[CavaAla] Untitled chapter 1
"Dingin..."
Merapatkan jaketnya dalam usahanya untuk menghangatkan diri, detektif dengan rambut berwarna platinum blond itu bersikukuh untuk tetap tinggal di tempatnya berdiri sekarang—merapat pada dinding kusam sebuah bangunan tua, di dekat pelabuhan tak terpakai Sisilia. Uap menguar keluar tiap kali ia menghembuskan napasnya, menandakan rendahnya suhu udara malam itu.
Tapi ia tidak peduli. Ia harus tetap tinggal di sana, menunggu dan waspada agar dapat dengan sigap menangkap targetnya.
Menyelipkan tangannya ke dalam kantong mantelnya, ia meraih selembar foto dan menggunakan bantuan cahaya bulan untuk melihat gambar yang terdapat di sana. Gambar wajah seorang pria dengan penampilan sedikit urakan—rambut merah kusam berantakan, jenggot yang tak dicukur dan tatapan mata seolah jengkel. Memang ada kemungkinan besar targetnya akan mengubah penampilannya secara total agar tidak dikenali, tapi tanda lahir di bawah mata kirinya tidak akan bisa dihilangkan.
Bunyi sol sepatu bertemu lantai batu yang keras mengalihkan perhatiannya dari foto itu. Segera ia masukkan kembali foto tersebut ke dalam kantong, dan sebagai gantinya ia menarik keluar sebuah borgol, berhati-hati agar tidak menimbulkan bunyi gemerincing yang dapat memberitahukan keberadaannya kepada orang tak dikenal itu.
Menduga dari cara orang itu berusaha melangkah tanpa menimbulkan banyak suara, dapat dipastikan bahwa ia orang yang cukup terlatih—untuk membunuh atau untuk hal lain, pria blonde itu tidak tahu. Besar kemungkinan, orang itulah yang sedang diburunya saat ini.
Orang baru itu berjalan tenang menerobos gang kecil tempat sang detektif menyembunyikan diri, tampak benar-benar tak sadar bahwa ada seseorang di sana, mengamati. Ketika pada akhirnya ia tiba di ujung gang, di mana cahaya bulan lebih leluasa menyinarinya, barulah diketahui bahwa orang itu memiliki rambut hitam eboni sebahu yang dibiarkan sedikit berantakan. Perawakan si pendatang itu tinggi kurus, meski bisa dilihat bahwa ia memiliki otot yang cukup kuat.
Sang detektif tidak bisa melihat terlalu jelas karena terhalangi oleh kerah kemeja putih dan jaket hitam yang dikenakan orang itu, tapi samar ia melihat warna biru dari leher orang itu. Warna biru yang membentuk gambar menyerupai semacam tato...
Preman?
Dari yang ia tahu, beberapa begundal Sisilia ada yang gemar menatokan diri mereka dengan gambar-gambar aneh. Mereka gemar berbuat onar dengan mengaku bahwa mereka bekerja di bawah sebuah organisasi kriminal dan akan melakukan tindakan ekstrim untuk mendapatkan sesuatu, meskipun pada kenyataannya mereka hanyalah orang-orang salah jalan pecandu obat-obatan yang memang disuplai oleh organisasi kriminal—mafia.
Selama beberapa saat, pria blonde itu menimbang-nimbang, apakah ia akan menangkap orang itu atau tidak. Kalau ia tangkap dan giring ke kantornya, besar kemungkinan kalau ia akan kehilangan kesempatan untuk menangkap target yang sudah diburunya selama beberapa minggu. Kalau ia biarkan saja... rasa keadilannya tidak akan terpuaskan.
Pikirannya terpecah saat ia mendengar bunyi pistol dikokang, dan fokusnya terarah pada pria berambut eboni itu. Selama ia berpikir, rupanya ada seorang lagi yang muncul. Seseorang yang, berkat tahi lalat di bawah mata kiri itu, ia kenali sebagai target buruannya—pengkhianat Omerta bernama Marco.
"Marco." Ia mendengar si rambut eboni itu memulai pembicaraan. "Begitu caramu menyapa kawan lama? Dengan menodongkan pistol?"
Ekspresi wajah Marco saat itu tampak tak beraturan. Antara merasa bersalah, takut, dan marah. Tangan yang memegang pelatuk revolver gemetar itu, seperti ragu untuk menariknya.
"Tidak mau langsung menembakku?" Pria di hadapannya angkat bicara sekali lagi. "Apa yang kau takutkan? Bukankah kau sudah cukup berani menjual rahasia famiglia kita dan juga menjual senjata tanpa sepengetahuan kami?"
"Di-diam!" Marco memberanikan diri untuk berteriak—tak cukup keras untuk terdengar oleh hiruk pikuk kota. Tangannya masih gemetar, namun perlahan jari telunjuknya mulai menekan pelatuk. "Aku harus melakukannya! Kau tidak akan bisa mengerti, orang yang memiliki segalanya seperti kau!"
Pelatuk akhirnya tertarik sepenuhnya. Peluru termuntahkan, namun entah karena bidikan Marco yang payah atau tangannya yang gemetar membuat tembakannya meleset, peluru itu berakhir menancap pada tembok di belakang si rambut eboni. Sebelum Marco bisa melakukan tembakkan kedua, lecutan cambuk mengenai pergelangan tangannya, sukses membuatnya melepaskan pegangannya pada revolver itu. Dengan sigap, pria bertato itu meraih pistol yang tergeletak, menjauhkannya dari jangkauan tangan Marco.
"Meskipun aku tidak bisa mengerti," orang itu memutar pistol yang dirampasnya, sementara tangannya yang memegang cambuk mengaitkan kembali senjatanya itu ke sabuknya, "Tapi aku bisa mendengarkan, dan ikut membantu mencarikan solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang kau hadapi, Marco."
Marco diam selama beberapa saat, sedikit meringis karena pergelangan tangannya masih sakit. Namun tampaknya ia benar-benar tidak bisa diajak berkompromi, karena kini, setelah senjatanya dijauhkan darinya, ia membalikkan diri dan hendak kabur keluar area pelabuhan. Tindakan bodoh, karena sesungguhnya ia tidak dapat kabur dari kejaran pemburunya.
"Tidak ada yang dapat lolos setelah melanggar Omerta, Marco."
Si rambut eboni menekan pelatuk revolver yang digenggamnya, dengan laras membidik si rambut merah. Sepersekian setelah bunyi tembakan terdengar, tubuh Marco rubuh, terhempas ke tanah. Darah mengalir keluar belakang kepalanya, mengotori lantai pelabuhan. Sang penembak menghela napas, tampak sedikit menyesal namun toh menyelipkan pistol itu ke dalam saku di balik jaketnya.
Ia baru saja akan meninggalkan area tersebut ketika bunyi klik pelan mencapai indera pendengarannya dan rasa metal dingin bertemu kontak dengan kulitnya. Melirik ke arah tangan kanannya, ia mendapati pergelangan tangannya dipasangi borgol.
"Kau ditangkap atas tuduhan membunuh, membawa senjata api, dan memasang tato pada tubuhmu."
Suara tegas nan dingin itu membuat si rambut eboni mengalihkan pandangannya sedikit ke belakang, di mana detektif dengan surai berwarna platinum blond itu memegang ujung lain borgol. Iris sebiru esnya menatap tajam tahanan barunya tanpa ampun.
"Ikut aku ke kantor polisi, sekarang."
.
.
.
"Oh, Signor Alaude. Selamat datang kembali."
Alaude, sang detektif, membalas sapaan dari anak buahnya dengan anggukan pelan. Tanpa memedulikan tatapan penasaran dari mereka yang melihatnya masuk ke dalam kantor bersama orang lain, ia menyeret si rambut eboni yang kedua tangannya kini terikat oleh borgol agar masuk ke dalam ruang interogasi dan mendudukannya secara paksa di salah satu kursi yang tersedia, yang diletakkan tepat di bawah lampu gantung.
Ruangan itu begitu gelap setelah Alaude menutup pintu, dengan lampu yang berada di atas si rambut eboni sebagai satu-satunya sumber penerangan.
"Jadi, kau mau menginterogasiku seperti apa, Tuan Detektif? Bukankah aku sudah menceritakan semuanya padamu dalam perjalanan kemari?" tanya sang terdakwa, memasang senyum inosen.
Alaude mendengus. Ya, selama perjalanan mereka dari pelabuhan hingga ke kantor polisi yang dikuasai oleh dirinya seorang, si rambut eboni memberikan 'pengakuan' padanya. Pengakuan dalam dua tanda kutip, karena Alaude yakin bahwa orang itu mengarang semuanya. Hanya berjalan-jalan, bertemu si rambut merah yang terbunuh itu secara tidak sengaja dan menembak dalam usahanya membela diri? Seperti Alaude akan percaya dengan bualan itu. Bahkan Lampo bisa mengarang cerita yang lebih realistis daripada itu.
"Ayolah, lepaskan aku, ya?" Si rambut eboni itu kembali bersuara. "Akan kuserahkan pistol yang kudapatkan tadi, tapi tolong lepaskan aku."
"Kau pikir dosamu membunuh seseorang dapat dihapuskan dengan bayaran 'menyerahkan senjata api'?" Alaude mulai membalas, berdiri di dalam bayangan, tak tampak oleh pandangan mata tahanannya. "Sebelum kau melantur lebih jauh, sebutkan namamu dan asalmu."
Ada jeda selama sepersekian detik sebelum jawaban didapatkannya. "Alessio. Salah satu preman yang bekerja untuk mafia di Palermo."
Oh. Seperti aku akan tertipu saja.
"Alessio," sang detektif mengulang nama itu dan melanjutkan, "Kau tahu siapa yang kau bunuh malam ini?"
"Preman, sama sepertiku? Pistol yang kurampas darinya pasti di dapatnya dari mafia yang menaunginya."
"Preman, hm. Baru kutahu ada preman yang mengerti, bahkan peduli, pada Omerta."
Dapat dilihatnya bahwa Alessio menoleh ke arahnya, ke tempat ia berdiri. Iris dengan warna menyerupai anggur merah itu seolah tanpa ekspresi, tampak kontras dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya.
"Sejak kapan kau ada di sana dan mendengarkan obrolan kami, Tuan Detektif?"
"Sejak orang yang kau bunuh itu muncul dan kau mencoba mengajaknya bicara," jawab Alaude kalem. Melipat kedua tangannya di depan dada, ia melanjutkan, "Percuma saja kau mencoba membohongiku, 'Allesi—'"
Suara ledakan yang tampaknya berasal dari pintu masuk bangunan yang kini mereka tempati itu membuat Alaude berhenti bicara, membiarkan kalimatnya menggantung. Membuka pintu ruang interogasi dan melongokkan kepalanya keluar untuk melihat apa yang terjadi, namun yang menyambutnya adalah asap yang memenuhi koridor.
"Matteo! Emilio! Stai bene*?!" Alaude berteriak sambil menutup setengah wajahnya dengan tangan agar tidak menghirup asap.
Tidak ada jawaban. Ia bisa mendengar samar suara terbatuk-batuk, tapi tidak ada suara lain lagi.
Geram, ia berbalik mendekati Alessio, menyambung borgol yang mengikat kedua pergelangan tangan sang tahanan dengan borgol lain lalu mengaitkannya pada kaki kursi, menahan agar si rambut eboni itu tidak dapat kabur. Setelahnya, tanpa berkata apa-apa lagi, Alaude berlari keluar ruangan untuk memastikan apakah anak buahnya aman-aman saja.
Alessio, yang matanya terus mengikuti gerakan Alaude hingga akhirnya sang detektif menghilang dari pandangan, menoleh ke arah jendela. Jendela itu bergeser, dan setelah menciptakan ruang cukup lebar untuk dilewati, seorang pria dengan rambut hitam yang dipotong cepak melompat masuk ke dalam ruang interogasi itu.
"Lama sekali, Luigi."
"Maaf. Aku harus mencari tempatmu disekap ini dulu, Boss," balas orang yang dipanggil sebagai Luigi oleh Alessio. Ia mendekati si rambut eboni, mengeluarkan pistolnya, dan menembaki rantai borgol yang menahan Alessio hingga rusak.
Menghela napas lega setelah merasakan bahwa ia bisa menggerakkan kedua tangannya dengan leluasa, Alessio melihat sekeliling, mencari di mana cambuk miliknya dan pistol milik Marco diletakkan oleh Alaude. Setelah menemukan kedua benda tersebut, ia menoleh ke arah Luigi, yang sudah bersiap untuk keluar melalui jendela lagi.
"Di luar aman, 'kan?"
"Ya. Kita bisa kabur lewat jalan belakang supaya tidak terlihat oleh orang-orang di kantor ini."
"Baguslah."
Melirik sekilas ke arah pintu yang sedikit terbuka, Alessio masih bisa melihat asap mengepul memenuhi koridor, meski tampaknya mulai menipis. Menyunggingkan seringai tipis, ia berbisik seraya berbalik dan mendekati jendela, mengikuti jejak Luigi yang telah melompat keluar dari ruang interogasi.
"Ci vediamo**, Alaude."
.
.
.
*Stai bene?: apa kau / kalian baik-baik saja?
**Ci vediamo: sampai bertemu (lagi)
Merapatkan jaketnya dalam usahanya untuk menghangatkan diri, detektif dengan rambut berwarna platinum blond itu bersikukuh untuk tetap tinggal di tempatnya berdiri sekarang—merapat pada dinding kusam sebuah bangunan tua, di dekat pelabuhan tak terpakai Sisilia. Uap menguar keluar tiap kali ia menghembuskan napasnya, menandakan rendahnya suhu udara malam itu.
Tapi ia tidak peduli. Ia harus tetap tinggal di sana, menunggu dan waspada agar dapat dengan sigap menangkap targetnya.
Menyelipkan tangannya ke dalam kantong mantelnya, ia meraih selembar foto dan menggunakan bantuan cahaya bulan untuk melihat gambar yang terdapat di sana. Gambar wajah seorang pria dengan penampilan sedikit urakan—rambut merah kusam berantakan, jenggot yang tak dicukur dan tatapan mata seolah jengkel. Memang ada kemungkinan besar targetnya akan mengubah penampilannya secara total agar tidak dikenali, tapi tanda lahir di bawah mata kirinya tidak akan bisa dihilangkan.
Bunyi sol sepatu bertemu lantai batu yang keras mengalihkan perhatiannya dari foto itu. Segera ia masukkan kembali foto tersebut ke dalam kantong, dan sebagai gantinya ia menarik keluar sebuah borgol, berhati-hati agar tidak menimbulkan bunyi gemerincing yang dapat memberitahukan keberadaannya kepada orang tak dikenal itu.
Menduga dari cara orang itu berusaha melangkah tanpa menimbulkan banyak suara, dapat dipastikan bahwa ia orang yang cukup terlatih—untuk membunuh atau untuk hal lain, pria blonde itu tidak tahu. Besar kemungkinan, orang itulah yang sedang diburunya saat ini.
Orang baru itu berjalan tenang menerobos gang kecil tempat sang detektif menyembunyikan diri, tampak benar-benar tak sadar bahwa ada seseorang di sana, mengamati. Ketika pada akhirnya ia tiba di ujung gang, di mana cahaya bulan lebih leluasa menyinarinya, barulah diketahui bahwa orang itu memiliki rambut hitam eboni sebahu yang dibiarkan sedikit berantakan. Perawakan si pendatang itu tinggi kurus, meski bisa dilihat bahwa ia memiliki otot yang cukup kuat.
Sang detektif tidak bisa melihat terlalu jelas karena terhalangi oleh kerah kemeja putih dan jaket hitam yang dikenakan orang itu, tapi samar ia melihat warna biru dari leher orang itu. Warna biru yang membentuk gambar menyerupai semacam tato...
Preman?
Dari yang ia tahu, beberapa begundal Sisilia ada yang gemar menatokan diri mereka dengan gambar-gambar aneh. Mereka gemar berbuat onar dengan mengaku bahwa mereka bekerja di bawah sebuah organisasi kriminal dan akan melakukan tindakan ekstrim untuk mendapatkan sesuatu, meskipun pada kenyataannya mereka hanyalah orang-orang salah jalan pecandu obat-obatan yang memang disuplai oleh organisasi kriminal—mafia.
Selama beberapa saat, pria blonde itu menimbang-nimbang, apakah ia akan menangkap orang itu atau tidak. Kalau ia tangkap dan giring ke kantornya, besar kemungkinan kalau ia akan kehilangan kesempatan untuk menangkap target yang sudah diburunya selama beberapa minggu. Kalau ia biarkan saja... rasa keadilannya tidak akan terpuaskan.
Pikirannya terpecah saat ia mendengar bunyi pistol dikokang, dan fokusnya terarah pada pria berambut eboni itu. Selama ia berpikir, rupanya ada seorang lagi yang muncul. Seseorang yang, berkat tahi lalat di bawah mata kiri itu, ia kenali sebagai target buruannya—pengkhianat Omerta bernama Marco.
"Marco." Ia mendengar si rambut eboni itu memulai pembicaraan. "Begitu caramu menyapa kawan lama? Dengan menodongkan pistol?"
Ekspresi wajah Marco saat itu tampak tak beraturan. Antara merasa bersalah, takut, dan marah. Tangan yang memegang pelatuk revolver gemetar itu, seperti ragu untuk menariknya.
"Tidak mau langsung menembakku?" Pria di hadapannya angkat bicara sekali lagi. "Apa yang kau takutkan? Bukankah kau sudah cukup berani menjual rahasia famiglia kita dan juga menjual senjata tanpa sepengetahuan kami?"
"Di-diam!" Marco memberanikan diri untuk berteriak—tak cukup keras untuk terdengar oleh hiruk pikuk kota. Tangannya masih gemetar, namun perlahan jari telunjuknya mulai menekan pelatuk. "Aku harus melakukannya! Kau tidak akan bisa mengerti, orang yang memiliki segalanya seperti kau!"
Pelatuk akhirnya tertarik sepenuhnya. Peluru termuntahkan, namun entah karena bidikan Marco yang payah atau tangannya yang gemetar membuat tembakannya meleset, peluru itu berakhir menancap pada tembok di belakang si rambut eboni. Sebelum Marco bisa melakukan tembakkan kedua, lecutan cambuk mengenai pergelangan tangannya, sukses membuatnya melepaskan pegangannya pada revolver itu. Dengan sigap, pria bertato itu meraih pistol yang tergeletak, menjauhkannya dari jangkauan tangan Marco.
"Meskipun aku tidak bisa mengerti," orang itu memutar pistol yang dirampasnya, sementara tangannya yang memegang cambuk mengaitkan kembali senjatanya itu ke sabuknya, "Tapi aku bisa mendengarkan, dan ikut membantu mencarikan solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang kau hadapi, Marco."
Marco diam selama beberapa saat, sedikit meringis karena pergelangan tangannya masih sakit. Namun tampaknya ia benar-benar tidak bisa diajak berkompromi, karena kini, setelah senjatanya dijauhkan darinya, ia membalikkan diri dan hendak kabur keluar area pelabuhan. Tindakan bodoh, karena sesungguhnya ia tidak dapat kabur dari kejaran pemburunya.
"Tidak ada yang dapat lolos setelah melanggar Omerta, Marco."
Si rambut eboni menekan pelatuk revolver yang digenggamnya, dengan laras membidik si rambut merah. Sepersekian setelah bunyi tembakan terdengar, tubuh Marco rubuh, terhempas ke tanah. Darah mengalir keluar belakang kepalanya, mengotori lantai pelabuhan. Sang penembak menghela napas, tampak sedikit menyesal namun toh menyelipkan pistol itu ke dalam saku di balik jaketnya.
Ia baru saja akan meninggalkan area tersebut ketika bunyi klik pelan mencapai indera pendengarannya dan rasa metal dingin bertemu kontak dengan kulitnya. Melirik ke arah tangan kanannya, ia mendapati pergelangan tangannya dipasangi borgol.
"Kau ditangkap atas tuduhan membunuh, membawa senjata api, dan memasang tato pada tubuhmu."
Suara tegas nan dingin itu membuat si rambut eboni mengalihkan pandangannya sedikit ke belakang, di mana detektif dengan surai berwarna platinum blond itu memegang ujung lain borgol. Iris sebiru esnya menatap tajam tahanan barunya tanpa ampun.
"Ikut aku ke kantor polisi, sekarang."
.
.
.
"Oh, Signor Alaude. Selamat datang kembali."
Alaude, sang detektif, membalas sapaan dari anak buahnya dengan anggukan pelan. Tanpa memedulikan tatapan penasaran dari mereka yang melihatnya masuk ke dalam kantor bersama orang lain, ia menyeret si rambut eboni yang kedua tangannya kini terikat oleh borgol agar masuk ke dalam ruang interogasi dan mendudukannya secara paksa di salah satu kursi yang tersedia, yang diletakkan tepat di bawah lampu gantung.
Ruangan itu begitu gelap setelah Alaude menutup pintu, dengan lampu yang berada di atas si rambut eboni sebagai satu-satunya sumber penerangan.
"Jadi, kau mau menginterogasiku seperti apa, Tuan Detektif? Bukankah aku sudah menceritakan semuanya padamu dalam perjalanan kemari?" tanya sang terdakwa, memasang senyum inosen.
Alaude mendengus. Ya, selama perjalanan mereka dari pelabuhan hingga ke kantor polisi yang dikuasai oleh dirinya seorang, si rambut eboni memberikan 'pengakuan' padanya. Pengakuan dalam dua tanda kutip, karena Alaude yakin bahwa orang itu mengarang semuanya. Hanya berjalan-jalan, bertemu si rambut merah yang terbunuh itu secara tidak sengaja dan menembak dalam usahanya membela diri? Seperti Alaude akan percaya dengan bualan itu. Bahkan Lampo bisa mengarang cerita yang lebih realistis daripada itu.
"Ayolah, lepaskan aku, ya?" Si rambut eboni itu kembali bersuara. "Akan kuserahkan pistol yang kudapatkan tadi, tapi tolong lepaskan aku."
"Kau pikir dosamu membunuh seseorang dapat dihapuskan dengan bayaran 'menyerahkan senjata api'?" Alaude mulai membalas, berdiri di dalam bayangan, tak tampak oleh pandangan mata tahanannya. "Sebelum kau melantur lebih jauh, sebutkan namamu dan asalmu."
Ada jeda selama sepersekian detik sebelum jawaban didapatkannya. "Alessio. Salah satu preman yang bekerja untuk mafia di Palermo."
Oh. Seperti aku akan tertipu saja.
"Alessio," sang detektif mengulang nama itu dan melanjutkan, "Kau tahu siapa yang kau bunuh malam ini?"
"Preman, sama sepertiku? Pistol yang kurampas darinya pasti di dapatnya dari mafia yang menaunginya."
"Preman, hm. Baru kutahu ada preman yang mengerti, bahkan peduli, pada Omerta."
Dapat dilihatnya bahwa Alessio menoleh ke arahnya, ke tempat ia berdiri. Iris dengan warna menyerupai anggur merah itu seolah tanpa ekspresi, tampak kontras dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya.
"Sejak kapan kau ada di sana dan mendengarkan obrolan kami, Tuan Detektif?"
"Sejak orang yang kau bunuh itu muncul dan kau mencoba mengajaknya bicara," jawab Alaude kalem. Melipat kedua tangannya di depan dada, ia melanjutkan, "Percuma saja kau mencoba membohongiku, 'Allesi—'"
Suara ledakan yang tampaknya berasal dari pintu masuk bangunan yang kini mereka tempati itu membuat Alaude berhenti bicara, membiarkan kalimatnya menggantung. Membuka pintu ruang interogasi dan melongokkan kepalanya keluar untuk melihat apa yang terjadi, namun yang menyambutnya adalah asap yang memenuhi koridor.
"Matteo! Emilio! Stai bene*?!" Alaude berteriak sambil menutup setengah wajahnya dengan tangan agar tidak menghirup asap.
Tidak ada jawaban. Ia bisa mendengar samar suara terbatuk-batuk, tapi tidak ada suara lain lagi.
Geram, ia berbalik mendekati Alessio, menyambung borgol yang mengikat kedua pergelangan tangan sang tahanan dengan borgol lain lalu mengaitkannya pada kaki kursi, menahan agar si rambut eboni itu tidak dapat kabur. Setelahnya, tanpa berkata apa-apa lagi, Alaude berlari keluar ruangan untuk memastikan apakah anak buahnya aman-aman saja.
Alessio, yang matanya terus mengikuti gerakan Alaude hingga akhirnya sang detektif menghilang dari pandangan, menoleh ke arah jendela. Jendela itu bergeser, dan setelah menciptakan ruang cukup lebar untuk dilewati, seorang pria dengan rambut hitam yang dipotong cepak melompat masuk ke dalam ruang interogasi itu.
"Lama sekali, Luigi."
"Maaf. Aku harus mencari tempatmu disekap ini dulu, Boss," balas orang yang dipanggil sebagai Luigi oleh Alessio. Ia mendekati si rambut eboni, mengeluarkan pistolnya, dan menembaki rantai borgol yang menahan Alessio hingga rusak.
Menghela napas lega setelah merasakan bahwa ia bisa menggerakkan kedua tangannya dengan leluasa, Alessio melihat sekeliling, mencari di mana cambuk miliknya dan pistol milik Marco diletakkan oleh Alaude. Setelah menemukan kedua benda tersebut, ia menoleh ke arah Luigi, yang sudah bersiap untuk keluar melalui jendela lagi.
"Di luar aman, 'kan?"
"Ya. Kita bisa kabur lewat jalan belakang supaya tidak terlihat oleh orang-orang di kantor ini."
"Baguslah."
Melirik sekilas ke arah pintu yang sedikit terbuka, Alessio masih bisa melihat asap mengepul memenuhi koridor, meski tampaknya mulai menipis. Menyunggingkan seringai tipis, ia berbisik seraya berbalik dan mendekati jendela, mengikuti jejak Luigi yang telah melompat keluar dari ruang interogasi.
"Ci vediamo**, Alaude."
.
.
.
*Stai bene?: apa kau / kalian baik-baik saja?
**Ci vediamo: sampai bertemu (lagi)
Comments
Post a Comment