Tsukino Daycare 1
"Nah, Arata. Kau sudah siap?" "Un." "Kalau bertemu yang sebaya, pertama harus menyapa seperti apa?" "Halo. Mutsuki Arata, 4 tahun. Senang berkenalan denganmu." "Yosh. Anak pintar." Meskipun tidak ada perubahan berarti dalam ekspresinya, aku tahu anakku senang ketika kutepuk kepalanya sebagai 'hadiah' atas jawabannya. Kalau biasanya yang seperti ini disebut sebagai insting seorang ibu, maka untuk kasusku kurasa bisa diganti namanya dengan 'insting single father '. "Nah, Aoi-kun. Siap bertemu dengan teman-teman baru, 'kan?" Suara dari samping membuatku menoleh dan melihat seorang pria berambut cokelat berdiri tak jauh dari pintu gerbang daycare . Tangannya digandeng erat oleh seorang bocah berambut keemasan yang kira-kira sebaya dengan Arata. Kulihat bahwa tanpa melepaskan gandengan, pria tersebut berjongkok agar bisa menatap lurus mata si bocah. "Ayah setelah ini harus pergi bekerja. Nan...