Dering weker menarik paksa Haru keluar dari alam mimpinya. Menggeram pelan, tangannya malas-malasan bergerak untuk mematikan weker tersebut, lalu perlahan ia bangkit ke posisi duduk dan langsung bertatapan dengan cermin. Selama semenit ia diam, beradu pandang dengan refleksinya sendiri, seolah mengira-ngira siapa sosok berwajah kucel dan rambut berantakan yang tengah menatapnya balik itu, sementara sesungguhnya otaknya telah berfungsi penuh, mengingat-ngingat apa yang telah terjadi kemarin hingga sebelum ia tertidur.

Menunduk ke bawah, ditemukannya gumpalan-gumpalan tisu yang telah terpakai berserakan di lantai kamar dan juga seprai kasurnya. Tisu-tisu yang semalam mengeringkan air mata dan ingusnya kini telah kering setelah ia tinggal tidur.

Ia menangis, semalam.

Menangis hingga air matanya kering, hingga rongga hidungnya dipenuhi mucus, hingga kelenjar air mata dan kelopak matanya lelah hingga tidak kuat membuka dan ia menyerahkan diri dalam buaian Dewa Tidur.

Ya... sudah kutumpahkan semuanya semalam. Karena itu, mulai sekarang aku harus berhenti bersedih.

Memejamkan mata, Haru lalu menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya pelan-pelan. Ketika ia merasa bahwa ia menemukan keteguhannya yang biasa, ia melompat turun dari ranjang dan bersiap untuk pergi bekerja.

.
.
.


Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius