Terong App
"... tujuh, delapan. Oke."
Kirsch menganggukkan kepalanya sedikit ketika dia selesai menghitung semua belati pendek yang dia punya, yang baru saja selesai dia bersihkan.
Berhubung kapal udara yang tengah ditumpanginya itu tidak menyediakan jasa penyewaan kucing untuk menemani penumpang, dan langit masih terlalu terang untuknya mengamati bintang-bintang, membersihkan dan mengasah senjatanya adalah pilihan lain yang tersisa untuknya menghabiskan waktu.
Mengintip ke luar jendela, Kirsch bisa melihat bahwa kapal udara tersebut semakin lama semakin mendekati daratan Therondia. Yang semula terlihat hanya berupa titik-titik kecil di langit akhirnya kini mulai terlihat lebih jelas. Dia memperkirakan bahwa kapal akan mendarat di bandar udara dalam kurun waktu kurang dari setengah jam, yang berarti sudah waktunya bersiap-siap untuk turun.
Usai membereskan seluruh kelengkapannya ― yang membuatnya kembali tampak seperti penumpang biasa lantaran seluruh senjatanya telah dia sembunyikan dengan begitu rapi ― Kirsch melangkah keluar dari kabinnya. Kebetulan, penumpang yang menempati kabin di sebelahnya juga keluar di waktu yang hampir bersamaan, sehingga mau tidak mau mereka jadi bertatap mata.
Sudah jadi kebiasaannya untuk langsung tersenyum saat bertemu mata dengan orang lain, sehingga kali ini pun secara refleks dia melakukannya. Penumpang yang satunya pun balas tersenyum. Malah ternyata, orang itu jauh lebih proaktif darinya dan sekalian juga menyapa.
"Halo! Ke Therondia karena dapat tawaran pekerjaan juga?"
Juga.
Pertanyaan yang mungkin sering terdengar di dalam kapal udara ini, mengingat sebagian besar penumpangnya merupakan tenaga kerja yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk mengisi berbagai macam posisi yang kosong akibat perang terakhir.
Kirsch kontan mengobservasi sekilas penampilan lawan bicaranya itu. Pakaian yang tidak terlalu tebal dan juga sebuah lute yang disampirkan di punggung. Seorang bard.
"Benar," jawabnya akhirnya, masih belum menanggalkan senyuman ramah. "Anda direkrut untuk menjadi bagian dari kesatuan militer, atau...?"
"Ya, katanya aku akan ditempatkan di kemiliteran! Sebenarnya aku sempat ragu mau menerima sih, karena gaya hidup asliku tidak sesuai dengan keterikatan seperti itu. Tapi tawarannya menggiurkan sekali."
Sang bard membuat gestur uang dengan tangannya sambil memasang wajah bangga sekali, sehingga mau tidak mau Kirsch jadi ikut tertawa.
"Kita sama, Tuan. Saya juga," dia membuat gestur yang sama, disertai cengiran lebar, "datang karena tergiur tawaran gajinya."
Dia tidak sepenuhnya berbohong. Jumlah yang ditawarkan cukup menggiurkan bagi pekerja serabut... setting identitas yang akan dia gunakan selama bekerja nanti.
Sang bard kelihatan senang menemukan seseorang yang 'sejenis' dengannya, sehingga dia pun semakin bersikap sok akrab dan sok dekat. Baru setelah mereka pindah ke koridor yang lebih luas, tempat nongkrong bagi sejumlah penumpang lain karena salah satu sisinya memiliki kaca besar yang memperlihatkan dengan jelas pemandangan di luar, Kirsch merasa sedikit menyesal meladeni orang itu.
Celotehnya kepanjangan sih.
"―... semoga aku ditempatkan di belakang! Bagaimanapun, aku ini kan hanya musisi yang lemah tak berdaya... Ah, tapi tentu saja, kalau ada yang membutuhkan bantuan musikku, aku akan mengerahkan segenap kemampuan untuk membantu!"
"Hee~" Bahkan ketika Kirsch sudah malas menanggapi ucapannya dengan sopan, sang bard masih saja bersemangat mengoceh dengan aura positif menggebu-gebu.
"Kamu juga pandai-pandailah memanfaatkan kemampuanmu supaya bisa bertahan hidup di sana nanti, Dik. Ini bukan tanah asal kita sih."
Sudah terlalu lelah mengeluarkan suara untuk menjawab, akhirnya Kirsch hanya tersenyum kecil. Saran yang tidak diperlukan, pikirnya.
Sang bard membuka mulut dan bersiap berceloteh lagi, namun suara pengumuman yang menggema di seluruh penjuru kapal udara, memberitahukan bahwa mereka akan mendarat beberapa menit lagi, menghentikannya. Dalam hati, Kirsch meninjukan tangan ke udara. Akhirnya bisa terbebas dari burung berisik ini.
"Sayang sekali kita sudah harus berpisah." Sang bard berbicara ketika kapal telah mendarat dengan sukses dan kini mereka, bersama para penumpang lainnya, menunggu tangga keluar diturunkan. "Kalau kita bertemu di medan pertempuran nanti, jangan lupa untuk saling bantu ya!"
Kirsch sesungguhnya ingin menjawab, tidak sudi.
Tapi dia pikir kemungkinan mereka bisa bertemu lagi sangatlah kecil. Sehingga dia putuskan untuk menghibur sang bard untuk terakhir kalinya dengan kembali menunjukkan senyuman super cerah.
"Tentu."
Kalau kau masih hidup saat iu
--
Mengintip ke luar jendela, Kirsch bisa melihat bahwa kapal udara tersebut semakin lama semakin mendekati daratan Therondia. Yang semula terlihat hanya berupa titik-titik kecil di langit akhirnya kini mulai terlihat lebih jelas. Dia memperkirakan bahwa kapal akan mendarat di bandar udara dalam kurun waktu kurang dari setengah jam, yang berarti sudah waktunya bersiap-siap untuk turun.
Usai membereskan seluruh kelengkapannya ― yang membuatnya kembali tampak seperti penumpang biasa lantaran seluruh senjatanya telah dia sembunyikan dengan begitu rapi ― Kirsch melangkah keluar dari kabinnya. Kebetulan, penumpang yang menempati kabin di sebelahnya juga keluar di waktu yang hampir bersamaan, sehingga mau tidak mau mereka jadi bertatap mata.
Sudah jadi kebiasaannya untuk langsung tersenyum saat bertemu mata dengan orang lain, sehingga kali ini pun secara refleks dia melakukannya. Penumpang yang satunya pun balas tersenyum. Malah ternyata, orang itu jauh lebih proaktif darinya dan sekalian juga menyapa.
"Halo! Ke Therondia karena dapat tawaran pekerjaan juga?"
Juga.
Pertanyaan yang mungkin sering terdengar di dalam kapal udara ini, mengingat sebagian besar penumpangnya merupakan tenaga kerja yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk mengisi berbagai macam posisi yang kosong akibat perang terakhir.
Kirsch kontan mengobservasi sekilas penampilan lawan bicaranya itu. Pakaian yang tidak terlalu tebal dan juga sebuah lute yang disampirkan di punggung. Seorang bard.
"Benar," jawabnya akhirnya, masih belum menanggalkan senyuman ramah. "Anda direkrut untuk menjadi bagian dari kesatuan militer, atau...?"
"Ya, katanya aku akan ditempatkan di kemiliteran! Sebenarnya aku sempat ragu mau menerima sih, karena gaya hidup asliku tidak sesuai dengan keterikatan seperti itu. Tapi tawarannya menggiurkan sekali."
Sang bard membuat gestur uang dengan tangannya sambil memasang wajah bangga sekali, sehingga mau tidak mau Kirsch jadi ikut tertawa.
"Kita sama, Tuan. Saya juga," dia membuat gestur yang sama, disertai cengiran lebar, "datang karena tergiur tawaran gajinya."
Dia tidak sepenuhnya berbohong. Jumlah yang ditawarkan cukup menggiurkan bagi pekerja serabut... setting identitas yang akan dia gunakan selama bekerja nanti.
Sang bard kelihatan senang menemukan seseorang yang 'sejenis' dengannya, sehingga dia pun semakin bersikap sok akrab dan sok dekat. Baru setelah mereka pindah ke koridor yang lebih luas, tempat nongkrong bagi sejumlah penumpang lain karena salah satu sisinya memiliki kaca besar yang memperlihatkan dengan jelas pemandangan di luar, Kirsch merasa sedikit menyesal meladeni orang itu.
Celotehnya kepanjangan sih.
"―... semoga aku ditempatkan di belakang! Bagaimanapun, aku ini kan hanya musisi yang lemah tak berdaya... Ah, tapi tentu saja, kalau ada yang membutuhkan bantuan musikku, aku akan mengerahkan segenap kemampuan untuk membantu!"
"Hee~" Bahkan ketika Kirsch sudah malas menanggapi ucapannya dengan sopan, sang bard masih saja bersemangat mengoceh dengan aura positif menggebu-gebu.
"Kamu juga pandai-pandailah memanfaatkan kemampuanmu supaya bisa bertahan hidup di sana nanti, Dik. Ini bukan tanah asal kita sih."
Sudah terlalu lelah mengeluarkan suara untuk menjawab, akhirnya Kirsch hanya tersenyum kecil. Saran yang tidak diperlukan, pikirnya.
Sang bard membuka mulut dan bersiap berceloteh lagi, namun suara pengumuman yang menggema di seluruh penjuru kapal udara, memberitahukan bahwa mereka akan mendarat beberapa menit lagi, menghentikannya. Dalam hati, Kirsch meninjukan tangan ke udara. Akhirnya bisa terbebas dari burung berisik ini.
"Sayang sekali kita sudah harus berpisah." Sang bard berbicara ketika kapal telah mendarat dengan sukses dan kini mereka, bersama para penumpang lainnya, menunggu tangga keluar diturunkan. "Kalau kita bertemu di medan pertempuran nanti, jangan lupa untuk saling bantu ya!"
Kirsch sesungguhnya ingin menjawab, tidak sudi.
Tapi dia pikir kemungkinan mereka bisa bertemu lagi sangatlah kecil. Sehingga dia putuskan untuk menghibur sang bard untuk terakhir kalinya dengan kembali menunjukkan senyuman super cerah.
"Tentu."
Kalau kau masih hidup saat iu
--
Sayang, tampaknya itu pun tidak cukup. Mengintip pemandangan di luar melalui jendela, dia bisa melihat bahwa jarak dengan daratan apung masih lumayan jauh. Yang artinya masih tersisa lumayan banyak waktu sebelum kapal mendarat di bandar udara.
Tapi badannya sudah pegal-pegal karena terlalu lama duduk. Mau tidak mau, berkeliling di dalam kapal udara menjadi metode untuk menghabiskan waktu yang berikutnya.
Meskipun disebut berkeliling, dia bukannya bermaksud menikmati pemandangan di luar, yang bisa dilihat dari kaca besar yang menghias salah satu dinding kapal.
(Apa yang bisa dilihat, selain langit yang terlalu luas dan pulau-pulau kecil yang mengapung seperti serpihan debu?)
Dia juga tidak bermaksud melihat-lihat interior kapal udara yang sejujurnya terhitung megah itu.
(Dia bukan seorang maniak kendaraan maupun mesin. Dan itu bukan kali pertamanya menaiki kendaraan sejenis. Tidak ada yang dia rasa patut dikagumi.)
Yang menjad objek pengamatannya adalah para penumpang selain dirinya. Semuanya memiliki tujuan umum yang sama menaiki kapal udara tersebut: ingin mencapai tanah Therondia. Namun tujuan utama yang dimiliki masing-masing mereka lebih bervariasi. Ada yang ingin
Comments
Post a Comment