[CavaAla] Untitled chapter 2
"Alaude?" "Apa." "Tersenyumlah sedikit." Permintaan itu membuat sang pemilik surai berwarna platinum blonde itu mendelik ke arah lawan bicaranya. Yang dipelototi hanya tertawa pelan, tampak tak terintimidasi sama sekali. "Aku tahu kau masih kesal dengan peristiwa yang terjadi di kantormu tempo hari," si lawan bicara—seorang pria dengan surai keemasan dan iris oranye senja—melipat kedua tangannya di depan dada, masih tersenyum sembari menatap Alaude, "tapi kau bisa melupakan masalah itu barang sejenak, 'kan?" Alaude mendengus, tidak membalas apa-apa. Ia menoleh melihat ke luar jendela, menyadari bahwa pemandangan di luar sana dipenuhi oleh pepohonan tinggi, tanda bahwa mereka menjauhi area perkotaan. Giotto memang mengatakan bahwa mereka akan mendatangi tempat salah seorang koleganya, tapi tidak menjelaskan di mana tepatnya sang kolega tinggal. Dan, ya. Hanya ada mereka berdua di dalam kereta kuda itu. Yang mengendalikan...