Posts

Foto

Image
"Aha! Kei-neechan ketemu!" "Mou, kalau Nana-chan yang jadi hantunya permainannya jadi cepat selesai!" Gadis kecil dengan rambut cokelat yang diikat ke samping itu hanya tertawa lebar, sebelum berlari ke arah di mana teman-temannya yang lain berkumpul. Gadis dengan surai keemasan yang tadi ia temukan mengikuti dengan langkah gontai dan wajah cemberut, yang segera menghilang begitu melihat adik laki-lakinya berlari ke arahnya. "Kae-chan! Kau pasti ditemukan paling pertama oleh Nana-chan, ya?" Bocah yang dipanggil Kae-chan itu tidak menjawab apa-apa. "Hei, ayo kita kembali!" seru bocah yang paling tinggi di antara mereka, Chihiro. "Ayah bilang ia ingin memfoto kita semua!" "Hee~ benarkah? Kita jarang difoto bersama!" bocah laki-laki dengan sebuah bandana merah terikat di kepala, Raijin, menyahut. "Kalau begitu, ayo kita kembali!" Nana bersorak riang, menggandeng tangan Nagisa, gadis berpenampilan tomboi, y...

Perfection

Image
"Mukuro- kun ~" Ia masuk ke dalam ruangan itu, mendekati sosok pemilik surai sebiru malam yang dibiarkan tergerai yang tengah terbaring di atas sebuah ranjang king size . Senyumnya terus terpasang sementara jarak antara ia dan lelaki yang masih tertidur itu semakin memendek. "Lihat apa yang kubawa." Tangannya, yang sedari tadi menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya, bergerak untuk meletakkan sesuatu di sisi kepala si surai kebiruan. Sebuah bunga. Bunga dengan kelompak berwarna merah muda dan benang sari kuning yang berkerumun, menjadikan perhiasan mahkota bunga yang indah. "Kau tahu apa ini, Mukuro- kun ?" Ia terus mengajak bicara pria yang tetap terlelap itu. "Ini bunga nanas. Bunga dari buah yang tidak kau sukai karena potongan rambutmu sering disama-samakan dengan buah tropis itu. Aku mendatangkannya khusus dari perkebunan nanas terbaik di dunia, lho." Pria yang berada di atas ranjang itu tetap bergeming, tak terpeng...

Myth Era Saint snippet 1

"Sa. Dal. Suuuuddd!" Suara yang akrab di telinga itu membuat lelaki dengan surai panjang berwarna keemasan itu bergidik ngeri. Segera ia percepat langkahnya, namun nyatanya tetap saja ia tidak bisa menghindari pelukan orang yang memanggil namanya tadi. "Lepaskan aku, Antares." Antares, orang yang memeluknya itu, hanya menyeringai lebar dan mempererat pelukannya. "Jangan dingin begitu, Aquarius. Biarkan aku memelukmu~ badanmu dingin, jadinya enak dipeluk tiap kali aku kepanasan~" Sadalsuud mengerang pelan, berusaha menjauhkan kepala Antares yang kini disandarkan pada bahunya. Sebenarnya ia tidak ada masalah melakukan kontak fisik seperti ini dengan Antares. Lebih tepatnya, tidak masalah jika lelaki dengan warna rambut yang menyerupai langit senja itu melakukannya saat mereka ada di dalam kuil Aquarius atau kuil Scorpio. Tapi kini mereka berdiri di anak tangga yang menghubungkan kuil Leo dengan kuil Cancer. Ia tidak mau— "Oh? Romantis sekali....

[songfic] Temui Aku

To: Lilac 11.11.2011    11:59 PM Happy 5 month anniversary to us. Iris biru-merahnya menatap layar ponselnya. Mengerjap sekali. Membaca pesan itu lagi. Mengerjap. Lalu pada akhirnya membuat ibu jarinya menekan tombol back  berkali-kali, hingga layar menampakkan menu utama. Menghela napas, ia meletakkan ponselnya di atas pangkuannya. Mendongakkan kepalanya, matanya kini tertuju pada langit biru di atasnya. Luas terbentang, begitu cerah dan bercahaya bagaikan sayap malaikat yang melingkup dunia. "Sayap... eh...?" Seringai tipis terulas di bibirnya. Seringai ironi. "Sepertinya aku tidak bisa lagi untuk tidak menghubungkan segala sesuatu denganmu." . . . "Di mana ilusionis itu."

[CavaAla] Untitled chapter 2

"Alaude?" "Apa." "Tersenyumlah sedikit." Permintaan itu membuat sang pemilik surai berwarna platinum blonde itu mendelik ke arah lawan bicaranya. Yang dipelototi hanya tertawa pelan, tampak tak terintimidasi sama sekali. "Aku tahu kau masih kesal dengan peristiwa yang terjadi di kantormu tempo hari," si lawan bicara—seorang pria dengan surai keemasan dan iris oranye senja—melipat kedua tangannya di depan dada, masih tersenyum sembari menatap Alaude, "tapi kau bisa melupakan masalah itu barang sejenak, 'kan?" Alaude mendengus, tidak membalas apa-apa. Ia menoleh melihat ke luar jendela, menyadari bahwa pemandangan di luar sana dipenuhi oleh pepohonan tinggi, tanda bahwa mereka menjauhi area perkotaan. Giotto memang mengatakan bahwa mereka akan mendatangi tempat salah seorang koleganya, tapi tidak menjelaskan di mana tepatnya sang kolega tinggal. Dan, ya. Hanya ada mereka berdua di dalam kereta kuda itu. Yang mengendalikan...

恋人を殺したの日 (The Day I Murder My Lover)

Merah. Merah pekat. Warna cairan tubuh yang mengalir keluar dari luka yang kubuat saat kuhujam dada kananmu dengan belati yang sampai saat ini masih kugenggam erat. Entah mengapa... ada sedikit rasa segar merasukiku saat aku melihat tubuhmu menggeliat sementara kau kesulitan bernapas. Entah mengapa... ada euforia aneh yang makin merebak luas seiring dengan berjalannya waktu, meracuni akal sehatku, sementara wajahmu semakin memucat, kesakitan. Aku berlutut di sampingmu, merunduk, mendekatkan wajahku dengan wajahmu. Napasmu berat, terengah. Sorot matamu tajam menatapku, penuh benci dan bersit dendam. Marah padaku? Kenapa? Bukankah kau memang pantas mendapat perlakuan seperti ini? Kau terlihat sangat indah, sayang. Seandainya kau bisa melihat dirimu sendiri, maka akan kau sadari itu. Bagaimana kulitmu yang semakin memucat, juga surai seputih salju yang membuatmu terlihat unik di mata khalayak umum, ternoda oleh darahmu sendiri. Sekali lagi ku jatuh cinta padamu. ...

[CavaAla] Untitled chapter 1

"Dingin..." Merapatkan jaketnya dalam usahanya untuk menghangatkan diri, detektif dengan rambut berwarna platinum blond itu bersikukuh untuk tetap tinggal di tempatnya berdiri sekarang—merapat pada dinding kusam sebuah bangunan tua, di dekat pelabuhan tak terpakai Sisilia. Uap menguar keluar tiap kali ia menghembuskan napasnya, menandakan rendahnya suhu udara malam itu. Tapi ia tidak peduli. Ia harus tetap tinggal di sana, menunggu dan waspada agar dapat dengan sigap menangkap targetnya. Menyelipkan tangannya ke dalam kantong mantelnya, ia meraih selembar foto dan menggunakan bantuan cahaya bulan untuk melihat gambar yang terdapat di sana. Gambar wajah seorang pria dengan penampilan sedikit urakan—rambut merah kusam berantakan, jenggot yang tak dicukur dan tatapan mata seolah jengkel. Memang ada kemungkinan besar targetnya akan mengubah penampilannya secara total agar tidak dikenali, tapi tanda lahir di bawah mata kirinya tidak akan bisa dihilangkan. Bunyi sol sepatu...