Scraped: Role Reversal

“Timote—”

“Luce-neesaaaaaaaaaaaaann!”

Tubuhnya ditarik dari belakang dan dipaksa berbalik menghadap koridor. Bisa ia rasakan tangan yang menggenggam erat bagian belakang sweater yang ia kenakan gemetar hebat, dan ia tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sudah menjadikan dirinya tameng dadakan itu.

“Skull, ada apa denganmu kali ini?”

Skull dengan takut-takut mengintip kea rah koridor, hendak menjawab pertanyaan Luce ketika ia melihat seseorang berlari ke arah mereka. Kontan saja ia memekik pelan dan kembali mengkeret di belakang Luce, seolah gadis itu cukup besar untuk menyembunyikan sosoknya. Luce menghela napas pendek saat menyadari apa yang membuat juniornya yang satu ini begitu takut.

“Halo, Viper.” Ia tersenyum lembut, menyapa seorang junior yang telah berhenti di hadapannya. “Ada masalah dengan Skull lagi?”

“Kapan aku tidak ada masalah dengan tukang hutang itu?” Viper mendengus, matanya tajam menatap Skull yang semakin ciut di balik punggung Luce. “Dia meminjam uangku Jumat kemarin untuk membeli helm dan janji akan membayarnya hari ini, tapi begitu kutagih dia bilang tidak punya uang.”

“Tentu saja tidak punya!” Skull memberanikan diri berteriak. “Kau mengenakan bunga pada pinjaman uang itu!”

“Untuk membuatmu jera.”

“Kikir!”

“Memang.”

“Mata duitan!”

“Itulah aku.”

Luce menghela napas, lagi, sementara keduanya bertengkar. Setelah ia tidak tahan, barulah ia mengangkat kedua tangannya, secara efektif membuat dua anak kelas satu itu berhenti. “Viper, kau seharusnya tidak bersikap sejahat itu. Ijinkan dia membayar sejumlah uang yang ia pinjam saja, ya?”

“Tidak mau.” Viper membalas. Ngotot.

“Kuberikan sekotak biscotti kalau kau setuju.”

Hening lama.

Lalu sebuah anggukan menyerah dan sorak riang Skull, yang segera menyerahkan uang sesuai jumlah yang ia pinjam dari Viper. Pemuda berambut indigo gelap itu menghitung uang yang ia terima dengan sedikit menggerutu, lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi melenggang pergi dari sana.

“Akhirnya...” Skull berjalan keluar dari tempatnya bersembunyi, menghadap Luce untuk menjabat—atau lebih tepatnya, mengguncang hebat—tangan gadis itu. “Molto grazie, Luce-nee! Lagi-lagi kau menyelamatkanku!”

“Tidak masalah,” Luce tersenyum, meski merasa tangannya sedikit sakit. “Tapi kau harus berhenti meminjam uang darinya, Skull. Bukankah sudah kubilang untuk menghubungiku kalau kau ada masalah keuangan?”

“Maunya, ‘sih, begitu... tapi waktu itu benar-benar kepepet dan kenalanku yang berada paling dekat saat itu Cuma Viper. Jadi, yah...”

“Jadi, pergi dari ambang pintu, kalian berdua.”

Keduanya melihat ke arah orang yang tiba-tiba berceletuk. Seorang gadis berambut biru yang agak berantakan, dengan Timoteo berdiri di belakangnya sambil tersenyum kecil. Baik Luce maupun Skull juga ikut tersenyum kecil dan buru-buru menyingkir dari ambang pintu kelas, membiarkan Timoteo dan si gadis lewat.

“Kalian mengganggu sekali,” tukas gadis itu lagi, jelas merasa jengkel. “Setidaknya pilih tempat yang tidak akan mengganggu orang lain jika akan berdebat!”

“Maaf, Lal, tidak sengaja,” Luce masih tersenyum, sehingga permintaan maafnya itu tidak terlihat serius.

“Sudahlah, Lal,” Timoteo menepuk bahu Lal pelan. “Kalau PMS jangan dilampiaskan pada Luce dan Skull, tapi pada Colonnello. Dia pasti akan senang sekali—aduh!”

Tulang kering Timoteo menerima tendangan sol sepatu dari Lal, keras. Skull menahan diri untuk tidak tertawa, sementara Luce tetap bertampang kalem sambil menatap Timoteo yang mulai melompat-lompat di satu kaki sambil memegangi bagian tubuhnya yang terluka. Semenit kemudian barulah pemuda berambut keabuan itu berhenti bersikap berlebihan dan menghadap Luce.

“Jadi... kenapa kau mendatangi kelas kami, Luce? Ada perlu denganku atau Lal?”

“Denganmu, sebenarnya,” Luce segera teringat hal yang ingin ia bicarakan dengan sepupunya itu. “Kau lihat Reborn, tidak? Kalian tadi ada kelas bersama, ‘kan? Kelas Menembak? Setelah itu dia pergi ke mana?”

Sementara Timoteo memasang pose berpikir, Lal menjawab cepat, “Kabur ke tempat persembunyiannya yang biasa, paling-paling.”

“Tempat persembunyian?”

“Iya, di—”

DHUAR!

Suara ledakan yang berasal dari sebuah ruangan di ujung koridor lantai dua gedung barat itu mengagetkan semua murid yang berada di lantai yang sama. Beberapa hanya saling pandang dan bertanya-tanya pada teman yang sama-sama tidak tahu apa-apa. Beberapa langsung mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi—termasuk Luce dan kawan-kawan. Mereka bergegas berlari ke arah ruangan yang dimaksud—ruang laboratorium untuk kelas Teknik Mesin—dan menemukan asap mengepul serta seseorang berambut hijau dengan jas putih terkotori debu dan arang terbatuk-batuk keluar dari pintu yang terbuka.

“Kau lagi, Verde?” Timoteo menghela napas panjang, setengah jengkel. “Apa yang kau lakukan kali ini, membuat bom?”

“Berisik,” Verde, si rambut hijau itu, menggerutu setelah selesai berbatuk-batuk ria. “Ini bukan urusanmu, junior.”

“Ya, ini urusanmu denganku, teman seangkatan.”

Yang hadir di sana menoleh dan mendapati seorang pemuda Asia dengan rambut hitam panjang yang dikepang satu berjalan mendekat untuk menyentil dahi Verde. “Sudah kubilang untuk membatasi dirimu, ‘kan, Verde? Ini sudah ketiga kalinya untuk bulan ini. Kepala sekolah bisa-bisa mengeluarkanmu.”

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius