pulang dan tidur? Kelihatannya kau sudah tidak tertarik menontoni bintang-bintang.”

Manigoldo mendengus. “Siapa juga yang mood-nya tidak bakal down kalau mendengar mereka meracau tentang astronomi?”

Yang dimaksud dengan mereka adalah kumpulan yang sedang duduk bersama membentuk semacam lingkaran di salah satu sudut taman. Sage, kakak beradik Ilias dan Sisyphus, dan Aspros, yang setahun lebih tua dari El Cid dan berlatih untuk mewarisi Gemini Cloth. Mereka asyik membicarakan tentang pergerakan benda-benda langit, makna yang bisa ditafsirkan dari semua itu, dan masalah-masalah universal yang membuat bocah-bocah seperti El Cid dan Manigoldo pusing bukan main.

“Tapi kau tetap di sini,” El Cid menekankan poin pertanyaan yang ia ajukan setelah ia mendudukan diri di samping kawannya itu. “Kalau kau bosan, kau, ‘kan, bisa langsung pulang. Kenapa kau tetap di sini?”

Selama beberapa saat Manigoldo tidak menjawab. Bukan karena malas, tapi lebih karena ia tidak tahu mau menjawab apa. “Itu...”

“Manigoldo!”

Suara lantang Sisyphus membuat keduanya menoleh. Pemuda berambut cokelat tua itu tersenyum ke arah mereka sembari tangannya menunjuk ke satu arah. Baik El Cid dan Manigoldo melihat ke arah yang ditunjuk dan terkesiap.

Lugonis dan Albafica berdiri di ambang pintu yang menghubungkan kuil Virgo dengan taman tersebut.

El Cid, yang lebih dulu terlepas dari fase keterkejutannya, menyadari bahwa Albafica berlari ke arah tempatnya dan Manigoldo duduk bersama setelah Lugonis sedikit mendorong bahu muridnya itu. Siswa termuda di Sanctuary tersebut memeluk sebuah kotak yang dihias sederhana dengan ikatan pita berwarna merah dan langsung menyodorkannya pada Manigoldo begitu tiba di hadapan si pemuda berambut biru itu.

“Dariku dan Guru.” Ia bersuara, pelan. “Selamat ulang tahun.”

“Ah...” Sedikit canggung, Manigoldo menerima kotak tersebut. “Terima kasih.”

“... kami permisi.”

El Cid dan Manigoldo kembali terkesiap, dan, lagi, pemuda berambut hitam asal Spanyol itulah yang pertama kali berhasil menguasai diri dan bertanya, “Tidak mau tinggal sebentar? Masih ada beberapa makanan tersisa, dan kita bisa main-main dulu sebelum kau kembali ke kuilmu.”

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius