Comfort
Dia melakukannya dengannya.
Lagi.
Tanpa bisa menentang, ia tunduk pada apa-apa saja yang dilakukan olehnya.
Saudara kembarnya.
Kakaknya.
"A-... Aspros..."
Menghentak, mendorong dan menekan tubuhnya agar punggungnya semakin menempel pada dinding batu di belakangnya. Mengunci bibir satu sama lain agar tidak ada orang maupun hantu yang mendengar desah dan teriakan bergairah mereka.
Ketika mereka mencapai puncak, kembarannya memikirkan dan membisikan namanya.
"Defteros..."
Ketika mereka mencapai puncak, kepalanya dipenuhi figur satu sosok dan mulutnya bergerak tanpa suara, mengucap satu nama.
Asmita...
.
.
.
"Defteros? Kau di situ?"
Suara lembut dan setengah ragu yang menyapanya begitu ia masuk dalam radius lima meter yang diukur dari tempat Asmita tengah duduk bersandar pada sebuah kursi membuatnya segala rasa kalutnya hilang. Menguap bagaikan asap.
Dengan satu, dua, tiga langkah panjang ia sudah berada di dekat sang Hufflepuff berambut pirang panjang itu. Cukup dekat untuk meraih tubuh ringkih tersebut, mengangkatnya hingga kakinya tak dapat menyentuh lantai. Begitu kurusnya sampai-sampai ia merasa bahwa ia bukannya mengangkat seorang remaja berusia empat belas tahun, melainkan seorang balita lucu nan imut-imut.
Perlakuan mendadak itu tentunya menuai reaksi yang lumayan menyegarkan dari sang junior.
"Ini tidak lucu, Defteros! Aku bukan anak kecil yang minta diangkat tinggi-tinggi!" seru calon pengganti Albafica itu, sedikit meronta dan menggerak-gerakkan kakinya, seolah dengan begitu ia dapat menjejak tanah lagi.
Prefek Gryffindor tingkat enam itu terkekeh pelan, lalu sedikit menurunkan Asmita meski masih belum membiarkan kaki-kaki ramping itu kembali menapaki daratan padat. Ia merengkuh pemuda itu, memeluk punggungnya, membiarkan kepala bermahkotakan helaian-helaian rambut berwarna keemasan bersandar pada salah satu bahunya, mengijinkan sepasang lengan kurus berpegangan pada dada bidangnya.
Asmita...
"... Defteros?"
"Maaf. Biarkan aku begini sebentar lagi."
Ia mendengar kekasih kecilnya itu menghela nafas dan akhirnya beralih balas melingkarkan lengan di sekitar bahunya. Mereka terus berada dalam posisi itu selama beberapa saat, menikmati rasa nyaman yang diberikan satu sama lain, hingga Asmita menyadari sesuatu.
"Defteros?"
"Mm?"
"Wangi cologne-mu berbeda hari ini." Kekeh pelan. "Apa karena itu kau bertingkah aneh begini?"
...
"Ah. Mungkin. Kurasa tidak cocok, ya?"
"Aku lebih suka harum cologne-mu yang biasa. Apa sudah habis?"
"Tidak... tidak juga."
...
Itulah pertama kalinya Defteros merasa bersyukur bahwa Asmita tidak bisa melihat ekspresi yang saat itu terpampang di wajahnya.
Lagi.
Tanpa bisa menentang, ia tunduk pada apa-apa saja yang dilakukan olehnya.
Saudara kembarnya.
Kakaknya.
"A-... Aspros..."
Menghentak, mendorong dan menekan tubuhnya agar punggungnya semakin menempel pada dinding batu di belakangnya. Mengunci bibir satu sama lain agar tidak ada orang maupun hantu yang mendengar desah dan teriakan bergairah mereka.
Ketika mereka mencapai puncak, kembarannya memikirkan dan membisikan namanya.
"Defteros..."
Ketika mereka mencapai puncak, kepalanya dipenuhi figur satu sosok dan mulutnya bergerak tanpa suara, mengucap satu nama.
Asmita...
.
.
.
"Defteros? Kau di situ?"
Suara lembut dan setengah ragu yang menyapanya begitu ia masuk dalam radius lima meter yang diukur dari tempat Asmita tengah duduk bersandar pada sebuah kursi membuatnya segala rasa kalutnya hilang. Menguap bagaikan asap.
Dengan satu, dua, tiga langkah panjang ia sudah berada di dekat sang Hufflepuff berambut pirang panjang itu. Cukup dekat untuk meraih tubuh ringkih tersebut, mengangkatnya hingga kakinya tak dapat menyentuh lantai. Begitu kurusnya sampai-sampai ia merasa bahwa ia bukannya mengangkat seorang remaja berusia empat belas tahun, melainkan seorang balita lucu nan imut-imut.
Perlakuan mendadak itu tentunya menuai reaksi yang lumayan menyegarkan dari sang junior.
"Ini tidak lucu, Defteros! Aku bukan anak kecil yang minta diangkat tinggi-tinggi!" seru calon pengganti Albafica itu, sedikit meronta dan menggerak-gerakkan kakinya, seolah dengan begitu ia dapat menjejak tanah lagi.
Prefek Gryffindor tingkat enam itu terkekeh pelan, lalu sedikit menurunkan Asmita meski masih belum membiarkan kaki-kaki ramping itu kembali menapaki daratan padat. Ia merengkuh pemuda itu, memeluk punggungnya, membiarkan kepala bermahkotakan helaian-helaian rambut berwarna keemasan bersandar pada salah satu bahunya, mengijinkan sepasang lengan kurus berpegangan pada dada bidangnya.
Asmita...
"... Defteros?"
"Maaf. Biarkan aku begini sebentar lagi."
Ia mendengar kekasih kecilnya itu menghela nafas dan akhirnya beralih balas melingkarkan lengan di sekitar bahunya. Mereka terus berada dalam posisi itu selama beberapa saat, menikmati rasa nyaman yang diberikan satu sama lain, hingga Asmita menyadari sesuatu.
"Defteros?"
"Mm?"
"Wangi cologne-mu berbeda hari ini." Kekeh pelan. "Apa karena itu kau bertingkah aneh begini?"
...
"Ah. Mungkin. Kurasa tidak cocok, ya?"
"Aku lebih suka harum cologne-mu yang biasa. Apa sudah habis?"
"Tidak... tidak juga."
...
Itulah pertama kalinya Defteros merasa bersyukur bahwa Asmita tidak bisa melihat ekspresi yang saat itu terpampang di wajahnya.
Comments
Post a Comment