Destiny

"Sudah siap?"

Luce berjengit kaget mendengar suara bariton yang sangat familiar itu. Ia berbalik, sedikit cemberut untuk menyembunyikan kekagetannya, dan berkacak pinggang seraya berkata, "Tidak sopan masuk ke kamar yang dihuni seorang perempuan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Reborn!"

Reborn mendengus. "Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali. Kau saja yang terlalu asyik melamun sampai-sampai tidak mendengarkan. Kebiasaan jelek."

Pemuda berfedora itu menyeringai tipis saat sekilas ia melihat wajah gadis belia yang berdiri di depan cermin itu memerah. Sekilas, karena Luce buru-buru memalingkan muka.

"Kesampingkan itu dan kembali ke pertanyaanku: sudah siap?"

"... yang lainnya?"

"Mereka menunggumu di bawah."

Menghela napas, Luce kembali berbalik menghadap cermin untuk memeriksa penampilannya. Berputar ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah dress putih selutut dan jubah panjang berwarna sama yang ia kenakan terlihat berantakan atau tidak. Setelah yakin bahwa ia akan terlihat pantas berdiri di depan khalayak umum, ia berjalan ke arah pintu, hendak menemui kawan-kawannya yang menunggunya di lantai satu.

Namun, langkahnya terhenti kala Reborn menggenggam lengannya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Kita sudah membahas ini sebelumnya, Reborn."

"Ini kesempatan terakhirmu jika kau berubah pikiran. Jika kau ingin menolak kewajibanmu mewarisi posisi sebagai bos Vongola."

Tawa hambar. "Hibari akan membunuhku. Aku bisa membayangkan apa yang akan ia katakan kalau tahu muridnya yang satu ini nekad melarikan diri."

"Aku akan melindungimu darinya. Dari siapapun yang mencoba memaksakan kehendak mereka padamu."

Hening.

Lama sekali, hingga Luce berbalik menghadap Sun Guardian-nya itu dan menunjukkan senyum termanisnya.

"Ini takdirku."

Dan keluarlah kalimat andalan Luce. Reborn memberengut kesal, ingin sekali berteriak bahwa ia akan mengubah takdir gadis itu, tidak peduli jika ia harus mati sebagai bayarannya. Tapi, menghadapi senyum dan kilat mata yang jelas merefleksikan rasa percaya diri dan tekad besar itu, Reborn hanya bisa diam, menyerah, lalu melepaskan pegangannya pada lengan Luce.

Masih tersenyum, Luce meraih tangan Reborn, menggenggamnya lembut, lalu mengajaknya pergi meninggalkan ruangan. Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, berbagi kehangatan dan keberanian, mengeratkan ikatan batin. Ikatan yang terputus setelah mereka menuruni tangga dan melihat kawan-kawan mereka menunggu di ujungnya.

Luce mengedarkan pandangan, seolah mengabsen mereka satu persatu. Colonnello, Fon, Skull, Verde, dan Viper. Semuanya menatapnya dengan penuh antusias, menunggu titahnya. Kembali gadis itu menarik napas, sebelum maju dengan diikuti pelindung-pelindungnya.

"Andiamo."

.
.
.

[1] Andiamo: Let's go. Bahasa Italia.

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius