Posts

Showing posts with the label series: saint seiya

Belle en het Beest #8

In the Moonlight © aicchan . Rasanya banyak hal telah terjadi dalam satu kali kejapan mata. Pertama-tama Lune memperkenalkan dirinya dan menjelaskan alasan kedatangannya sesingkat mungkin ("Tuan Minos tahu bahwa pihak kalian tidak akan rela menyerahkanmu, Yang Mulia, jadi saya diperintahkan untuk membawa Anda ke sisinya."), lalu, tanpa mengindahkan protes Dohko dan Pefko, menggendongnya seolah-olah dia adalah karung goni dan keluar dari kamarku melalui jalur yang sama dengan saat ia masuk sebelumnya—jendela. Kemudian dalam jangka waktu yang terasa seperti sedetik saja untukku, aku sudah menemukan diriku berada di tengah-tengah kumpulan orang-orang. Ada Shion dan prajurit-prajuritnya. Lalu ada Agasha, terlindungi di belakang salah seorang prajurit, dan tak jauh dari tempat gadis kecil itu berdiri adalah seorang pria berambut putih perak panjang yang dandanannya serupa dengan Lune. Orang yang kuyakin pasti bernama Minos. Sekilas orang itu benar-benar mirip manusia bia...

Belle en het Beest: Scrap 1

It was a topic that arrived to their dining table. On one cold night of late autumn, ten years ago. "When would you marry and let your father steps down from the throne, Your Highness?" Her hand movement stopped midair from putting her spoonful of stew into her mouth when her brain finished processing his sentence. Blue eyes stared wide at the green haired man, and the act was copied by the man sitting on the farthest end of the table—her father, His Royal Majesty the King. It was him who replied to the question. "What brought upon this topic?" "Well, Brother... don't you agree that it's high time to hold a marriage for her?" The man who asked, the King's younger brother, spoke. "The Princess had come to a standard age for royalties like her to find a husband, yet I never saw or even heard stories of her getting close with any of our young noblemen." "We don't have to necessarily follow common traditio...

Hanya Isyarat

Dulu, Lugonis berpikir bahwa yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama hanyalah bualan penganut aliran romantis, atau perempuan-perempuan yang khayalannya terlampau manis. Dan yang ia maksud adalah jatuh cinta pada pandangan pertama yang membuat seorang individu rela berjuang keras agar dapat menjalin hubungan intim dengan individu yang menjadi target kasmarannya, hingga mereka berakhir di altar gereja untuk melangsungkan pernikahan, lalu menjalani hidup bahagia sakinah mawadah bersama anak cucu keturunan mereka. Terus bersama hingga akhir hayat, dibawah sumpah yang disaksikan oleh Dewi Hera, saling mencintai dengan tulus ikhlas. Mungkin ini karma karena ia diam-diam menertawakan kisah pasangan-pasangan yang mengaku mengalami hal tersebut. Ia menemukan dirinya merasakan sendiri jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu menyadari hal itu, ia langsung bingung bukan kepalang. Karena apa? Alasan pertamanya adalah ketika ia akhirnya mengalami rasanya jatuh cinta, ia sedan...

Scent

In the Moonlight © aicchan . . . "Albafica?" Menolehkan kepalanya, ia langsung menemukan sosok pemanggilnya, Camus, berjalan mendekatinya sambil mendorong sebuah troli. Berbagai macam makanan, mulai dari bahan-bahan mentah untuk dimasak hingga cemilan, memenuhi troli tersebut. Albafica tersenyum tipis melihatnya. "Kau dan Kardia ingin hibernasi di dalam apartemen baru kalian atau apa?" Camus tertawa miris. "Milo ingin kami membuat pesta perayaan pindahan dan Kardia setuju saja. Kau tahu mereka tidak akan menerima penolakanku kalau sudah kompakan begitu." Giliran Albafica yang tertawa, pelan dan anggun, dan seketika membuat Camus teringat akan impresi pertamanya ketika dulu ia berpapasan dengan pria berambut biru panjang itu. Pasangan hidup Minos itu, kalau boleh dikatakan secara hiperbolis, adalah manusia paling cantik sejagat raya. Dan pesona yang dimilikinya itu tidak terbatas pada penampilan luarnya, tapi juga dari gerak-geri...

Date

Defteros merasa risih. Benar-benar merasa risih. Pasalnya, ia tidak terbiasa melakukan perjalanan dengan menggunakan alat transportasi Muggle dan berjalan di trotoar yang juga digunakan oleh para Muggle. Ia tidak suka karena menurutnya tidak praktis, juga karena para manusia tanpa kekuatan sihir itu memberinya tatapan aneh ketika melihatnya berjalan di area mereka. Wajar, 'sih, kalau mereka menatapnya aneh, karena kemungkinan besar mereka tidak pernah melihat manusia tampan berkulit gelap dengan tinggi 6 kaki lebih sepertinya sepanjang umur mereka. Tapi semua ketidaknyamanan itu ia tahan. Toh, sebentar lagi ia akan sampai di tempat tujuannya: Ipsden House. Kediaman Asmita dan sanak saudaranya.
" Tadaima. " Pengumuman singkat bahwa ia sudah memasuki kediaman itu langsung disambut koor suara bariton. " Okaeri! " Dari asal suaranya, bisa ia duga bahwa seluruh anggota keluarganya sedang berkumpul di ruang makan--well, saat itu memang waktunya makan malam. Biasanya, ia akan langsung mengabaikan sahutan tersebut dan ngeloyor masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Namun, ketika ia sadar bahwa dalam paduan suara dadakan tadi terdapat suara-suara yang sedikit asing di telinga, kakinya langsung membawanya ke ruang yang dimaksud. Segera saja ia menemukan pemilik suara-suara asing tersebut. "Manigoldo dan Angelo...?!" "Yo, Albafica. Kok telat?" Manigoldo menyeringai lebar. ""

Scrapped

Pemakaman itu berlangsung khidmat. Begitu khidmat sampai Manigoldo merasa bosan. Banyak orang menghadirinya, mulai dari kalangan prajurit rendah sampai Gold Saint. Meskipun terkenal anti-sosial dan jarang muncul di depan khalayak, kabar tentang segala jasanya semasa ia masih aktif membuat mereka semua menyayangi dan menghormati Lugonis, sama besarnya dengan yang mereka rasakan terhadap Leo Ilias, yang baru saja meninggal dua tahun yang lalu. Manigoldo melirik sekelilingnya. Ia berdiri bersama para Gold Saint lainnya, di belakang Sage-sensei-nya tersayang. Ada Sagittarius Sisyphus, yang berdiri mengapit keponakannya, Regulus, bersama Capricorn El Cid. Ada juga Gemini Aspros, yang akan sesekali melirik ke satu arah—tempat saudara kembarnya, Defteros, secara sembunyi-sembunyi ikut menghadiri upacara pemakaman tersebut. Di sebelahnya berdiri Taurus Hasgard dan Virgo Asmita—dua orang yang baru dilantik menjadi Gold Saint beberapa tahun yang lalu—yang sama-sama khusyuk mendengarkan doa ya...

Scrapped: A-11

Mata Albafica mengerjap malas sementara ia memandangi langit-langit kamarnya. Bukan, bukan karena langit-langit kamarnya didekor dengan amat sangat menarik sehingga ia rela menghabiskan waktu untuk mengamati detil-detilnya, namun lebih dikarenakan saat ini tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain melamun sambil menatap langit-langit. Bagaimanapun, ia baru saja berhasil lolos dari cengkeraman dewa kematian setelah berjuang selama tiga hari tiga malam—atau itulah penjelasan yang diberikan gurunya ketika ia terbangun dan merasakan tubuhnya nyeri dan basah oleh keringat dingin. Susah payah Albafica menggerakan tangan kanannya hingga ia bisa melihat jari-jarinya. Jari-jari yang, perlu ia akui, sama sekali tidak mulus karena terlalu sering bersentuhan dengan duri-duri mawar. Banyak luka gores di sana-sini, namun yang ia perhatikan hanya satu titik: luka yang paling baru, yang tertoreh tiga hari yang lalu. Luka tempat darahnya dan darah gurunya bertukar. Ritual Ikatan Merah, guru...
Dering weker menariknya keluar dari alam mimpi. Perlahan kelopak matanya ditarik membuka, memperlihatkan iris mata berwarna sebiru malam yang masih tak begitu fokus. Diabaikannya suara alarm yang masih dengan telaten berbunyi nyaring dan tak sadar bahwa majikannya sesungguhnya sudah terbangun. "... rasanya aku memimpikan sesuatu yang aneh," gumamnya pelan. Ia terus melamun tanpa memperdulikan wekernya--tanpa memperdulikan suara apapun, termasuk suara langkah kaki menapaki anak tangga dan bergegas menyeruak masuk ke dalam kamarnya. "KAK FICAAAA!" Kasurnya serasa anjlok karena berat tambahan dan lamunannya otomatis terputus. Ia berbalik, melihat bocah kecil berusia kurang lebih 8 tahun tersenyum lebar ke arahnya. "Ayo bangun, Kak! Hari ini Ayah memasak spanakorizo untuk sarapan, lho!" "Ngg... Kakak bisa mendengarmu, Regulus. Tidak usah berteriak begitu." Regulus tertawa, menonjolkan kekanakannya, dan bergeser sedikit saat 'Kak Fic...

Re-marriage #2

Pintu kamarnya diketuk dan namanya dipanggil, tapi ia tidak menyahut. Meski berada dalam posisi duduk dengan memeluk lutut di pojok kamar, ia bisa mendengar kenop diputar dan pintu mengayun membuka, disusul langkah kaki yang perlahan mendekatinya. "Aphrodite, mau dengarkan Kakak sebentar?" Tidak ada jawaban afirmatif darinya, tapi ia juga tidak menolak permintaan itu. Dirasakannya Albafica berjongkok di hadapannya, mengelus ubun-ubun kepalanya. "Kalau kamu memang tidak suka Ayah menikah lagi, kamu bisa langsung bilang ke Ayah. Beliau tidak akan marah." "... bukannya tidak suka." "Lantas?" Aphrodite mengangkat kepalanya sedikit, menampakkan mata birunya yang sedikit sembab. ""

Regulus

Teritorial Asrama Slytherin adalah ruang-ruang bawah tanah Hogwarts. Ruang kelas untuk pelajaran Ramuan, ruang kantor Kepala Asrama, ruang rekreasi dan ruang asrama Slytherin—semuanya terletak di bawah tanah. Ada juga sejumlah ruangan lain di bawah tanah yang secara tak langsung menjadi properti mereka, pemanggul panji hijau dengan simbol ular perak itu, tapi pada dasarnya murid-murid Slytherin tidak termasuk tipe yang gemar kongkow, sehingga mereka tidak pernah menggunakan ruangan-ruangan tersebut. Mereka lebih senang berdiam diri di dalam ruang rekreasi mereka yang sejuk sambil melihat pemandangan di dalam danau. Meskipun selalu ada pengecualian. Seperti Regulus, misalnya. Putra bungsu dari pasangan Orion dan Walburga Black itu sejak pertama kali menjejakan kaki di Hogwarts selalu mencari kesempatan untuk mengeksplorasi kompleks sekolahnya yang amat sangat luas nggak pake aja itu—tentunya sambil berhati-hati agar tidak ketahuan dan menghindari teguran baik dari staf sekolah ataup...

Regulus #2

Awalnya, Regulus sedikit malas karena mengira bahwa sang hantu hanya membual. Bagaimanapun, jika ia terbunuh di usia muda dan bergentayangan seperti itu, pasti ilmunya tidak seberapa. Namun, sang hantu berhasil membuktikan klaimnya. Dengan telaten Regulus diajari cara mengayunkan tongkat dan pelafalan mantera yang benar. Ia juga diajari tips dan trik agar konsentrasinya tidak terpecah dan mantera-mantera apa saja yang baik digunakan untuk berduel, tergantung pada level dari lawan yang dihadapai. Singkatnya, sang hantu menjadi guru terbaik yang bisa Regulus minta. Lebih baik daripada Profesor Flitwick, malahan. "Ngomong-ngomong, agak terlambat, sebenarnya, tapi... kenapa kau ingin belajar mantera sampai sebegininya, Regulus?" Pertanyaan itu muncul ketika mereka tengah beristirahat setelah Regulus berhasil menguasai Kutukan Peledak. "Kenapa? Ya, karena..." Regulus menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Aku ingin jadi lebih hebat." "Lal...

Juli's Everyday

My name's Juli. I'm just your ordinary nine-years old boy living my ordinary, rather monotonous live the best way I can. Well, the only thing that's not so ordinary about me is my hair color, which is gray due to low amount of pigments and melanin, that's all. Okay, I lied. The life I went though up until now might seem ordinary but due to my family background, it's actually not so ordinary. Because my family consist of men and men only. For serious. . . . Everyday I would wake up in the morning as my alarm clock rings, washes my face and get dressed while staying half-awake, then head to the dining room where my parents had gathered way earlier than I do. "G'morning..." "Good morning, Juli." My father would answer first, looking up from the morning newspaper or morning news on the TV or whatever that he was preoccupied with prior to my arrival in the room to flash his usual bright smile. He would've already appear nea...

月の下で [13]

In the Moonlight © aicchan . Just as Aspros predicted, Asmita accepted the invitation to join the family's monthly movie night without thinking much about it. The moment Defteros finished his explanation about his brothers' plan on helping him to learn the wondrous , the blonde only spare a brief moment to think before firmly answering, "Alright." And so that Sunday evening Defteros came to pick him up. While they made their way to his house, Defteros couldn't help but notice that Asmita never dressed to impress. Things he wore probably were things on the topmost of stacks or anything from his closet that he could reach and put on as quick as possible, because the blond never seemed to care if his attire looks matching or not (not saying that it ever appears weird on him, unlike the clothing that one of his coworkers wears). Not even on this occasion, where he will be introduced to people whom Defteros holds dear, that Asmita wears set of clothing that can e...

月の下で [12]

In the Moonlight © aicchan . When Aspros was about to unlock the key of his house, he was jolted surprise by roar of laughter that came from inside. He recognized the voice as Kanon's, his youngest brother. As he entered and locked the door again, he wondered if said brother was watching late-night comedy show or some anime, but he found the television to be turned off and completely ignored while his three younger brothers were sitting together on the various seating in the living room. Kanon and his older twin, Saga, was on the long couch while Defteros sat grumpily on a single-seated sofa. They seemed to be quite absorbed with the topic of their conversation that they didn't notice him entering the house just now. But Aspros could care less; he was curious as to what they were talking about before he came in. "What's up? Why is Kanon laughing so hard?" "Aspros," Defteros turned his head and regarded his older brother with a tired look, one tha...

月の下で [11]

In the Moonlight © aicchan . After three months since their initial meeting, Defteros had learned many things about Asmita. From the basic, like his job as the chef of a rather well-known Indian Restaurant as a way to recompense him living with his managers, to his personality traits, one of them being that the blond is such a perfectionist that there was this one time where they went to an ice cream shop after buying a new cellphone and he repeatedly fix the position of his toppings before he deemed it delectable enough to be eaten. Speak of cellphone, he had also discovered that Asmita had a habit of breaking his cellphones every now and then. The explanation that he provided was that he actually had a great amount of strength and since he never owned a cellphone prior to meeting Defteros, he had a hard time adjusting his power when he handled the electronic gadget. Thus the phones he bought were either snapped into halfsies or had some parts like the screen or the keyboard den...

月の下で [10]

In the Moonlight © aicchan . The back door of Annapoorna Restaurant swung open and a man with unruly pale green hair and dark skin entered the kitchen. He was kind of surprised to find that the kitchen was occupied by Shijima, the manager of the restaurant, instead of the current shift's chef, Asmita. The redheaded man turned to regard his employee with a smile. "Hello, Fudou. Can you go upstairs before getting started? Asmita needs your help." The worker, Fudou, raised an eyebrow but muttered a quiet "Alright" as he hung his jacket on the hanger and sneaked upstairs, to the third floor. He immediately spotted the blonde sitting on the floor of the open recreation room, staring at an object placed on his laps, which turned out to be a broken cellphone. The sight made Fudou frown. If he recalled correctly, that cellphone was the one Asmita bought some days ago, why would it be— —oh, right. "You broke it with your super vampire strength?" Fud...

Belle en het Beest #7

In the Moonlight © aicchan . . . Yang kemudian masuk ke dalam kamar untuk menjemputku bukanlah Mu apalagi Lune, tapi sepasang prajurit yang terakhir kali kulihat ditugaskan untuk berjaga di depan pintu kamarku. Mereka kakak beradik, seperti dugaan awalku, dan memperkenalkan diri sebagai Yuzuriha, si kakak perempuan, dan Tokusa, si adik laki-laki, ketika kutanya. Keduanya sama kakunya dengan Shion dan Mu—sebenarnya, aku punya kecurigaan bahwa semua yang tergabung dalam Pasukan Elit ini adalah tipe yang kaku, tapi entahlah—saat menggiringku keluar dari penginapan, menuju sebuah padang rumput luas yang letaknya tak terlalu jauh dengan berjalan kaki. Sebagian besar prajurit yang semula ditugaskan untuk menjaga penginapan pun turut serta mengawalku pergi. Aku benar-benar sudah jadi orang penting, tampaknya. Tiba di tempat tujuan, aku dihadapkan dengan Shion dan sisa peletonnya. Sebagian besar dari mereka berdiri di dekat kuda mereka masing-masing, sebagian lainnya berjaga di dekat s...

月の下で [9]

In the Moonlight © aicchan . Everything went well since then. When night falls and everyone retired to their respective house and beds, so does Asmita. After switching off the light and sliding under his blanket, he would plug his ears with with earphones that connected to his newly bought cellphone, playing out songs stored in the memory at maximum volume. By focusing to the music, he could completely block off the noises Cardinale and Shijima makes in the next room. Defteros's strategy worked. People all around him also supported this little step ointo a more modern life of his. Shun, one of the waiters employed in the restaurant, happily taught him how to use applications that had been installed in his cellphone, like the camera and the internet browser, the latter application proving to be, in his opinion, a great asset as he could download songs that Cardinale and Sonia recommended—since their taste in music is more or less similar. He learned how to make a call and text...

月の下で [8]

In the Moonlight © aicchan . The night Defteros found out that he had a habit of wandering outside in the middle of the night due to certain issues, the mortal man got him to make a promise that they'll go out for a shopping together to find something that can help stopping his 'bad habit'—a mobile phone. Actually, the selection of choices were much more than that. Portable audio devices such as mp3 player and iPod were suggested, but they decided to look for cellphones after Asmita noting that he never had one. Ever. Something along the line of cellphones had become as important as staple foods for individuals, especially working adults. Beside, the detective also mentioned that he has an acquaintance who is pretty proficient in this subject and he could get her to give Asmita a good deal on whatever gadget he wanted. "Why are you going this far for me, someone you just met hours ago?" was the question that slipped out of Asmita's lips before he could...