Konstelasi: Orion

Prompt: Orion – Dua karakter berburu bersama
Karakter Yang Digunakan: Undertaker, Asch the Bloody

.
.
.

Suara ledakan tawa membuat aktivitas di kelab malam itu terhenti sesaat. Semua tatapan mata segera tertuju ke satu arah—ke arah sumber suara, yaitu counter bar. Seorang lelaki dengan rambut berwarna abu keperakan dapat terlihat di sana, bahunya gemetar naik turun ketika kekehnya tak kunjung berhenti. Bartender yang melayaninya berdiri kaku di balik counter, tak tahu harus berbuat apa. Pelanggan-pelanggan lainnya yang juga duduk mengitari counter, memilih untuk menjauh kecuali satu: seorang pria muda dengan rambut merah yang diikat. Meskipun ia tetap berada di tempat duduknya, yang notabene tepat di samping si rambut abu-abu, tapi ekspresi wajahnya jelas menyiratkan bahwa ia ingin pura-pura tidak kenal atau mendadak berubah menjadi invisibel.

“Demi Thanatos,” desah si rambut perak setelah tawanya reda, “sudah lama aku tidak mendengar lelucon sebagus itu, bartender. Seandainya saja kau murid sekolahku, kau pasti akan kuberi beasiswa sampai lulus, tak peduli nilaimu bagaimana.”

Bartender yang diajak bicara olehnya tetap memasang wajah datar, meskipun di dalam hatinya ia bertanya-tanya: ‘Sekolah? Dia punya sekolah? Apa yang dilakukan seorang pengajar, terlebih lagi pemilik sebuah sekolah, di tempat seperti ini!?’

“Pak Undertaker.” Pria di sebelahnya akhirnya angkat suara juga. “Seandainya Ketua Yayasan ada di sini, Anda bisa diseret pulang lalu dilempar dari atap Menara Utara.”

Si rambut perak, Undertaker tertawa lagi, kali ini lebih pelan dan singkat. Kepalanya, yang masih ia sandarkan pada meja counter, menoleh untuk menatap rekan kerjanya itu. “Karena pak tua yang tak mengerti selera humor itu tidak ada di sini itulah makanya aku berpuas hati dan melakukan apapun yang ku mau, Pak Fabre.”

Asch fon Fabre menghela napas panjang sebelum menenggak habis Rob Roy pesanannya. Kemudian ia diam, merenung dengan tatapan menerawang ke arah es batu yang tersisa pada gelasnya, memikirkan ulang alasannya berada di kelab malam tersebut.

… apa, ya? Rasanya ini salah Pak Undertaker, tapi apa yang dia bilang sebelum aku diseret ke sini olehnya?

“Ngomong-ngomong, Pak Fabre.” Asch menoleh ke samping, ke arah koleganya yang ia kira mabuk berat. “Bukannya kita ke sini karena Anda bilang bosan digodai oleh staf-staf pengajar di sekolah dan juga murid-murid Anda, jadinya Anda ingin ke suatu tempat yang bagus untuk ‘ganti suasana’ barang sejenak?”

Oh, iya. Itu dia.

Asch memang merasa super suntuk dengan rutinitasnya sebagai seorang guru. Setiap kali ia berinteraksi dengan para murid, pasti ada saja yang menggombalinya meskipun ia sudah membentaki mereka. Padahal ia mengajar memasak, yang merupakan pelajaran khusus divisi Guinevere dan itu berarti murid-muridnya adalah kaum uke.

Uke, ‘kok, menggodai uke. Meski sudah dimarahi juga malah makin jadi. Dasar murid-murid aneh nan masokis!

“Pak Fabre?”

“GYAH!”

Guru bidang Tata Boga itu nyaris menjatuhkan gelasnya saat ia merasakan hembusan napas tepat di samping telinganya. Ketika dilihat, ternyata Undertaker telah berada begitu dekat dengannya. Jantungnya berdebar-debar, bukan karena jarak wajah mereka yang begitu dekat—toh kepala sekolah sinting satu itu sering sekali membuat kejutan semacam ini pada semua orang, baik itu guru maupun murid. Tidak, Asch berdebar-debar karena kaget.

“Kenapa malah bengong? Sana, sapa orang.”

“A-Anda tidak perlu mendikte saya!” Asch mendorong Undertaker agar atasannya itu kembali duduk dengan benar di tempatnya sendiri. Dilihatnya mantan ahli forensik tersebut menyeringai lebar ke arahnya sebelum bartender menyodorkan Bellini pesanannya.

Asch kemudian mengedarkan pandangannya ke arah sekelilingnya. Banyak kaumnya—uke—berjoget di lantai dansa bersama seme mereka masing-masing, menggoyangkan badan seirama dengan permainan musik sang DJ, seorang berambut pirang yang jika dinilai dari postur tubuhnya adalah seorang uke. Di sisi lain, ada juga sebuah kerumunan seme di sebuah sudut. Fokus mereka jatuh pada sekelompok uke di seberang mereka yang asyik mengobrol sambil menikmati minuman yang dipesan. Kelihatannya para seme itu sedang mendebatkan uke mana yang akan mereka coba ajak bicara.

Namun mendadak salah seorang dari seme-seme tersebut sadar bahwa Asch memperhatikan mereka, dan ia spontan melemparkan senyum manis yang membuat sang guru sedikit terlonjak. Asch melihat seme tersebut terkekeh pelan sebelum beranjak dari tempat duduknya, tak mengindahkan pertanyaan kawan-kawannya dan berjalan ke arah counter—ke arah Asch.

Oh, sial.

“Halo,” sang seme menyapa setelah berada cukup dekat dengan Asch. “Sendirian saja?”

“Dengan kolega, sebenarnya.” Asch membalas dingin seraya melirik Undertaker yang masih asyik menikmati minumannya sendiri.

Seme itu ikut melirik sang kepala sekolah dan sebuah senyum meremehkan tersungging di wajahnya—senyum yang membuat Asch mengernyit tak suka. Perhatiannya kembali tertuju pada Asch yang ekspresinya sudah kembali datar. “Sepertinya kolegamu ini sibuk dengan minumannya. Bagaimana kalau kau dan aku turun ke lantai dansa? Musiknya sedang asyik, ‘nih.”

Asch tidak segera menjawab. Ia sibuk mengobservasi seme tersebut. Lumayan tampan dan kekar, walau tidak sekekar Ivan, murid kelas tiga itu. Rambutnya berwarna pirang namun Asch yakin warna rambutnya itu adalah hasil bantuan. Gaya si seme ini lumayan keren dan agak macho, tapi mata Asch menangkap kesan bahwa pria di hadapannya itu adalah lelaki metroseksual… yang lebih muda darinya. Dan Asch tidak tertarik dengan daun muda, sehingga ia membalas,

“Maaf, tapi aku tidak tertarik.”

Plus tatapan dingin yang biasanya efektif membuat para pemujanya berhenti menggombalinya.

Namun sayang, tampaknya taktik tersebut tidak berlaku untuk sang seme. Alih-alih ketakutan ditatap tajam begitu dan menyerah lalu pergi, seme tersebut malah semakin agresif. Dengan mudah ia menarik Asch, yang lebih kurus dan kecil serta tidak menyiapkan perlawanan apa-apa, untuk berdiri.

“Ayolah, rileks saja. Itu tujuanmu datang ke tempat ini, ‘kan? Untuk melepaskan beban pikiran~”

Asch menatap jijik tangan yang memegangi lengannya. Ia tidak suka disentuh orang yang baru dikenalnya, apalagi jika mereka melakukannya tanpa meminta ijin darinya terlebih dahulu. Maka dengan segera tangannya yang bebas ia angkat naik, siap mengayun untuk memukul keras tangan si seme agresif—
—ketika mendadak saja Undertaker sudah berdiri di belakangnya dan memegangi pergelangan tangan yang akan ia gunakan untuk memukul.

Deretan gigi putih bersih dan terawat yang sering dibanggakan oleh Undertaker terlihat jelas dalam pencahayaan kelab yang remang-remang. “Pak Fabre, seorang guru tidak boleh menggunakan kekerasan, kecuali jika Anda guru klub bela diri… atau sedang di ranjang bersama kekasih Anda.”

Asch sedikit bersyukur bahwa rona merah di wajahnya tidak akan begitu kentara di tempat seperti itu. Bisa-bisanya kepala sekolah satu ini mengatakan hal semacam itu dengan santai plus tersenyum ceria.

“Selain itu,” Undertaker ganti berbicara kepada sang seme agresif, “bisa kau singkirkan tanganmu dari lengannya? Anak buahku ini tidak dipaksa.”

Si rambut pirang tertawa kecil. Tangannya tak juga melepaskan genggamannya pada lengan Asch. “Ah, tenang saja... saya tidak ada niat jahat pada anak buah bapak ini, ‘kok. Hanya ingin mengajaknya bersenang-senang sedikit, karena dia terlihat bo... san...”

Asch segera menyadari perubahan mimik muka sang seme—dari yang awalnya penuh percaya diri, berangsur-angsur berganti menjadi keterkejutan, lalu... apa itu bentuk hati yang ia lihat dalam binar matanya?

“Ayo pergi, Pak Fabre.”

Pria bersurai merah panjang itu masih kebingungan ketika ia digandeng keluar dari kelab malam tersebut. Setelah mereka berjalan cukup jauh, barulah Asch mengerti apa yang baru saja terjadi.

“Pak... kenapa Bapak menggunakan ‘kharisma’ bapak pada pemuda tadi?”

Ada beberapa alasan yang membuat lelaki sinting macam Undertaker ditunjuk sebagai kepala sekolah dari sebuah institusi pendidikan besar seperti Camelot. Pertama, tentunya karena ia mahir dalam bidangnya dan memiliki kemampuan mengajar yang baik. Kedua, kemampuan manajemennya juga tidak kalah hebat. Dan terakhir, pria yang sempat dinominasikan dalam kontes ‘Best Hair’ dalam kompetisi kecantikan di sekolah yang diketuainya itu dikabarkan memiliki kharisma yang luar biasa dan dapat membuat semua orang merasa segan jika tidak jatuh cinta padanya. Hanya sebuah kabar, karena sejauh ini tidak ada seorangpun warga sekolah mereka yang dapat membuktikannya.

Yah, meski seharusnya jika ia tidak telat menyadari apa yang terjadi di kelab tadi, ia pasti bisa menjadi orang pertama yang menyaksikan seperti apa cara Undertaker melancarkan ‘serangan kharisma’nya.

Mereka berhenti di pinggir jalan besar untuk menunggui taksi—jarak antara tempat mereka berada saat itu dengan area kampus terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Asch mengamati lelaki di sampingnya itu, menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.

“Kenapa, ya...” Dengan tangannya yang tidak ia gunakan untuk menggandeng Asch, Undertaker mengelus dagunya sendiri, seolah-olah sedang berpikir keras. “Karena sedang ingin saja.”

“Serius, Pak?”

“Ya, nggak, dong!” Undertaker terkekeh pelan. “Karena kalau tidak begitu, bocah itu tidak akan mau membiarkan kita pergi. Cara itu lebih baik daripada memulai perkelahian, ‘kan?”

Asch menghela napas panjang. Ya, tentu saja akan dijawab seperti itu, karena memang lebih baik kalau bisa lepas dari masalah tadi tanpa perlu adu jotos (meskipun Asch cukup percaya diri dengan kemampuan bertarungnya yang kurang lebih setara dengan guru bela diri dari divisi seme di sekolah mereka).

“Sebenarnya, seperti apa, ‘sih, ‘kharisma’-nya itu...?”

“Hah?” Undertaker menoleh ke arah Asch, yang tanpa sengaja menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Setengah panik, ahli tata boga tersebut membekap mulutnya sendiri. “Bu-bukan apa-apa, Pak. Lupakan saja.”

“Kenapa harus dilupakan?” Kepala sekolah super eksentrik itu menundukkan kepalanya sedikit agar dapat melihat lebih jelas wajah Asch. “Anda benar-benar ingin tahu?”

Ragu-ragu Asch mengangguk. Ia memang ingin tahu, tapi... benarkah tidak apa-apa jika ia menerima jawabannya? Bagaimana kalau ternyata jawabannya datang dalam bentuk demonstrasi langsung? Bagaimana kalau imannya tidak cukup kuat untuk menahan ‘serangan kharisma’ dan dia—

“Oh, itu dia taksinya.”

“Heh?”

Sedetik kemudian, sebuah taksi berhenti di depan mereka dan segera setelah pintu dibuka, Undertaker mendorong Asch masuk ke kursi belakang. Dia sendiri memutuskan untuk duduk di kursi depan, di samping jok supir.

“Ke Institut Camelot, ya, Pak.”

“Baik, Pak.”

“Pak Undertaker!” Asch beringsut mendekati kursi yang diduduki atasannya, keseimbangannya sedikit oleng karena mobil tersebut telah bergerak. “Anda belum-”

“Datanglah ke ruanganku.”

Sekali kerjapan. “Hah?”

“Datanglah ke ruanganku kalau kau siap...” Undertaker menolehkan kepalanya sedikit, melirik Asch melalui bahunya dan dalam sepersekian detik itu sang uke yakin ia melihat kilau keemasan di balik poni abu-abunya yang panjang, “... untuk ditaklukan kharisma-ku.”

Sesaat suasana begitu dramatis, di mana keduanya terus menatap mata satu sama lain (atau dalam kasus ini, Asch pikir dia sedang menatap ke tempat mata sang kepala sekolah berada). Namun atmosfir dramatis tersebut dengan segera diporak-porandakan saat Undertaker mendadak bersin, yang otomatis membuat Asch menjauh dan menghindari semprotan virus dari mantan anggota kepolisian tersebut. Undertaker tidak terlihat malu atau salah tingkah sama sekali. Dia hanya menunjukan cengirannya yang biasa lalu kembali menatap ke depan sambil meminta ijin untuk mengambil beberapa tisu yang disediakan di bagian dasbor demi menyeka mucus-nya yang keluar. Asch mendesah pelan lalu memutuskan untuk melihat pemandangan jalan di luar.

Mana mungkin aku takluk atau jatuh cinta pada orang seperti dia.

Ya... mana mungkin.

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius