Posts

Celebrating

Apartemen sederhana. Satu kamar tidur ukuran besar, satu ruang tamu, satu kamar mandi, satu gudang, satu ruang makan yang digabung dengan dapur. Dapur yang dipenuhi aroma manis yang lezat dan suara seseorang membuat kue. Adonan masuk ke oven, timer  bergerak. Tangan yang kini tak mengerjakan apa-apa beralih membereskan kekacauan di atas meja, menatanya menjadi sesuatu yang lebih pantas dilihat. Bunyi denting nyaring dan kue matang dikeluarkan. Dihias indah dengan icing coklat, coklat beras, marshmallow , dan whipped cream . Diletakkan di atas piring lebar yang dialasi kain berenda. Dibawa ke tengah-tengah meja makan. Helaan napas lega. Senyum bangga. "Nah." Sang koki melepaskan sarung tangan dan celemek—seragam perang yang wajib dikenakan saat memanggang kue—yang ia kenakan, meletakannya asal-asalan di atas kabinet, lalu berkacak pinggang. "Kuenya sudah siap. Kadonya juga sudah. Bagaimana kalau kita mulai saja?" Tersenyum, ia menduduk...

Omake

“Guru.” “Ya, Manigoldo?” “Memangnya perempuan boleh ikut berlatih menjadi Saint Athena, ya?” “Tentu saja boleh. Asal mereka punya tekad untuk bertempur demi Athena, aku tidak punya hak untuk melarang mereka untuk tidak mengikuti pelatihan menjadi Saint.” “Bahkan perempuan sekecil Albafica juga?” Sage mendongak, berhenti dari pekerjaannya mengoreksi hasil latihan menulis aksara Yunani milik Manigoldo. (Dia memang mengharuskan para prajurit Athena untuk setidaknya bisa membaca dan berhitung dan, bagi mereka yang akan menjadi Gold Saint, berbicara dalam berbagai bahasa.) “Albafica?” Manigoldo, yang duduk di seberangnya, mengangguk. “Sejak kapan, ‘sih, dia di sini? Sepertinya dia sudah terbiasa dengan latihan-latihan menjadi Saint, ya?” “... Albafica sudah berada di sini sejak ia masih berupa bayi mungil.” “Benarkah?” “Benar. Tapi, kau perlu mengoreksi sesuatu, Manigoldo.” “Apa?” Sage mengetukkan pensil di tangannya kepada sebuah soal y...

Illness

"Kalian ini ngapaiiin?" Kontan semua mahasiswa-mahasiswi yang duduk melingkar di salah satu sudut lapangan rumput itu menoleh, melihat ke arah yang dipandang oleh Karina. Beberapa yang memang duduk dekat Karina segera mengerti maksud ucapan gadis itu, sementara beberapa yang lain bertanya-tanya bingung, melongokan kepala untuk mencoba melihat apa yang terjadi. "Cieeee Yasmin!" "Cieeee Julian!" "Aduh, ada yang panas niiiih." Lalu gelak tawa segera memenuhi kumpulan itu, sementara Yasmin dan Julian ikut tertawa dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Beberapa terus mengompori, berusaha membuat keduanya salah tingkah. Bryan bertepuk tangan keras, meskipun ia masih menyeringai nakal--puas bersiul-siul dan membantu teman-temannya menggoda pasangan baru yang mereka temukan. "Hei, hei, sudah! Kita lanjutin bicara soal eventnya, ya." Pembicaraan kembali berlanjut, tapi tidak bisa berlangsung serius total. Dua orang target kembal...

Rivalry

"Berapa nilai Choukai -mu hari ini?" "80. Pas." "B+ ya... aku, dong, 95." "Eciee... kalau kamu, Vi?" Vivi mengerjap pelan saat merasakan teman-temannya menatapnya dengan wajah penasaran. Ia buru-buru melepas salah satu  earphone yang menyumbat telinganya. " Sumimasen , bilang apa kamu tadi, Yui?" "Hedeh..." Yui menghela napas dan menggelengkan kepala, sementara teman-temannya yang lain tertawa pelan. "Nilaimu pas tesuto Choukai  tadi! Berapa?" "Oh... sama kayak Putri, 95." Vivi nyengir selama dua detik, lalu merengut karena teringat sesuatu. "Kita berdua seri sama Julian kali ini. Ya, 'kan, Put'?" Putri mengangguk. "Baru kali ini nilai tesuto  kita bertiga sama." Helaan napas tanda kecewa. "Biasanya kami berdua bisa melampaui nilai Julian, atau salah satu dari kami menang dan yang satunya seri dengan dia, atau malah salah satu menang, salah satu kalah. Ajaib ba...

Protective

"Albafica!" Kepalanya refleks menoleh ke asal suara dan senyumnya mengembang saat melihat sosok berambut merah yang berjalan ke arahnya. "Ayah." Lugonis ikut tersenyum. Begitu ia tiba di hadapan Albafica, ia langsung menepuk pelan pundak putranya itu. "Syukurlah kau terlihat sehat-sehat saja. Tidak ada masalah apa-apa di Hogwarts, 'kan?" "Jikalau ada, bukan sesuatu yang perlu Ayah khawatirkan." "Hm... lalu, mana Aphrodite?" "Kurasa belum keluar dari kompartemennya..." Keduanya menoleh ke arah pintu-pintu gerbong yang dipadati oleh murid-murid Hogwarts. Mata mereka awas mencari, dan akhirnya menemukan sosok berjenis kelamin ambigu yang wajahnya lumayan mirip Albafica berdesakan keluar sambil menyeret koper yang ukurannya lebih dari setengah tinggi badannya. Lugonis segera mengacungkan tangan sambil berseru, "Aphrodite!" Yang dipanggil langsung bereaksi dan bergegas menyeruak kerumunan untuk mende...

Scraped: Role Reversal

“Timote—” “Luce- neesaaaaaaaaaaaaann !” Tubuhnya ditarik dari belakang dan dipaksa berbalik menghadap koridor. Bisa ia rasakan tangan yang menggenggam erat bagian belakang sweater yang ia kenakan gemetar hebat, dan ia tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sudah menjadikan dirinya tameng dadakan itu. “Skull, ada apa denganmu kali ini?” Skull dengan takut-takut mengintip kea rah koridor, hendak menjawab pertanyaan Luce ketika ia melihat seseorang berlari ke arah mereka. Kontan saja ia memekik pelan dan kembali mengkeret di belakang Luce, seolah gadis itu cukup besar untuk menyembunyikan sosoknya. Luce menghela napas pendek saat menyadari apa yang membuat juniornya yang satu ini begitu takut. “Halo, Viper.” Ia tersenyum lembut, menyapa seorang junior yang telah berhenti di hadapannya. “Ada masalah dengan Skull lagi?” “Kapan aku tidak ada masalah dengan tukang hutang itu?” Viper mendengus, matanya tajam menatap Skull yang semakin ciut di balik pu...

Destiny

"Sudah siap?" Luce berjengit kaget mendengar suara bariton yang sangat familiar itu. Ia berbalik, sedikit cemberut untuk menyembunyikan kekagetannya, dan berkacak pinggang seraya berkata, "Tidak sopan masuk ke kamar yang dihuni seorang perempuan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Reborn!" Reborn mendengus. "Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali. Kau saja yang terlalu asyik melamun sampai-sampai tidak mendengarkan. Kebiasaan jelek." Pemuda berfedora itu menyeringai tipis saat sekilas ia melihat wajah gadis belia yang berdiri di depan cermin itu memerah. Sekilas, karena Luce buru-buru memalingkan muka. "Kesampingkan itu dan kembali ke pertanyaanku: sudah siap?" "... yang lainnya?" "Mereka menunggumu di bawah." Menghela napas, Luce kembali berbalik menghadap cermin untuk memeriksa penampilannya. Berputar ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah dress  putih selutut dan jubah panjang berwarna sama yang ia kenakan...