Mirage 1
[G27] [AU]
"—baiklah, dengan ini transaksi di antara kita telah tercapai. Terima kasih telah berbisnis dengan kami, Sawada-dono."
Pria yang dipanggil 'Sawada-dono'—atau lengkapnya adalah Sawada Ieyasu—itu tidak bereaksi banyak. Hanya tersenyum tipis dan menggumamkan "sama-sama" dengan suara pelan. Tatapan matanya datar, terarah pada lawan bicaranya yang sibuk merapikan berkas-berkas kontrak transaksi di antara mereka.
"Nah," lawan bicaranya—seorang pria muda nan tampan yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai Basilicum—selesai memasukkan kertas-kertas kontrak itu ke dalam map dan kini berdiri membungkuk di hadapan Ieyasu. "Saya akan panggilkan dia sekarang. Mohon Anda bersabar dan menunggu sejenak."
Lagi, Ieyasu tidak memberikan respon yang cukup berarti. Hanya anggukan kepala sekali, mengantar sosok Basilicum yang kemudian menghilang di balik pintu. Menghela napas, pria berpakaian necis itu menoleh ke arah jendela. Ia tampak seperti melihat pemandangan kebun di luar sana, tapi sesungguhnya pikirannya melanglang buana.
Memikirkan apa? Well, misalnya... alasan mengapa geisha yang baru ia beli ini harganya sangat murah.
Ya, dia sedang berada di sebuah okiya untuk membeli seorang geisha. Bukan untuk dinikahi, 'sih. Hanya untuk dimiliki.
Karena pada jaman ini, memiliki setidaknya satu geisha adalah keharusan bagi konglomerat. Harga geisha bergantung pada seberapa besar kualitas sang geisha. Semakin mahal, maka semakin baik. Karena itu, memiliki geisha yang berkualitas tinggi biasanya menandakan bahwa si pemilik adalah seseorang yang amat kaya.
Ieyasu, sebagai pemilik perusahaan besar Vongola Corp., datang kemari tentunya karena ia berniat membeli salah satu geisha yang membuatnya tertarik. Geisha yang satu ini terkenal sangat pandai menari. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan tariannya.
Dan yang jadi pikirannya adalah... lihatlah 4 paragraf sebelumnya.
'Kukira harganya akan sangat mahal karena kualitas dan popularitasnya. Tapi harganya hanya sepersepuluh dari jumlah uang yang kubawa', pikir Ieyasu seraya melirik koper-koper berisi uang dengan total 5 milyar yen yang sengaja ia bawa ke tempat itu agar ia dapat langsung membayar kontan. 'Kenapa bisa sangat murah begini? Apakah ia salah orang, atau...?'
"Maaf membuat Anda menunggu lama."
Perhatian Ieyasu segera teralih. Ia menoleh dan mendapati Basilicum telah kembali. Di sebelahnya adalah geisha yang ia beli—Tsunayoshi. Nama salah satu Shogun pada era Tokugawa, sama seperti Ieyasu. Sama seperti terakhir kali ia melihatnya, Tsunayoshi tampak anggun dengan busana ala geisha, membuatnya kelihatan semakin manis dan menggemaskan.
Ieyasu merasa kembali jatuh cinta padanya.
"Yoroshiku onegaishimasu, Goshujinsama."
.
.
.
(tbc)
"—baiklah, dengan ini transaksi di antara kita telah tercapai. Terima kasih telah berbisnis dengan kami, Sawada-dono."
Pria yang dipanggil 'Sawada-dono'—atau lengkapnya adalah Sawada Ieyasu—itu tidak bereaksi banyak. Hanya tersenyum tipis dan menggumamkan "sama-sama" dengan suara pelan. Tatapan matanya datar, terarah pada lawan bicaranya yang sibuk merapikan berkas-berkas kontrak transaksi di antara mereka.
"Nah," lawan bicaranya—seorang pria muda nan tampan yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai Basilicum—selesai memasukkan kertas-kertas kontrak itu ke dalam map dan kini berdiri membungkuk di hadapan Ieyasu. "Saya akan panggilkan dia sekarang. Mohon Anda bersabar dan menunggu sejenak."
Lagi, Ieyasu tidak memberikan respon yang cukup berarti. Hanya anggukan kepala sekali, mengantar sosok Basilicum yang kemudian menghilang di balik pintu. Menghela napas, pria berpakaian necis itu menoleh ke arah jendela. Ia tampak seperti melihat pemandangan kebun di luar sana, tapi sesungguhnya pikirannya melanglang buana.
Memikirkan apa? Well, misalnya... alasan mengapa geisha yang baru ia beli ini harganya sangat murah.
Ya, dia sedang berada di sebuah okiya untuk membeli seorang geisha. Bukan untuk dinikahi, 'sih. Hanya untuk dimiliki.
Karena pada jaman ini, memiliki setidaknya satu geisha adalah keharusan bagi konglomerat. Harga geisha bergantung pada seberapa besar kualitas sang geisha. Semakin mahal, maka semakin baik. Karena itu, memiliki geisha yang berkualitas tinggi biasanya menandakan bahwa si pemilik adalah seseorang yang amat kaya.
Ieyasu, sebagai pemilik perusahaan besar Vongola Corp., datang kemari tentunya karena ia berniat membeli salah satu geisha yang membuatnya tertarik. Geisha yang satu ini terkenal sangat pandai menari. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan tariannya.
Dan yang jadi pikirannya adalah... lihatlah 4 paragraf sebelumnya.
'Kukira harganya akan sangat mahal karena kualitas dan popularitasnya. Tapi harganya hanya sepersepuluh dari jumlah uang yang kubawa', pikir Ieyasu seraya melirik koper-koper berisi uang dengan total 5 milyar yen yang sengaja ia bawa ke tempat itu agar ia dapat langsung membayar kontan. 'Kenapa bisa sangat murah begini? Apakah ia salah orang, atau...?'
"Maaf membuat Anda menunggu lama."
Perhatian Ieyasu segera teralih. Ia menoleh dan mendapati Basilicum telah kembali. Di sebelahnya adalah geisha yang ia beli—Tsunayoshi. Nama salah satu Shogun pada era Tokugawa, sama seperti Ieyasu. Sama seperti terakhir kali ia melihatnya, Tsunayoshi tampak anggun dengan busana ala geisha, membuatnya kelihatan semakin manis dan menggemaskan.
Ieyasu merasa kembali jatuh cinta padanya.
"Yoroshiku onegaishimasu, Goshujinsama."
.
.
.
(tbc)
Comments
Post a Comment