Konstelasi: Sagittarius

Prompt: Sagittarius  - Character A teaches character B a skill
Characters: Hornet Sonia, Horologium Tokisada

.
.
.

Ini konyol. Konyol. Konyol level raja seluruh lautan di alam semesta ini.

Sejak kecil, ia, yang meskipun anak pertama namun dilahirkan dengan jenis kelamin perempuan, ditakdirkan untuk membantu Eden, adik laki-lakinya yang kelak akan menjadi pemimpin di muka bumi. Untuk masa depan yang akan mereka capai itu, ia mulai belajar segala hal yang diperlukan untuk menjadi petarung yang hebat, agar nantinya ia bisa memerangi siapapun yang mengancam keselamatan sang adik. Kedua orang tuanya mendukung niatnya ini dengan memberinya pelatih-pelatih handal, dan dengan bantuan mereka perlahan-lahan ia berkembang. Meskipun latihan yang ia jalani begitu berat untuk ukuran perempuan, ia tidak pernah mengeluh atau patah semangat, karena ia tahu orang tuanya memilihkan yang terbaik untuknya dan ia ingin mereka merasa bangga saat ia menjadi lebih kuat setelah menjalani semuanya.

Tapi, untuk satu pelatih yang mereka rekomendasikan kali ini, ia mendapat hasrat mendadak untuk mengeluh dan blak-blakan menolak program latihan yang akan dia jalani.

Bagaimana tidak? Pelatihnya kali ini adalah seorang Saint Athena yang baru saja selesai membuktikan loyalitasnya pada Mars setelah membunuh seorang Saint Athena lainnya.

Kalau tidak salah, namanya Tokisada. Toki... cocok sekali dengan Cloth Horologium yang dikenakannya.

Oke, sebenarnya alasannya tidak menyenangi 'persembahan' kedua orang tuanya yang satu ini bukan karena si mentor, bukan. Tapi lebih kepada subyek latihan yang diajarkannya.

"Kalau begitu, Sonia-sama... kita mulai dengan gerakan dasar-"

"Horologium Tokisada."

"-ya, Sonia-sama?"

"Jelaskan dulu padaku kenapa aku harus menjalani latihan dansa ini."

.
.
.

Sebagai seorang Saint Perak, ia tahu bahwa cepat atau lambat ia akan diberi tugas untuk melatih calon Saint, dan ia sudah menyiapkan mental untuk menjadi seorang pengajar yang baik.

Tapi, ia tidak pernah menyangka murid pertamanya bukanlah seorang bocah labil yang terobsesi pada Dewi Athena. Tidak, yang satu ini malah terobsesi pada Mars, dan sama sekali bukan seorang bocah.

Murid pertamanya adalah Hornet Sonia, putri sulung Dewa Perang yang sekarang menggantikan Athena menjadi panutannya. Seseorang yang hanya sedikit lebih muda darinya dan kurang lebih memiliki pangkat yang sama dengannya—atau setidaknya itulah yang ia duga, karena ia masih belum terlalu paham hierarki di dalam tubuh Pasukan Mars.

Jujur saja, Tokisada bukanlah tipe yang nyaman berdekatan dengan perempuan, apalagi jika perempuan itu tidak dekat dengannya. Jadi selama ini ia berharap untuk mendapatkan murid laki-laki saja, meski harapannya itu tidak terkabul.

Oh, satu lagi: ia selalu membayangkan bahwa ia akan mengajarkan pada muridnya teknik bertarungnya yang melibatkan dimensi waktu dan elemen air, bukannya TEKNIK BERDANSA.

Rasa tidak senang rupanya juga dirasakan oleh wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi muridnya itu. Memang tidak dikatakannya langsung, tapi terlihat jelas dari gerak-geriknya dan cara wajahnya—yang ditutupi topeng setengah wajah, namun anehnya tetap bisa ia mengerti seperti apa ekspresi di balik topeng tersebut—menekuk.

Dan untuk pertanyaan pertama yang diajukan bahkan sebelum sesi latihan mereka di mulai oleh wanita berambut merah jambu itu?

"Karena orang tua Anda yang memerintahkannya dan Anda tidak punya kuasa menolak. Bisa kita mulai sekarang?"

Karena semakin cepat mereka memulai, semakin cepat pula mereka selesai.

.
.
.

Lima jam kemudian sesi latihan mereka yang pertama selesai dan Tokisada berhasil membuat Sonia mengingat cara berdansa waltz, namun tidak hanya itu saja yang mereka pelajari selama tiga ratus menit yang melelahkan itu.

Dalam sesi latihan itu Sonia memelajari Tokisada—bahwa ia adalah lelaki yang bisa diandalkan dan pantas untuk dipercaya; bahwa ekspresi kikuk dan malu-malu yang tersembunyi karena masker yang ia kenakan, yang muncul di awal-awal mereka mulai berlatih, membuatnya lumayan manis (meski dia tidak akan pernah mau mengakuinya secara terang-terangan).

Dalam sesi latihan itu Tokisada memelajari Sonia—bahwa ia adalah wanita keras kepala namun bukanlah seseorang yang egois; bahwa di balik keangkuhan dan keseriusan yang ditunjukannya di awal-awal mereka berlatih sesungguhnya tersimpan kelembutan dan kerapuhan seperti wanita pada umumnya, yang (juga tidak akan pernah ia akui secara frontal) menurutnya begitu manis.

Dalam sesi latihan itu, mereka menemukan sedikit ketertarikan pada satu sama lain, dan pertanyaan-pertanyaan mengenai rasa aneh yang membingungkan, yang mereka tujukan pada diri mereka sendiri-sendiri, membuat keduanya melupakan rasa tak senang dan tak nyaman yang bertengger sebelum hubungan guru dan murid mereka dimulai.

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu