Warmth

Pemandangan biasa tiap kali klub Duel mengadakan kegiatan: kilatan-kilatan cahaya melesat dari ujung tongkat, berbagai objek meledak atau terbakar kala mantera-mantera tersebut meleset dari target sesungguhnya, dan ramai seru-seruan para penonton menyemangati pihak yang mereka dukung.

Satu yang tidak biasa hari itu:

"ASMITA!"

Suara yang memanggilnya itu sampai di telinganya lebih dulu daripada suara dahan pohon yang meretak dan semakin turun karena tertarik gaya gravitasi. Kaget karena tiba-tiba saja namanya disebut dengan suara super kencang membuatnya terlambat bereaksi. Ia bergerak maju untuk menyelamatkan diri dari bahaya tertimpa dahan pohon, namun kayu tersebut berhasil menimpa punggungnya, sukses membuat dirinya jatuh tersungkur ke tanah.

Ada bunyi debam keras kala tubuhnya mencium tanah, disusul koor teriakan kaget dalam berbagai vibran suara, dan suara keras yang sama kembali memanggil namanya.

"Asmita!"

Lalu ia kehilangan kesadarannya.

.
.
.

Ketika kesadarannya kembali, yang pertama kali didengarnya adalah suara kawan-kawan terdekatnya.

"Asmita?" Suara Albafica. "Asmita, kau bisa dengar aku? Sudah merasa baikan?"

Jawabannya hanyalah dua buah anggukan kepala. Ia tahu bahwa Prefek asramanya itu pasti sangat mengkhawatirkannya, tapi ia juga tahu bahwa Albafica tahu bahwa ia sedang tidak dalam mood untuk berbicara.

"Mau kembali ke asrama sekarang?"

"Tidak perlu. Di sini lebih tenang."

"Sir Apollo yang merasa tidak tenang—dia, 'kan, jadi tidak bisa kencan dengan Professor Herm—aduh!"

Asmita tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum begitu mendengar erangan kesakitan dari Kardia. Entah Degel yang menyikutnya atau Sir Apollo yang menyodok dahinya dengan ujung tongkatnya.

Sentuhan telapak tangan yang begitu familiar dan hangat menyentuh keningnya, membuat senyumnya mendadak berubah kaku.

"De—?"

"Sudah kuperingatkan untuk tidak berdiri diam di bawah pohon, 'kan?" Suara bass menginterupsi kalimatnya. "Dan juga sudah kuperingatkan untuk tidak menonton sendirian! Apa pembelaanmu?"

Belum sempat Asmita menjawab sesuai perintah, sebuah suara menyelanya. Suara Regulus. "Hei, Defteros, sudahlah. Kalau kau menyudutkannya begitu, aku juga perlu menyudutkanmu karena bisa dibilang dia terluka karena salahmu juga."

"Yeah, karena kau gagal memblokir seranganku agar tidak keluar dari arena!"

"Kardia!"

"Aku tidak akan menyalahkan siapapun." Ucapan Asmita secara efektif menghentikan debat yang ia yakin akan segera berlangsung jika ia tidak angkat bicara. "Tidak diriku sendiri. Tidak Defteros. Kecelakaan itu termasuk bagian dari takdir yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah."

Ia bisa mendengar Sir Apollo mendengus. "Benar; masalah akan menjadi masalah jika dipermasalahkan. Jangan terlalu kalian ambil pusing, anak-anak." Tepuk tangan dua kali untuk menekankan bahwa semua yang berada di dalam bangsal saat itu harus memperhatikan ucapannya. "Kalau kalian sudah puas, kembali ke asrama kalian masing-masing! Ini sudah lewat waktu makan malam dan Asmita juga perlu istirahat!"

Bunyi kursi-kursi digeser saat yang mendudukinya beranjak berdiri dan sol sepatu membentur lantai kala penggunanya mulai melangkah memenuhi pendengaran Asmita, bercampur dengan kalimat-kalimat seperti "cepat sembuh!", "sampai besok!", "istirahat yang cukup!" dari teman-temannya. Ketika pintu bangsal ditutup dan suara-suara itu menghilang, Asmita menolehkan kepalanya.

"Kenapa kau masih di sini, Defteros?"

Lama tidak ada respon yang diterimanya, hingga akhirnya ia rasakan lagi sentuhan familiar itu. Kali ini bertemu kontak dengan pipinya.

Sepatah kata 'maaf' yang tak berani diutarakan, yang membuat senyum geli mengembang di wajah Hufflepuff berambut pirang panjang itu.

"Kembalilah." Ucapnya setelah lama tangan itu bertahan di pipinya, seolah ingin menyalurkan kehangatan ke dalam dirinya. "Aku akan berada di Aula Besar untuk sarapan besok pagi."

"Aku akan menjemputmu."

Telapak tangan hangat itu meninggalkan pipinya, digantikan bibir yang mengecup singkat, meninggalkan hangat yang bertahan hingga keesokan paginya. Cukup membantu Asmita melupakan wangi herbal yang samar tercium di udara bangsal, membuainya untuk terlelap dengan damai di atas ranjang rumah sakit hingga fajar tiba.

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius