Poison

Setelah tawarannya untuk berhenti dan beristirahat sejenak ditolak, Kirsch mengunci mulutnya kembali. Suara rumput terpijak dan semak dibelah jadi satu-satunya yang mengiringi perjalanan mereka menuju danau yang menjadi pusat dari hutan tersebut, menciptakan ilusi bahwa hanya ada mereka berdua di dalam sana.

Seandainya saja ia tak merasakan sebuah tatapan yang seolah mengawasi pergerakan mereka.

Tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyadarinya, dia coba menerka-nerka dalam kepala.

Hewan liar kah?
Tidak, tatapan yang dirasakannya bukan berasal dari sepasang mata binatang yang hendak menentukan apakah dua insan manusia yang telah lancang memasuki teritori mereka ini berbahaya atau tidak.

Tatapan itu terasa telah merekognisi mereka sebagai ancaman, dan tak kan melepaskan sosok mereka berdua dari pandangannya apapun yang terjadi.

"Die," kembali dia membuka mulut, dengan sengaja menyamakan timingnya dengan gerakan membelah semak, "kau pergilah duluan."

Sembari membisikkan arahan tersebut, dengan gerakan cepat dia menyelipkan sebuah botol kecil ke dalam genggaman tangan sang pendeta. Tersegel rapi di dalamnya dalah racun berwarna hitam pekat, racikannya yang hendak mereka gunakan untuk menuntaskan misi. Salah satu dari sekian botol yang dia siapkan, untuk berjaga-jaga.

"Gunakan hadiah dari Raja, untuk berjaga-jaga. Akan kususul dalam waktu setengah jam."

Sebuah dorongan pelan dia berikan pada punggung Diedre, isyarat agar kawannya itu segera bergerak, sebelum dia menarik dan melemparkan tiga buah pisau lempar ke arah asal tatapan yang mengawasi mereka.

==================================================================

Ketiga bilah pisau yang dia lemparkan menancap, meski bukan kepada tubuh individu yang mengamati pergerakan mereka, melainkan pada pohon yang menghadang di jalur lintas lemparannya.

Sebelah alis sang pembunuh bayaran terangkat. Tak terasa tanda-tanda lawan bereaksi terhadap serangan pengganti peringatan verbalnya itu. Entah apakah karena terlalu terkejut untuk bergerak dan mengeluarkan suara, atau karena si pengamat cukup terlatih untuk tidak mudah bereaksi pada gertakan sederhana seperti itu.

Apapun itu, satu hal yang jelas adalah: lawannya tidak lantas berpindah mengikuti Diedre, yang tengah berusaha mencapai danau terlebih dahulu.

Kirsch merasa perlu berterima kasih atas pilihan lawannya tersebut, karena ini artinya mereka tidak perlu main kejar-kejaran di dalam hutan.

Meski bukan berarti dia sudi main petak umpet di tempat seperti ini. Dengan seseorang yang kemungkinan besar mengincar nyawanya pula.

Menghela napas, sepasang manik ungunya kemudian dia pejamkan, menciptakan impresi bahwa dia melonggarkan pertahanannya. Mulutnya bergerak, berbicara dengan volume cukup keras untuk didengar sampai titik yang dia duga merupakan tempat pengawasnya bersembunyi.

"Aku sudah tahu kau mengikuti kami, jadi tidakkah menurutmu juga percuma saja terus bersembunyi seperti itu?"

==================================================================

Iming-imingnya berhasil.

Kedua ujung bibirnya sedikit tertarik, membentuk senyuman kecil kala mendengar langkah kaki yang keluar dari persembunyian, diikuti dengan sebuah pertanyaan yang tersuarakan dengan agak teredam ― karena lawannya mengenakan masker yang menutupi separuh wajahnya; informasi yang dia dapati ketika kembali membuka mata untuk melihat seperti apa paras sang Ravarian.

"Hmm. Aku tidak terlalu suka pertanyaan retoris," balasnya sambil berkacak pinggang dengan tangannya yang tak menggenggam pedang. "Kamu bisa menerka sendiri jawabannya, err..."

Membuka laci-laci arsip seputar anggota pasukan Ravaryn di dalam otaknya, mencari nama pemilik penampilan yang sesuai dengan pengamatannya saat ini. Wanita, tampak berusia 20 tahunan, memiliki rambut panjang berwarna putih keperakan... ah.

"Charlotte." Senyuman di bibirnya semakin melebar, menyiratkan kepuasan sederhana lantaran berhasil mengetahui identitas lawannya.

"Karena seandainya pun aku memberi jawaban yang lugas seperti, 'oh, aku hanya tersesat waktu berjalan-jalan', kau tidak akan percaya lalu membiarkanku pergi begitu saja, benar?"

==================================================================

Perlu diakui, bahwa meskipun dia mengoleksi data tentang musuh (dan juga teman), data yang dia kumpulkan masih sangat kurang. Terutama, data mengenai gaya bertempur orang-orang yang jarang tampil di depan seperti Assassin wanita di hadapannya ini.

Karena itulah baru tahu diketahuinya bahwa sang prajurit dari Barat ternyata seorang pengguna pedang pula. Terlebih lagi, Kirsch dapat merasakan bahwa ilmu berpedangnya tak bisa diremehkan.

Lucu sekali, Nasib ― cemoohnya dalam hati seraya menyunggingkan seringai tipis terhadap kalimat menantang sang lawan.

"Tentu, tentu. Aku pun ingin bisa segera pulang dan bermanja dengan para kesayanganku...!"

Bersamaan dengan dia mengakhiri kalimatnya, Kirsch melejit ke arah sang Ravarian.

Jarak di antara mereka memendek hanya dalam hitungan detik, dan dalam waktu yang singkat itu pula dia mengeluarkan dua bilah pisau lempar, yang dia lemparkan ke arah mata si wanita bertopeng dengan tujuan mendistraksi sementara pedangnya dia hunuskan mengincar lengan yang menggenggam pedang.

==================================================================

Mendapati lemparan pisaunya dielak dan sabetan pedangnya ditepis membuat seringai yang bertengger di bibir Kirsch semakin tertarik melebar.

Tampaknya mereka berdua cukup seimbang dalam aspek kekuatan maupun kegesitan. Dibuktikan dari bagaimana setelahnya sang Assassin wanita tak menunggunya untuk membuat serangan lain, melainkan segera balas menyerang, bermaksud menyarangkan sebuah tendangan cambuk ke area lutut kakinya. Serangan tersebut memaksa Kirsch untuk melompat mundur ke belakang, mengambil jarak aman.

Sebelah tangan kembali merogoh kantung untuk meraih sejumlah pisau lempar lain, namun belum sempat ujung jari menyentuh pegangannya, suara jeritan wanita mencapai indra pendengarannya.

Wanita?

Kontan Kirsch menatap wajah lawannya, mencari tanda-tanda yang bisa mengonfirmasi dugaannya: bahwa yang berteriak itu adalah kawan wanita itu. Namun belum mendapat jawabannya, dia terpikirkan hal lain lagi.

Suara itu berasal dari arah danau.

Diedre!

Berpikir cepat, tangannya yang semula bermaksud mengeluarkan pisau berganti tujuan, ganti menarik keluar sebuah bom kecil yang langsung dilemparkannya ke tanah, menghasilkan ledakan cahaya untuk menghalangi pandangan lawannya selama beberapa detik.

Dalam beberapa detik itu dia melesat meninggalkan pertarungannya dengan sang Assassin asal Ravaryn, mengikuti jalur yang tadi ditempuh oleh Diedre untuk mencapai danau.

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius