Tsukino Daycare 1
"Nah, Arata. Kau sudah siap?"
"Un."
"Kalau bertemu yang sebaya, pertama harus menyapa seperti apa?"
"Halo. Mutsuki Arata, 4 tahun. Senang berkenalan denganmu."
"Yosh. Anak pintar."
Meskipun tidak ada perubahan berarti dalam ekspresinya, aku tahu anakku senang ketika kutepuk kepalanya sebagai 'hadiah' atas jawabannya. Kalau biasanya yang seperti ini disebut sebagai insting seorang ibu, maka untuk kasusku kurasa bisa diganti namanya dengan 'insting single father'.
"Nah, Aoi-kun. Siap bertemu dengan teman-teman baru, 'kan?"
Suara dari samping membuatku menoleh dan melihat seorang pria berambut cokelat berdiri tak jauh dari pintu gerbang daycare. Tangannya digandeng erat oleh seorang bocah berambut keemasan yang kira-kira sebaya dengan Arata. Kulihat bahwa tanpa melepaskan gandengan, pria tersebut berjongkok agar bisa menatap lurus mata si bocah.
"Ayah setelah ini harus pergi bekerja. Nanti kalau sudah waktunya pulang kerja, akan ayah jemput lagi, ya?"
"... Un."
"Selama itu, bersenang-senanglah dengan teman-teman di sini, ya?"
Si bocah tampaknya mengerling ke arah bangunan sekolah, di mana beberapa bocah lain sudah datang dan asyik bermain dengan satu sama lain, sebelum mengangguk ragu. Sepertinya anak itu tipe yang berkebalikan sekali dengan Arata.
Dan ngomong-ngomong soal Arata, begitu sadar ternyata anak itu sudah mendekati si bocah pirang.
"Ne, kamu juga baru masuk?"
Dan tanpa ragu-ragu menyapa, hingga membuat si pirang agak tersentak kaget.
"Arata juga baru hari ini masuk. Ayo masuk bareng!"
Meskipun wajahnya datar, bisa kudengar nada bicaranya yang penuh semangat sementara ia mengulurkan tangan. Yang diajak menatap tangan Arata yang terulur lalu ganti melihat ayahnya, yang segera memberinya senyum untuk membujuk putranya agar menerima uluran tangan tersebut. Akhirnya diterimanya juga uluran tangan Arata, dan detik itu pula Arata separuh menyeret kawan barunya tersebut ke dalam setelah sempat menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya yang bebas,
"Sampai nanti, Papa-san!"
"Ya, sampai nanti," ujarku sambil memampang seringai kecil dan membalas lambaian putraku.
"Aoi-kun, main yang rukun, ya!" Kulihat pria tadi pun turut melambaikan tangannya, meskipun putranya tidak membalas karena sibuk menyamakan langkah dengan Arata.
Setelah itu, pandangan kami bertemu.
Pria itu mengambil inisiatif untuk menyapa duluan, memberiku senyum sambil sedikit membungkuk. "Terima kasih, anak Anda sudah membantu putra saya tadi."
"Tidak masalah. Malah, mungkin saya perlu minta maaf karena putra saya itu agak egois dan pemaksa. Yah, semoga mereka bisa berteman dengan baik."
"Ya, dan semoga kita juga bisa berteman baik."
... Ng?
Mengerjap, kulihat ia mengulurkan tangannya padaku -- seperti mengajak berjabat tangan.
"Sebagai sesama single father yang bekerja dan anaknya dititipkan di sini, bukankah lebih baik jika kita berhubungan baik? Sehingga kita bisa saling menolong jika diperlukan."
Apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Tapi, mudah sekali pria ini mengajak orang lain berteman. Apalagi lawan bicaranya aku -- yang biasanya tidak mudah didekati karena katanya punya pembawaan khas konglomerat. Mungkin dia tidak sadar... atau malah tidak peduli. Mau tidak mau aku jadi tersenyum seraya menjabat tangannya yang terulur.
"Bukan ide yang buruk. Mutsuki Hajime. Senang berkenalan denganmu."
"Yayoi Haru. Senang berkenalan denganmu juga, Mutsuki-san." Uluran tangannya ia tarik kembali setelahnya. "Ah, maaf menghentikanmu dan mengajak bicara. Nanti kau akan menjemput putramu di waktu pulang kerja, 'kan? Sampai bertemu nanti."
"Ya, sampai nanti."
Sama-sama membungkuk sedikit, kami lalu berpisah jalan. Aku menuju mobil yang kuparkirkan tak jauh dari daycare sementara dia ke arah yang berseberangan. Tampaknya tempat kerja yang dimaksudnya jaraknya dekat... atau dia lebih memilih menggunakan kendaraan umum.
Yah, kurasa akan tiba waktunya di mana aku akan tahu lebih banyak tentangnya.
Dengan pikiran seperti itu, kunyalakan mesin mobilku, lalu mengendarainya ke kantor perusahaan tempatku bekerja.
"Un."
"Kalau bertemu yang sebaya, pertama harus menyapa seperti apa?"
"Halo. Mutsuki Arata, 4 tahun. Senang berkenalan denganmu."
"Yosh. Anak pintar."
Meskipun tidak ada perubahan berarti dalam ekspresinya, aku tahu anakku senang ketika kutepuk kepalanya sebagai 'hadiah' atas jawabannya. Kalau biasanya yang seperti ini disebut sebagai insting seorang ibu, maka untuk kasusku kurasa bisa diganti namanya dengan 'insting single father'.
"Nah, Aoi-kun. Siap bertemu dengan teman-teman baru, 'kan?"
Suara dari samping membuatku menoleh dan melihat seorang pria berambut cokelat berdiri tak jauh dari pintu gerbang daycare. Tangannya digandeng erat oleh seorang bocah berambut keemasan yang kira-kira sebaya dengan Arata. Kulihat bahwa tanpa melepaskan gandengan, pria tersebut berjongkok agar bisa menatap lurus mata si bocah.
"Ayah setelah ini harus pergi bekerja. Nanti kalau sudah waktunya pulang kerja, akan ayah jemput lagi, ya?"
"... Un."
"Selama itu, bersenang-senanglah dengan teman-teman di sini, ya?"
Si bocah tampaknya mengerling ke arah bangunan sekolah, di mana beberapa bocah lain sudah datang dan asyik bermain dengan satu sama lain, sebelum mengangguk ragu. Sepertinya anak itu tipe yang berkebalikan sekali dengan Arata.
Dan ngomong-ngomong soal Arata, begitu sadar ternyata anak itu sudah mendekati si bocah pirang.
"Ne, kamu juga baru masuk?"
Dan tanpa ragu-ragu menyapa, hingga membuat si pirang agak tersentak kaget.
"Arata juga baru hari ini masuk. Ayo masuk bareng!"
Meskipun wajahnya datar, bisa kudengar nada bicaranya yang penuh semangat sementara ia mengulurkan tangan. Yang diajak menatap tangan Arata yang terulur lalu ganti melihat ayahnya, yang segera memberinya senyum untuk membujuk putranya agar menerima uluran tangan tersebut. Akhirnya diterimanya juga uluran tangan Arata, dan detik itu pula Arata separuh menyeret kawan barunya tersebut ke dalam setelah sempat menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya yang bebas,
"Sampai nanti, Papa-san!"
"Ya, sampai nanti," ujarku sambil memampang seringai kecil dan membalas lambaian putraku.
"Aoi-kun, main yang rukun, ya!" Kulihat pria tadi pun turut melambaikan tangannya, meskipun putranya tidak membalas karena sibuk menyamakan langkah dengan Arata.
Setelah itu, pandangan kami bertemu.
Pria itu mengambil inisiatif untuk menyapa duluan, memberiku senyum sambil sedikit membungkuk. "Terima kasih, anak Anda sudah membantu putra saya tadi."
"Tidak masalah. Malah, mungkin saya perlu minta maaf karena putra saya itu agak egois dan pemaksa. Yah, semoga mereka bisa berteman dengan baik."
"Ya, dan semoga kita juga bisa berteman baik."
... Ng?
Mengerjap, kulihat ia mengulurkan tangannya padaku -- seperti mengajak berjabat tangan.
"Sebagai sesama single father yang bekerja dan anaknya dititipkan di sini, bukankah lebih baik jika kita berhubungan baik? Sehingga kita bisa saling menolong jika diperlukan."
Apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Tapi, mudah sekali pria ini mengajak orang lain berteman. Apalagi lawan bicaranya aku -- yang biasanya tidak mudah didekati karena katanya punya pembawaan khas konglomerat. Mungkin dia tidak sadar... atau malah tidak peduli. Mau tidak mau aku jadi tersenyum seraya menjabat tangannya yang terulur.
"Bukan ide yang buruk. Mutsuki Hajime. Senang berkenalan denganmu."
"Yayoi Haru. Senang berkenalan denganmu juga, Mutsuki-san." Uluran tangannya ia tarik kembali setelahnya. "Ah, maaf menghentikanmu dan mengajak bicara. Nanti kau akan menjemput putramu di waktu pulang kerja, 'kan? Sampai bertemu nanti."
"Ya, sampai nanti."
Sama-sama membungkuk sedikit, kami lalu berpisah jalan. Aku menuju mobil yang kuparkirkan tak jauh dari daycare sementara dia ke arah yang berseberangan. Tampaknya tempat kerja yang dimaksudnya jaraknya dekat... atau dia lebih memilih menggunakan kendaraan umum.
Yah, kurasa akan tiba waktunya di mana aku akan tahu lebih banyak tentangnya.
Dengan pikiran seperti itu, kunyalakan mesin mobilku, lalu mengendarainya ke kantor perusahaan tempatku bekerja.
Comments
Post a Comment