His Family: Freakish
"Kutanya sekali lagi: kau serius ingin bertemu dengan mereka?"
"Bukankah agak terlambat kau menanyakannya sekarang? Kita sudah berada di depan rumahmu."
Minos menghela napas panjang, terlihat benar-benar depresi. Bahkan sampai detik-detik terakhir, ia masih merasa tidak enak membawa kekasihnya ke rumah untuk diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarganya.
Kekasihnya itu tersenyum lembut seraya berkata, "Jangan khawatir, karena aku yang meminta untuk bertemu dengan mereka, aku sudah mempersiapkan mentalku kalau-kalau nanti aku dicemooh oleh mereka."
"Bukan itu yang ku khawatirkan... tapi, sudahlah. Ayo masuk, Albafica."
Lelaki dengan rambut biru panjang itu mengangguk lalu berjalan mengikuti si surai keperakan. Sebuah taman besar menyambut mereka setelah melewati pintu pagar dan Albafica kesulitan untuk menatap lurus ke depan sehingga akhirnya Minos harus menggandeng pacarnya itu agar mereka bisa sampai di teras rumah. Setelah membunyikan bel dan menunggu seorang pelayan membukakan pintu, keduanya masuk ke dalam rumah megah tersebut dan langsung disapa oleh anggota keluarga Creta—seorang pria berpakaian serba hitam yang nyaris seperti duplikat dari Minos dan seorang lagi pria berambut emas model landak.
"Akhirnya kau datang juga, dik," ucap lelaki pertama, menyeringai lebar. "Jadi... ini pacarmu yang mau kau perkenalkan?"
Belum sempat Minos menjawab pertanyaan itu, Albafica telah maju terlebih dahulu dan membungkukan badannya sedikit, memberi salam. "Namaku Albafica Vibius. Salam kenal."
Selama beberapa detik, tidak ada reaksi apa-apa dari saudara-saudara Minos. Albafica baru akan mengira bahwa ia telah melakukan sesuatu hal yang salah saat kembaran Minos tertawa keras, mengejutkannya.
"Albafica, eh?" Pria itu berjalan mendekatinya, mencondongkan tubuh agar jarak antara wajah mereka tinggal beberapa centimeter saja. "Aku suka. Dan aku rasa aku punya peti mati yang cocok untukmu, apakah kau mau ikut denganku dan langsung menco—"
"Sarpedon," dua suara bass dengan intonasi berbeda—yang satu setengah-panik setengah-marah dan yang satu menegur—bersatu dan membentuk harmoni indah. Mendengarnya membuat lelaki yang berada tepat di hadapan Albafica terkekeh pelan.
"Aku hanya bercanda, saudara-saudaraku."
Ia membalikkan badan dengan luwes (membuat rambut keperakannya yang panjang menyapu wajah si surai biru dan nyaris membuatnya bersin-bersin) dan kembali ke sisi saudaranya yang berambut emas. Sesudahnya ia berkata sambil merentangkan tangan selebar-lebarnya,
"Selamat datang di rumah keluarga Creta. Mari masuk, Albafica, jangan malu-malu. Oh, dan panggil saja aku Undertaker, tidak usah mengikuti ucapan adik-adikku ini. Ah, ya, kau sudah kenal Rhadamanthys, 'kan?"
.
.
.
memento mori — ingatlah bahwa menulis fanfiksi lebih mudah daripada menulis esai. (Shara Sherenia, galau level SWAT)
Comments
Post a Comment