Posts

月の下で [2]

In the Moonlight © aicchan . When he opened his eyes, the bright light of the lamp on the ceiling greeted him. He had to lift his hand to block it, and that was when he realized that his arm had been bandaged. It wasn't necessary, but whoever had done it for him certainly didn't know about his real identity. "You're awake?" He turned around and a man clad in police uniform--white shirt, black tie, police badge, black pants, holster--came into his line of view. He had long hair with the color of night's blue. His eyes were gentle yet firm, reflecting his personality. He took notice of the insignia on the man's uniform, finding himself mildly surprised to learn of his rank--five stars; he would either be a Chief of Department or Police Commissioner. Either way, his face seemed to be too young to be someone of such high rank. He would've point it out as a question, if only he didn't remember that he was supposed to be a sick person and a victi...

Belle en het Beest #3 (var 2)

In the Moonlight © aicchan . . . Suara tapak kaki kuda adalah satu-satunya bunyi yang terdengar sementara pasukanku terus maju, menuju ibukota kerajaan kami yang jaraknya kurang dari satu kilometer lagi. Anak buahku tidak ada yang berani mengobrol dengan teman di sebelahnya. Sama sepertiku, mereka merasa tegang karena ada seorang ‘tamu’ yang saat ini tengah kami kawal. ‘Tamu’ yang dimaksud berada di tengah-tengah formasi, menunggang kuda yang kusewa dan sengaja kubawa serta untuk menjadi kendaraan sang ‘tamu’. Namanya Minos. Seorang—apa istilah yang disebutkannya tadi? Oh, ya—vampir. Monster penghisap darah yang hanya muncul ketika matahari turun dari tahtanya di langit. Namun, ia berbeda dari vampir biasa. Buktinya, ia tenang-tenang saja mengendarai kuda di bawah terik matahari seperti ini. Selain itu, berbeda dengan musuh besar yang tengah kerajaan kami hadapi, ia pun tidak buta oleh nafsu untuk memangsa manusia. Ia seperti sebuah anomali, meski menurut pengakuannya ...

Belle en het Beest #3 (var 1)

In the Moonlight © aicchan . . . Suara tapak kaki kuda adalah satu-satunya bunyi yang terdengar sementara pasukanku terus maju, menuju ibukota kerajaan kami yang jaraknya kurang dari satu kilometer lagi. Anak buahku tidak ada yang berani mengobrol dengan teman di sebelahnya, mungkin karena mereka menyadari betapa tegangnya diriku saat ini dan mereka pun ikut-ikutan merasa tegang. Aku tidak bermaksud membuat mereka khawatir akan sesuatu yang tidak mereka ketahui, tapi di sisi lain aku menyukai keheningan ini—membuatku bisa berpikir dengan lebih tenang. Beberapa jam yang lalu aku masih berada di kota pelabuhan, melakukan sebuah negosiasi dengan orang—ah, tidak—makhluk yang diyakini Dohko dapat mengeluarkan kami rakyat Flandre dari ancaman... apa istilah yang disebutkan orang itu tadi? Oh, ya. Vampir. Monster penghisap darah yang hanya muncul ketika matahari turun dari tahtanya di langit. Negosiasi itu berjalan lumayan alot karena lelaki yang menjadi lawanku itu angk...

Endymio

When the large double door of the Pope's Chamber swung open, they—the elite knights of Athena, the Gold Saints, the strongest warriors who pledged to serve the Goddess of War, immediately went down to their knees. They had their head bowing low, a gesture of respect toward the ones walking through the aisle toward the dais. One was the Pope, recognizable by the flowing white, silky robe that swept the floor as he followed the owner of those slender legs. The legs of their Athena, no doubt. None of the knights dared to rise their head, to peek at the appearance of their Goddess, not even the ever so courageous Leo or the ever so mischievous Cancer, before the Pope spoke. "Raise your head, Knights of Athena. You shall now hear a greeting speech from Athena." So they did. They lifted their head, eyes focused on the figure that now had occupied the throne on the dais, then widened. Without a doubt, when all twelve of them heard that the reincarnation of the God...

Belle en het Beest #2

In the Moonlight © aicchan . . . “Tuan berambut abu-abu di sana.” Segera kuhentikan langkahku untuk berbalik dan melihat siapa yang menyapaku. Aku mengernyit ketika yang awalnya kukira sebagai seseorang yang baru saja kuinjak kakinya saat akan keluar dari kerumunan penumpang kapal (hei, itu tidak bisa dihindari, oke? Begitu banyak orang turun di pelabuhan itu dan kami terpaksa berdesak-desakan dan sedikit saling dorong, tanpa sekalipun melihat apa yang kami jejak!) ternyata adalah seorang prajurit kerajaan. Dilihat dari seragamnya, aku segera mengetahui bahwa pangkat, atau setidaknya, tugas, mereka berbeda dengan prajurit-prajurit kerajaan yang ditempatkan di kapal untuk mengamankan isi kapal selama perjalanan atau yang ditugasi untuk menjaga ketertiban di pelabuhan yang ramai itu. Salah seorang pedagang di pelabuhan itu, yang berdiri tak jauh dariku, membantu membenarkan dugaanku dengan bergumam takjub, “Pasukan Elit Raja! Apa yang mereka lakukan di sini?” Pertanyaan si pe...

Belle en het Beest #1

In the Moonlight © aicchan . . . "Lelaki tercantik yang bisa kalian liat sekali dalam seumur hidup. Julukan mereka Beauty and The Beast." Camus mendongakkan kepala, mengalihkan perhatiannya dari makanan di atas meja ke arah Kardia, tepat ketika kepala kekasihnya itu telak terkena sendok yang dilempar oleh Minos. Suara erangan pelan sang vampir ditenggelamkan oleh tawa Saga, yang pastinya sudah akan dijadikan sasaran empuk oleh Minos jika saja Albafica tidak menahan partnernya itu. Beauty and the Beast , Camus merenung sejenak sembari menatap Albafica, yang sudah kembali melanjutkan kegiatan makannya. Memang pas digunakan untuk menjuluki hubungan Albafica dan Minos, dan bukan hanya pas karena fakta tentang paras dan perilaku mereka. Ada sesuatu yang lain... Senyum tipis menghias bibir Camus, meski cepat digantikan dengan senyuman canggung saat ia sadar Albafica sedang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Mereka berdua kembali fokus kepada makanan milik masing...

月の下で [1]

In the Moonlight © aicchan . Run , he scolded himself. Run as fast as you can. He dared not to look back at his pursuers. Without even glancing back through his shoulders, he knew they were trying to follow him the best they can. They're reek of blood. So thick the scent was that he couldn't help himself but covered the lower half of his face, though it did little in blocking their smell. He tried to shake them off. Jumping through buildings, over high walls that would be deemed as dead end, slid in trees of Central Park. But they just wouldn't stop. They aimed shots at him now and then, trying to slow him down or put a halt in the small game of cat and mouse game they played, but he smoothly evaded them all. Okay. Most of them. Because the last one grazed his shoulder, but it was enough to bring blood out of the torn skin and caused him to trip his own feet, making him ended up collapsing onto the hard cold ground. He couldn't believe that they would be bol...