Posts

Showing posts from November, 2011

[CavaAla] Untitled chapter 2

"Alaude?" "Apa." "Tersenyumlah sedikit." Permintaan itu membuat sang pemilik surai berwarna platinum blonde itu mendelik ke arah lawan bicaranya. Yang dipelototi hanya tertawa pelan, tampak tak terintimidasi sama sekali. "Aku tahu kau masih kesal dengan peristiwa yang terjadi di kantormu tempo hari," si lawan bicara—seorang pria dengan surai keemasan dan iris oranye senja—melipat kedua tangannya di depan dada, masih tersenyum sembari menatap Alaude, "tapi kau bisa melupakan masalah itu barang sejenak, 'kan?" Alaude mendengus, tidak membalas apa-apa. Ia menoleh melihat ke luar jendela, menyadari bahwa pemandangan di luar sana dipenuhi oleh pepohonan tinggi, tanda bahwa mereka menjauhi area perkotaan. Giotto memang mengatakan bahwa mereka akan mendatangi tempat salah seorang koleganya, tapi tidak menjelaskan di mana tepatnya sang kolega tinggal. Dan, ya. Hanya ada mereka berdua di dalam kereta kuda itu. Yang mengendalikan...

恋人を殺したの日 (The Day I Murder My Lover)

Merah. Merah pekat. Warna cairan tubuh yang mengalir keluar dari luka yang kubuat saat kuhujam dada kananmu dengan belati yang sampai saat ini masih kugenggam erat. Entah mengapa... ada sedikit rasa segar merasukiku saat aku melihat tubuhmu menggeliat sementara kau kesulitan bernapas. Entah mengapa... ada euforia aneh yang makin merebak luas seiring dengan berjalannya waktu, meracuni akal sehatku, sementara wajahmu semakin memucat, kesakitan. Aku berlutut di sampingmu, merunduk, mendekatkan wajahku dengan wajahmu. Napasmu berat, terengah. Sorot matamu tajam menatapku, penuh benci dan bersit dendam. Marah padaku? Kenapa? Bukankah kau memang pantas mendapat perlakuan seperti ini? Kau terlihat sangat indah, sayang. Seandainya kau bisa melihat dirimu sendiri, maka akan kau sadari itu. Bagaimana kulitmu yang semakin memucat, juga surai seputih salju yang membuatmu terlihat unik di mata khalayak umum, ternoda oleh darahmu sendiri. Sekali lagi ku jatuh cinta padamu. ...

[CavaAla] Untitled chapter 1

"Dingin..." Merapatkan jaketnya dalam usahanya untuk menghangatkan diri, detektif dengan rambut berwarna platinum blond itu bersikukuh untuk tetap tinggal di tempatnya berdiri sekarang—merapat pada dinding kusam sebuah bangunan tua, di dekat pelabuhan tak terpakai Sisilia. Uap menguar keluar tiap kali ia menghembuskan napasnya, menandakan rendahnya suhu udara malam itu. Tapi ia tidak peduli. Ia harus tetap tinggal di sana, menunggu dan waspada agar dapat dengan sigap menangkap targetnya. Menyelipkan tangannya ke dalam kantong mantelnya, ia meraih selembar foto dan menggunakan bantuan cahaya bulan untuk melihat gambar yang terdapat di sana. Gambar wajah seorang pria dengan penampilan sedikit urakan—rambut merah kusam berantakan, jenggot yang tak dicukur dan tatapan mata seolah jengkel. Memang ada kemungkinan besar targetnya akan mengubah penampilannya secara total agar tidak dikenali, tapi tanda lahir di bawah mata kirinya tidak akan bisa dihilangkan. Bunyi sol sepatu...