Belle en het Beest #3 (var 2)

In the Moonlight © aicchan

.
.
.

Suara tapak kaki kuda adalah satu-satunya bunyi yang terdengar sementara pasukanku terus maju, menuju ibukota kerajaan kami yang jaraknya kurang dari satu kilometer lagi. Anak buahku tidak ada yang berani mengobrol dengan teman di sebelahnya. Sama sepertiku, mereka merasa tegang karena ada seorang ‘tamu’ yang saat ini tengah kami kawal. ‘Tamu’ yang dimaksud berada di tengah-tengah formasi, menunggang kuda yang kusewa dan sengaja kubawa serta untuk menjadi kendaraan sang ‘tamu’.

Namanya Minos. Seorang—apa istilah yang disebutkannya tadi? Oh, ya—vampir. Monster penghisap darah yang hanya muncul ketika matahari turun dari tahtanya di langit. Namun, ia berbeda dari vampir biasa. Buktinya, ia tenang-tenang saja mengendarai kuda di bawah terik matahari seperti ini. Selain itu, berbeda dengan musuh besar yang tengah kerajaan kami hadapi, ia pun tidak buta oleh nafsu untuk memangsa manusia. Ia seperti sebuah anomali, meski menurut pengakuannya ketika kami berbincang beberapa jam yang lalu bahwa ada banyak lagi yang sama sepertinya, bahwa dalam komunitas mereka ada dua jenis vampir: murni dan artifisial.

Ketika kutanya apa maksudnya, ia menolak menerangkan dan malah memerintahku untuk membawanya ke hadapan Yang Mulia Raja, karena lebih mudah menjelaskan langsung pada penguasa tertinggi daripada membiarkan bawahan sepertiku untuk menyampaikan informasi krusial seperti itu pada Baginda Raja. Tidak ada jaminan bahwa aku bisa menyampaikannya sama persis dan mengubah makna ucapannya menjadi sesuatu yang rancu, katanya.

Kami baru berbicara selama beberapa menit namun aku langsung tak menyukai sikapnya. Arogan dan jelas ia memandang rendah aku yang hanya manusia biasa dan bawahan raja. Mungkin sifatnya itu ada kaitannya dengan fakta bahwa ia hidup lebih lama dariku dan secara praktis tahu lebih banyak tentang dunia daripadaku, mengenyam lebih banyak pengalaman hidup. Namun itu bukan berarti ia harus terang-terangan menunjukkan bahwa ia menganggap remeh diriku, ‘kan?

Aku menghela napas panjang.

“Oh? Apakah itu ibukota kalian?”

Aku melirik melewati bahuku. Kulihat dia menyibakkan poninya sedikit dan menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas apa yang berada di kejauhan. Puncak tertinggi dari Istana Yvelines Versaine sudah tampak jelas. Beberapa saat lagi kami akan melewati gerbang dinding yang melindungi wilayah ibukota.

“Benar. Itu Canterbury, pusat Kerajaan Flandre ini.” Aku mengarahkan lagi pandanganku ke depan. “Dan kastil yang puncaknya bisa kau lihat dari sini itu tempat tinggal Yang Mulia Raja dan keluarganya, Istana Yvelines Versaine—tempat tujuan kita. Kuharap kau ingat janjimu untuk menjaga sikap selama berada di kawasan ibukota, Vampir.”

Mataku tetap terfokus ke jalan di depanku, tapi aku tahu bahwa Minos sedang tersenyum lebar sekali. Senyum yang serupa dengan yang ditunjukkannya saat aku menyerah pada keinginannya untuk bertemu dan bernegosiasi langsung dengan Raja. Kawanan kecil kami terus bergerak dalam diam, melewati gerbang yang dijaga oleh pasukan patroli kota dan menembus jalan utama yang lurus membawa kami ke Istana Versaine.

Setelah kami turun dari kuda tunggangan kami masing-masing, aku membubarkan pasukanku, membiarkan mereka beristirahat. Minos sendiri kuberi isyarat untuk mengikutiku masuk ke dalam istana, yang dipatuhinya tanpa berkata apa-apa. Pintu depan kastil membuka dan aku tersenyum sopan kepada dua orang penjaganya yang memberi hormat padaku. Kami berdua berjalan masuk dan tiba di Serambi Utama. Di sana, bersandar pada salah satu pilar yang menjulang tinggi dan menopang langit-langit, kulihat sosok seseorang yang kukenal.

“Dohko!”

Dohko, sahabatku yang sudah bersama denganku semenjak kami sama-sama bergabung menjadi abdi kerajaan. Orang terdekatku yang bersama-sama denganku menerima kenaikan jabatan. Ia menjadi Peramal Istana, dan aku menjadi Komandan Pasukan Elit Raja. Ialah yang menemukan solusi atas krisis yang melanda Kerajaan Flandre dan menunjukkan padaku cara untuk menemukan Minos.

Ia, kusadari ketika jarak di antara kami berdua mengecil, terlihat waspada. Awalnya kukira ia khawatir terhadap Minos, yang terus mengikutiku dan kulihat melalui ekor mataku sedang tersenyum aneh sambil melihat sekelilingnya. Namun kemudian aku mengerti bahwa ia mencemaskan hal lain.

“Selamat datang kembali,” sapanya ramah. Mata cokelatnya mengerling ke arah ‘tamu’ yang kubawa selama beberapa detik lalu kembali terarah padaku. “Kau berhasil menemukannya. Aku tahu kami bisa mengandalkanmu, Shion.”

“Kau tidak perlu memujiku untuk hal seperti ini, Dohko.”

Sepertinya ucapanku akhirnya membuat Minos tertarik. Vampir itu akhirnya berhenti menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri dan tatapannya berhenti pada Dohko, yang menatapnya balik. Minos mendekatinya, membungkukan badannya sedikit demi bisa melihat jelas wajah sahabatku yang, well, tingginya di bawah rata-rata untuk pria seusianya. Ada senyuman sinis di wajah lelaki berambut keperakan itu saat ia selesai memperhatikan wajah Dohko.

“Jadi kau yang dikatakannya meramalkan kedatanganku kemari. Seharusnya aku sudah bisa menduganya—orang Timur memang punya kemampuan supranatural yang lebih hebat dan lebih mahir dalam masalah ramal meramal.”

Kulihat sebersit keterkejutan melintas di ekspresi wajah Dohko. Hanya sepersekian detik. Lelaki berdarah Asia itu tertawa lepas dan kemudian menepuk-nepuk lengan Minos—seolah-olah mereka kawan lama. “Kau ternyata orang yang menarik. Kurasa aku akan senang bekerja sama denganmu dalam menyelesaikan masalah kerajaan ini.”

“Aku pun merasa begitu. Semoga kau bisa secepatnya menemukan orang yang kucari itu, Ahli Nujum.”

“Kalau soal itu, kau pun perlu mengatakannya pada Baginda Raja, karena beliau yang bisa menggerakan seluruh rakyat kerajaan ini, kau mengerti maksudku, ‘kan? Ngomong-ngomong soal Raja,” ia memutari Minos, sedikit mendorong lelaki yang jauh lebih tinggi darinya itu untuk bergerak maju ke arah pintu ganda besar di ujung ruangan, “sebaiknya kita menemui beliau sekarang untuk menjelaskan segala tentangmu pada beliau. Aku yang akan menemanimu, karena Shion ada sedikit tugas.”

Aku menaikkan sebelah alisku. “Tugas apa? Dari Yang Mulia?”

“Ya. Kau diminta menjemput Tuan Putri—ia sudah pergi terlewat lama.”

“Lagi?” Rasa lelah yang sedaritadi berusaha kuabaikan mendadak serasa bertambah berkali-kali lipat. Tentang Tuan Putri kesayangan kami pergi keluar istana itu bukan hal yang baru. Beliau senang mendatangi padang bunga di dekat dinding ibukota, melihat-lihat bunga yang bermekaran, lalu kembali setelah lama duduk di tengah-tengah rimbunnya bunga. Yang baru adalah akhir-akhir ini beliau sering pergi tanpa pengawal dan hanya ditemani adik sepupu beliau—putra dari Penasehat Kerajaan, yang sekaligus adalah adik Raja. Tuan Putri berani melakukannya karena baru-baru ini ia selesai mengalahkan seluruh prajurit yang ditugaskan di istana dalam duel anggar. Ya, termasuk aku pun dikalahkannya. Entah kami harus bangga atau prihatin karena memiliki seorang tuan putri yang tomboi nan kuat sepertinya.

“Baiklah. Aku pergi sekarang. Tolong awasi si vampir itu baik-baik, Dohko.”

“Tidak masalah! Aku akan mengontakmu kalau ada apa-apa nanti.”

Aku baru akan berbalik ketika kutangkap cara Dohko menatapku. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Kecemasan yang tadi kulihat terpancar di kedua bola matanya muncul kembali. Tapi sebelum sempat aku bertanya, ia sudah menghadap ke depan dan membimbing Minos ke Ruang Takhta. Kuputuskan untuk bertanya nanti saja, setelah aku kembali dari misi pencarian Tuan Putri kami.

Yang berakhir bahkan sebelum sempat kulaksanakan.

Pintu besar yang menghubungkan halaman depan istana dengan Serambi Utama terbuka dan kulihat dua sosok—satu tinggi ramping, satu kecil namun tegap—berjalan memasuki Istana. Langsung kukenali mereka sebagai dua calon penerus takhta kerajaan ini. Sang Putri Tomboi dan Pangeran Mungil-nya. Keduanya tersenyum melihatku dan bergerak mendekatiku, dan aku pun memasang sikap sesopan mungkin.

“Tuan Putri, Pangeran, Anda berdua akhirnya kem—”

Aku tak mengakhiri kalimatku. Dalam sekejap mata, mendadak saja Minos melesat melewati sisiku, bergerak cepat ke arah dua orang anggota keluarga raja itu. Ia berhenti tepat di depan Tuan Putri, mengejutkan beliau dan sepupunya. Dari posisiku berdiri, bisa kulihat ekspresi terkesima terpampang di wajah Minos. Ekspresi umum siapapun yang untuk pertama kalinya melihat Tuan Putri. Beliau memang tomboi dan jagoan anggar, namun itu tidak menghapus kualitasnya sebagai seorang putri kerajaan—cantik, elegan, dan tampak cerdas. Adalah hal wajar jika Minos pun jatuh hati padanya.

“Oh, tidak.” Kudengar Dohko meringis—mendadak ia sudah berdiri di sampingku, mengamati insiden yang berlangsung di depan kami. “Ini yang kutakutkan.”

Dahiku mengkerut. “Apa yang kau takutkan?”

Pertanyaanku itu segera terjawab. Tanpa terduga Minos mencengkeram bahu Tuan Putri, membuat beliau lebih terkejut lagi. Lelaki asing itu mendekatkan wajahnya sementara Tuan Putri berusaha menjaga jarak semampunya. Beliau membuka mulutnya, namun tak ada suara yang keluar. Kemudian seringai lebar mengulas tampang Minos. Bahkan dari tempatku berada aku bisa melihat matanya berkilat berbahaya. Perasaanku tidak enak.

“Akhirnya kau kutemukan,” kudengar ia berucap, intonasinya seolah ia begitu bahagia. “Min sjelevenn!”

Detik berikutnya Minos sudah mendekap Tuan Putri begitu erat dan aku mendapat dorongan untuk mencabut pedang yang tersabuk di pinggangku lalu menusukkannya ke kepala makhluk kurang ajar itu—persetan dengan fakta bahwa ia adalah juru kunci penyelamat kerajaan ini.

“—PUTRI ALBAFICA!”

.
.
.

[to be continued]

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius