恋人を殺したの日 (The Day I Murder My Lover)

Merah.

Merah pekat.

Warna cairan tubuh yang mengalir keluar dari luka yang kubuat saat kuhujam dada kananmu dengan belati yang sampai saat ini masih kugenggam erat.

Entah mengapa... ada sedikit rasa segar merasukiku saat aku melihat tubuhmu menggeliat sementara kau kesulitan bernapas.

Entah mengapa... ada euforia aneh yang makin merebak luas seiring dengan berjalannya waktu, meracuni akal sehatku, sementara wajahmu semakin memucat, kesakitan.

Aku berlutut di sampingmu, merunduk, mendekatkan wajahku dengan wajahmu. Napasmu berat, terengah. Sorot matamu tajam menatapku, penuh benci dan bersit dendam.

Marah padaku?

Kenapa?

Bukankah kau memang pantas mendapat perlakuan seperti ini?

Kau terlihat sangat indah, sayang.

Seandainya kau bisa melihat dirimu sendiri, maka akan kau sadari itu.

Bagaimana kulitmu yang semakin memucat, juga surai seputih salju yang membuatmu terlihat unik di mata khalayak umum, ternoda oleh darahmu sendiri.

Sekali lagi ku jatuh cinta padamu.

Tanganmu perlahan terangkat, ingin menggapaiku. Maka kuraih tanganmu yang gemetar itu, ku kecup lembut punggungnya, dan aku berbisik pelan:

"Selamat tidur, anggrek putihku."

Kau ingin mengatakan sesuatu untuk membalas salamku, namun tak mampu.

Karena detik berikutnya, nyawamu lolos dengan sempurna dari tenggorokanmu, meninggalkan jasadmu menjadi selongsong tubuh tanpa roh.

Tak berguna.

Tak berarti.

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius