Scrapped: A-11
Mata Albafica mengerjap malas sementara ia memandangi langit-langit kamarnya. Bukan, bukan karena langit-langit kamarnya didekor dengan amat sangat menarik sehingga ia rela menghabiskan waktu untuk mengamati detil-detilnya, namun lebih dikarenakan saat ini tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain melamun sambil menatap langit-langit.
Bagaimanapun, ia baru saja berhasil lolos dari cengkeraman dewa kematian setelah berjuang selama tiga hari tiga malam—atau itulah penjelasan yang diberikan gurunya ketika ia terbangun dan merasakan tubuhnya nyeri dan basah oleh keringat dingin.
Susah payah Albafica menggerakan tangan kanannya hingga ia bisa melihat jari-jarinya. Jari-jari yang, perlu ia akui, sama sekali tidak mulus karena terlalu sering bersentuhan dengan duri-duri mawar. Banyak luka gores di sana-sini, namun yang ia perhatikan hanya satu titik: luka yang paling baru, yang tertoreh tiga hari yang lalu.
Luka tempat darahnya dan darah gurunya bertukar.
Ritual Ikatan Merah, gurunya memberi nama. Ritual yang jika dilakukan secara rutin maka lama kelamaan darahnya akan semakin beracun, membuatnya semakin kebal terhadap segala macam racun di dunia ini. Ritual yang penting dilaksanakan jika ia mengharapkan dapat menggantikan gurunya sebagai Saint Pisces. Ritual yang rela ia jalani demi memahami dan menemani gurunya yang telah lama mengisolasi diri sendiri dari dunia pergaulan karena kondisi tubuh beliau yang dapat membahayakan nyawa orang lain.
Efek dari melaksanakan ritual tersebut: ia langsung sakit parah. Sistem imunnya berjuang keras melawan invasi racun dari darah Lugonis yang masuk ke dalam tubuhnya. Albafica tidak ingat apa-apa saja yang terjadi, namun sang guru bercerita bahwa ia kejang-kejang, menggeliat kesakitan, demam, hingga nyaris dibawa Kematian ke alam lain. Namun, entah karena tekadnya yang besar atau memang ia sudah ditakdirkan agar suatu saat dapat mengenakan Pisces Cloth, di malam ketiga semenjak ia jatuh sakit, berangsur-angsur kondisi tubuhnya membaik. Ia menang.
Usai bercerita dan mewanti Albafica untuk beristirahat, Lugonis pergi meninggalkan kuil—sepertinya untuk berbicara dengan Kyoukou Sage—dan Albafica menggunakan waktu yang diberikan bukan untuk tidur, tetapi untuk merenung.
Menyesalkah dia karena sudah memilih jalan tersebut?
Tuk.
Bunyi pelan itu mendistraksi Albafica dari kereta pikirannya. Ia menelengkan kepala dan menemukan sekeranjang apel diletakkan di bingkai jendela kamarnya. Sejurus kemudian, sebuah kepala melongok ke dalam ruangan itu dan suara yang familiar langsung mengikuti.
“Yo, Albafica! Sudah baikan?”
Manigoldo.
Pemuda yang semenjak 6 tahun yang lalu secara tidak resmi telah menjadi temannya (kalau bertemu dan mengobrol atau bermain bersama paling banyak tiga kali sebulan bisa disebut berteman) itu tanpa memberi peringatan terlebih dahulu langsung memanjat jendela untuk masuk ke dalam ruangan. Albafica terpaksa memicingkan matanya sedikit karena cahaya matahari menubruk sosok Manigoldo, membuat zirah emas yang ia kenakan berkilau terang.
“Nih, apel. Degel berhasil membuat frekuensi sakit Kardia berkurang setelah memaksa bocah itu makan banyak apel, jadi kupikir kau juga akan lebih baikan kalau makan ini.”
Albafica tersenyum sedikit ketika dua sosok terbayang di benaknya. Dègel dan Kardia adalah dua tambahan baru dalam jajaran calon pewaris zirah emas yang ditemukan oleh Krest, mantan Saint Aquarius yang level sepuhnya lebih tinggi daripada Kyoukou Sage. Dègel, sebagai murid langsung dari Krest, akan mewarisi posisi sang guru, sementara Kardia kelak akan dianugerahi zirah Scorpio.
Semakin lama semakin banyak siswa-siswa pelatihan yang berhasil mendapatkan Cloth yang sebenarnya memang sudah ditakdirkan untuk mereka. Untuk jajaran Saint Emas sendiri, tiga tahun yang lalu Sisyphus menyelesaikan pelatihannya dan berhak menyandang gelar sebagai Saint Sagittarius yang baru. Disusul oleh Aspros yang kini menempati kuil Gemini dan Hasgard sang Taurus. Lalu tahun ini Manigoldo juga berhasil menguasai semua hal yang bisa diajarkan Kyoukou Sage padanya, dan tampaknya dalam waktu dekat El Cid juga akan menyusul mereka semua.
Rasanya lucu, mengingat jika dibandingkan dengan mereka semua, Albafica lah yang paling lama tinggal di Sanctuary dan secara teknis telah melakukan pelatihan untuk menjadi Saint Pisces sejak lahir. Mereka semua berkembang pesat. Lebih cepat darinya.
“Hoi, dengar tidak, ‘sih?”
Albafica mengerjap kaget kala lamunannya dipecah oleh suara tak sabaran Manigoldo. Tiba-tiba saja sang Cancer sudah berdiri di samping ranjangnya sambil berkacak pinggang.
“Mm... maaf. Kau bilang apa?”
“Aku bertanya, kau sebenarnya sakit apa?” Manigoldo menghela napas jengkel. “Aku tadi berpapasan dengan gurumu dan dia bilang kau baru sembuh dari sakitmu, tapi tidak bilang kau sakit apa. Jadi, sakit apa?”
Pemuda berambut biru itu mengerling ke arah lain selama sepersekian sekon untuk memikirkan sebuah bualan, lalu menjawab,
“Demam... mungkin.”
Ada jeda lama hingga akhirnya Manigoldo bersuara lagi. “Apaan, ‘sih? Kok, jawabannya seperti tidak yakin begitu?” Sekali lagi desahan jengkel. “Jangan-jangan kamu masih sakit, lagi...”
Niat Albafica untuk langsung menjawab “Aku baik-baik saja” dibatalkan karena mendadak sebelah tangan Manigoldo bergerak ingin menyentuh wajahnya. Gerakan sederhana yang cukup untuk membuatnya teringat akan ritual yang ia jalani dan kondisi tubuhnya saat itu.
“JANGAN!”
Manigoldo spontan berhenti saat Albafica dengan cepat beringsut menyembunyikan diri di dalam selimut, tidak mengijinkan kontak kulit sedikitpun. Suara Albafica yang segera mengikuti membuatnya mengerutkan dahi.
“Kalau... kalau kau sudah tidak ada urusan lagi, pergilah.”
“Kenapa? Aku tidak boleh mengobrol denganmu?”
“Benar.”
Jawaban cepat itu semakin membuat Manigoldo gusar. “Kenapa?”
“Karena aku tidak bisa.”
Semakin lama jawaban Albafica semakin ambigu, sehingga Manigoldo menjadi tidak sabaran. Ia mencengkeram selimut yang dijadikan lelaki yang lebih muda darinya itu sebagai rintangan pelindung, mencoba menyibaknya agar mereka bisa bertatap muka. Tapi, Albafica begitu teguh melindungi diri di balik selimutnya dan dengan gigih bergelung, membuat Manigoldo kesulitan.
“Albafica!”
“Tidak!”
“Kau—”
Detik berikutnya, Manigoldo berhasil membuat selimut itu sedikit tersobek dan ia menyeringai kecil kala melihat sebagian wajah Albafica tersingkap melalui sobekan tersebut. Namun, seringai tersebut menghilang secepat ia muncul kala ia menyadari air mata yang perlahan membasahi mata Albafica. Mata yang menatapnya sedih.
“Kumohon, Manigoldo.” Bisikan pelan itu terdengar sedikit teredam—Albafica membenamkan wajahnya di kasurnya. “Pergilah.”
Tidak ada balasan. Ketika mendongak, Manigoldo sudah menghilang dari kamarnya.
Bagaimanapun, ia baru saja berhasil lolos dari cengkeraman dewa kematian setelah berjuang selama tiga hari tiga malam—atau itulah penjelasan yang diberikan gurunya ketika ia terbangun dan merasakan tubuhnya nyeri dan basah oleh keringat dingin.
Susah payah Albafica menggerakan tangan kanannya hingga ia bisa melihat jari-jarinya. Jari-jari yang, perlu ia akui, sama sekali tidak mulus karena terlalu sering bersentuhan dengan duri-duri mawar. Banyak luka gores di sana-sini, namun yang ia perhatikan hanya satu titik: luka yang paling baru, yang tertoreh tiga hari yang lalu.
Luka tempat darahnya dan darah gurunya bertukar.
Ritual Ikatan Merah, gurunya memberi nama. Ritual yang jika dilakukan secara rutin maka lama kelamaan darahnya akan semakin beracun, membuatnya semakin kebal terhadap segala macam racun di dunia ini. Ritual yang penting dilaksanakan jika ia mengharapkan dapat menggantikan gurunya sebagai Saint Pisces. Ritual yang rela ia jalani demi memahami dan menemani gurunya yang telah lama mengisolasi diri sendiri dari dunia pergaulan karena kondisi tubuh beliau yang dapat membahayakan nyawa orang lain.
Efek dari melaksanakan ritual tersebut: ia langsung sakit parah. Sistem imunnya berjuang keras melawan invasi racun dari darah Lugonis yang masuk ke dalam tubuhnya. Albafica tidak ingat apa-apa saja yang terjadi, namun sang guru bercerita bahwa ia kejang-kejang, menggeliat kesakitan, demam, hingga nyaris dibawa Kematian ke alam lain. Namun, entah karena tekadnya yang besar atau memang ia sudah ditakdirkan agar suatu saat dapat mengenakan Pisces Cloth, di malam ketiga semenjak ia jatuh sakit, berangsur-angsur kondisi tubuhnya membaik. Ia menang.
Usai bercerita dan mewanti Albafica untuk beristirahat, Lugonis pergi meninggalkan kuil—sepertinya untuk berbicara dengan Kyoukou Sage—dan Albafica menggunakan waktu yang diberikan bukan untuk tidur, tetapi untuk merenung.
Menyesalkah dia karena sudah memilih jalan tersebut?
Tuk.
Bunyi pelan itu mendistraksi Albafica dari kereta pikirannya. Ia menelengkan kepala dan menemukan sekeranjang apel diletakkan di bingkai jendela kamarnya. Sejurus kemudian, sebuah kepala melongok ke dalam ruangan itu dan suara yang familiar langsung mengikuti.
“Yo, Albafica! Sudah baikan?”
Manigoldo.
Pemuda yang semenjak 6 tahun yang lalu secara tidak resmi telah menjadi temannya (kalau bertemu dan mengobrol atau bermain bersama paling banyak tiga kali sebulan bisa disebut berteman) itu tanpa memberi peringatan terlebih dahulu langsung memanjat jendela untuk masuk ke dalam ruangan. Albafica terpaksa memicingkan matanya sedikit karena cahaya matahari menubruk sosok Manigoldo, membuat zirah emas yang ia kenakan berkilau terang.
“Nih, apel. Degel berhasil membuat frekuensi sakit Kardia berkurang setelah memaksa bocah itu makan banyak apel, jadi kupikir kau juga akan lebih baikan kalau makan ini.”
Albafica tersenyum sedikit ketika dua sosok terbayang di benaknya. Dègel dan Kardia adalah dua tambahan baru dalam jajaran calon pewaris zirah emas yang ditemukan oleh Krest, mantan Saint Aquarius yang level sepuhnya lebih tinggi daripada Kyoukou Sage. Dègel, sebagai murid langsung dari Krest, akan mewarisi posisi sang guru, sementara Kardia kelak akan dianugerahi zirah Scorpio.
Semakin lama semakin banyak siswa-siswa pelatihan yang berhasil mendapatkan Cloth yang sebenarnya memang sudah ditakdirkan untuk mereka. Untuk jajaran Saint Emas sendiri, tiga tahun yang lalu Sisyphus menyelesaikan pelatihannya dan berhak menyandang gelar sebagai Saint Sagittarius yang baru. Disusul oleh Aspros yang kini menempati kuil Gemini dan Hasgard sang Taurus. Lalu tahun ini Manigoldo juga berhasil menguasai semua hal yang bisa diajarkan Kyoukou Sage padanya, dan tampaknya dalam waktu dekat El Cid juga akan menyusul mereka semua.
Rasanya lucu, mengingat jika dibandingkan dengan mereka semua, Albafica lah yang paling lama tinggal di Sanctuary dan secara teknis telah melakukan pelatihan untuk menjadi Saint Pisces sejak lahir. Mereka semua berkembang pesat. Lebih cepat darinya.
“Hoi, dengar tidak, ‘sih?”
Albafica mengerjap kaget kala lamunannya dipecah oleh suara tak sabaran Manigoldo. Tiba-tiba saja sang Cancer sudah berdiri di samping ranjangnya sambil berkacak pinggang.
“Mm... maaf. Kau bilang apa?”
“Aku bertanya, kau sebenarnya sakit apa?” Manigoldo menghela napas jengkel. “Aku tadi berpapasan dengan gurumu dan dia bilang kau baru sembuh dari sakitmu, tapi tidak bilang kau sakit apa. Jadi, sakit apa?”
Pemuda berambut biru itu mengerling ke arah lain selama sepersekian sekon untuk memikirkan sebuah bualan, lalu menjawab,
“Demam... mungkin.”
Ada jeda lama hingga akhirnya Manigoldo bersuara lagi. “Apaan, ‘sih? Kok, jawabannya seperti tidak yakin begitu?” Sekali lagi desahan jengkel. “Jangan-jangan kamu masih sakit, lagi...”
Niat Albafica untuk langsung menjawab “Aku baik-baik saja” dibatalkan karena mendadak sebelah tangan Manigoldo bergerak ingin menyentuh wajahnya. Gerakan sederhana yang cukup untuk membuatnya teringat akan ritual yang ia jalani dan kondisi tubuhnya saat itu.
“JANGAN!”
Manigoldo spontan berhenti saat Albafica dengan cepat beringsut menyembunyikan diri di dalam selimut, tidak mengijinkan kontak kulit sedikitpun. Suara Albafica yang segera mengikuti membuatnya mengerutkan dahi.
“Kalau... kalau kau sudah tidak ada urusan lagi, pergilah.”
“Kenapa? Aku tidak boleh mengobrol denganmu?”
“Benar.”
Jawaban cepat itu semakin membuat Manigoldo gusar. “Kenapa?”
“Karena aku tidak bisa.”
Semakin lama jawaban Albafica semakin ambigu, sehingga Manigoldo menjadi tidak sabaran. Ia mencengkeram selimut yang dijadikan lelaki yang lebih muda darinya itu sebagai rintangan pelindung, mencoba menyibaknya agar mereka bisa bertatap muka. Tapi, Albafica begitu teguh melindungi diri di balik selimutnya dan dengan gigih bergelung, membuat Manigoldo kesulitan.
“Albafica!”
“Tidak!”
“Kau—”
Detik berikutnya, Manigoldo berhasil membuat selimut itu sedikit tersobek dan ia menyeringai kecil kala melihat sebagian wajah Albafica tersingkap melalui sobekan tersebut. Namun, seringai tersebut menghilang secepat ia muncul kala ia menyadari air mata yang perlahan membasahi mata Albafica. Mata yang menatapnya sedih.
“Kumohon, Manigoldo.” Bisikan pelan itu terdengar sedikit teredam—Albafica membenamkan wajahnya di kasurnya. “Pergilah.”
Tidak ada balasan. Ketika mendongak, Manigoldo sudah menghilang dari kamarnya.
Comments
Post a Comment