Scrapped: Bond chapter 14
Alam Barzah
Semua yang mati akan kembali ke tanah.
Semua yang mati, sementara jasad duniawinya terkubur dan ditangisi mereka yang masih hidup, rohnya akan terbang ke alam sana untuk dihakimi.
Semua yang mati rohnya dihakimi, lalu dikirim ke tempat-tempat yang telah ditentukan untuk menebus segala dosa-dosanya ketika masih hidup.
Semua, tanpa terkecuali.
.
.
.
Atau mungkin, ada perkecualian bagi beberapa jiwa.
“Berhenti! Berhenti kalian!”
Perintah tersebut tidak didengarkan. Tiga orang—er, tiga buah jiwa dengan gesit menghindari serangan-serangan yang dilancarkan ke arah mereka sambil terus berlari dan sesekali balas menyerang. Terus berlari, menembus kepungan Spectre yang ditugaskan berjaga di Black Wind Valley. Yang mereka dengarkan hanyalah suara halus salah satu dari mereka yang terus terngiang di dalam kepala.
“Maju terus. Jangan biarkan siapapun menghentikan kalian hingga kalian tiba di ‘tempat itu’!”
Derap langkah kaki mereka yang terus berlari tenggelam di antara teriakan-teriakan para penghuni Underworld dan ledakan-ledakan yang dihasilkan oleh serangan-serangan yang bertubrukan. Ujung lembah terlihat di depan mata dan sosok kuil yang menyerupai bangunan Mesir kuno tersebut tampak semakin membesar seiring dengan semakin memendeknya jarak mereka dengan kuil tersebut. Perlahan tapi pasti, mereka bisa melihat seseorang menunggu di pintu masuknya.
“Specter di arah jam 12,” salah satu dari tiga jiwa tersebut, seorang pria dengan rambut biru jingkrak, bersiul pelan. “Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dari jarak segini, tapi kurasa dia penjaga penjara kedua—Pharaoh.”
Jiwa lainnya, seorang pria dengan model rambut serupa berwarna hitam, melirik kawannya, yang berambut emas panjang dan dibiarkan tergerai. “Aku akan berhenti untuk melawannya, kalau begitu. Asmita, sebaiknya kau—”
“Tidak.” Asmita, yang terus berlari dengan mata tertutup, memotong cepat. “Sudah kukatakan, bukan? Jangan biarkan siapapun menghentikan kalian, karena kalianlah yang harus menolong dia… El Cid, Manigoldo.”
“Dan apa yang akan kau lakukan setelah kami berhasil menolongnya, Buddha kecil?”
Ketiganya berhenti ketika jarak di antara mereka dan Sphinx Pharaoh hanyalah beberapa meter. Sang Specter tanpa ragu mengangkat senjatanya, jarinya siap bergerak memetik senar alat musiknya. Namun, sebelum sempat jari itu menyentuh senar, Asmita telah melesat ke depannya dan dengan telak mendaratkan sebuah pukulan secepat cahaya di dadanya, membuat Pharaoh terbang melayang ke belakang hingga menabrak salah satu pilar penjara yang seharusnya ia jaga.
“Setelah kalian berhasil menolongnya, aku akan pergi mencari dan menolong Defteros dan yang lainnya. Jadi,” sang Virgo menolehkan kepalanya sedikit, cukup untuk memperlihatkan senyum anggun khasnya kepada dua kameradnya itu, “jangan khawatir dan pergilah, wahai senior-seniorku sekalian.”
El Cid dan Manigoldo bertukar pandang, sebelum kemudian mengangguk bersamaan dan kembali berlari. Melewati Asmita, yang siap melanjutkan pertarungannya. Melewati Pharaoh, yang masih terkapar karena serangan mendadak Asmita dan berusaha bangkit lagi. Melewati Egyptian Temple, memasuki area selanjutnya—Field of Flowers.
.
.
.
Dua orang pria yang seharusnya berada di pertengahan usia dua puluhan itu beriringan berjalan menembus padang bunga yang membuat mereka merasa bahwa tempat itu bukanlah Underworld, teritorial kekuasaan Dewa Kegelapan, Hades. Sama-sama diam karena tenggelam dalam pikiran masing-masing.
El Cid memikirkan apa yang terjadi pada mereka hingga harus berada di tempat ini. Mereka, yang telah menyelesaikan tugas akhir mereka sebagai Saint Athena—menaklukan Hades—, seharusnya diberikan sedikit waktu untuk beristirahat sebelum menjalani proses reinkarnasi. Namun mendadak, Asmita muncul di hadapannya dan memaksanya untuk mengikutinya tanpa memberikan penjelasan apapun. Barulah setelah mereka berkumpul dengan Manigoldo, junior mereka satu itu menjelaskan tujuannya mendatangi mereka berdua.
“Proses reinkarnasi sudah dimulai.” Asmita memulai penjelasannya dengan suara sekalem mungkin. “Namun ada sesuatu yang ganjil. Seharusnya, proses dimulai sesuai dengan urutan kematian. Yang mati terlebih dahulu akan mulai lebih awal, lalu setelah roh mereka disucikan, tinggal menunggu waktu untuk dikirim ke bumi. Hanya saja…”
Semua yang mati akan kembali ke tanah.
Semua yang mati, sementara jasad duniawinya terkubur dan ditangisi mereka yang masih hidup, rohnya akan terbang ke alam sana untuk dihakimi.
Semua yang mati rohnya dihakimi, lalu dikirim ke tempat-tempat yang telah ditentukan untuk menebus segala dosa-dosanya ketika masih hidup.
Semua, tanpa terkecuali.
.
.
.
Atau mungkin, ada perkecualian bagi beberapa jiwa.
“Berhenti! Berhenti kalian!”
Perintah tersebut tidak didengarkan. Tiga orang—er, tiga buah jiwa dengan gesit menghindari serangan-serangan yang dilancarkan ke arah mereka sambil terus berlari dan sesekali balas menyerang. Terus berlari, menembus kepungan Spectre yang ditugaskan berjaga di Black Wind Valley. Yang mereka dengarkan hanyalah suara halus salah satu dari mereka yang terus terngiang di dalam kepala.
“Maju terus. Jangan biarkan siapapun menghentikan kalian hingga kalian tiba di ‘tempat itu’!”
Derap langkah kaki mereka yang terus berlari tenggelam di antara teriakan-teriakan para penghuni Underworld dan ledakan-ledakan yang dihasilkan oleh serangan-serangan yang bertubrukan. Ujung lembah terlihat di depan mata dan sosok kuil yang menyerupai bangunan Mesir kuno tersebut tampak semakin membesar seiring dengan semakin memendeknya jarak mereka dengan kuil tersebut. Perlahan tapi pasti, mereka bisa melihat seseorang menunggu di pintu masuknya.
“Specter di arah jam 12,” salah satu dari tiga jiwa tersebut, seorang pria dengan rambut biru jingkrak, bersiul pelan. “Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dari jarak segini, tapi kurasa dia penjaga penjara kedua—Pharaoh.”
Jiwa lainnya, seorang pria dengan model rambut serupa berwarna hitam, melirik kawannya, yang berambut emas panjang dan dibiarkan tergerai. “Aku akan berhenti untuk melawannya, kalau begitu. Asmita, sebaiknya kau—”
“Tidak.” Asmita, yang terus berlari dengan mata tertutup, memotong cepat. “Sudah kukatakan, bukan? Jangan biarkan siapapun menghentikan kalian, karena kalianlah yang harus menolong dia… El Cid, Manigoldo.”
“Dan apa yang akan kau lakukan setelah kami berhasil menolongnya, Buddha kecil?”
Ketiganya berhenti ketika jarak di antara mereka dan Sphinx Pharaoh hanyalah beberapa meter. Sang Specter tanpa ragu mengangkat senjatanya, jarinya siap bergerak memetik senar alat musiknya. Namun, sebelum sempat jari itu menyentuh senar, Asmita telah melesat ke depannya dan dengan telak mendaratkan sebuah pukulan secepat cahaya di dadanya, membuat Pharaoh terbang melayang ke belakang hingga menabrak salah satu pilar penjara yang seharusnya ia jaga.
“Setelah kalian berhasil menolongnya, aku akan pergi mencari dan menolong Defteros dan yang lainnya. Jadi,” sang Virgo menolehkan kepalanya sedikit, cukup untuk memperlihatkan senyum anggun khasnya kepada dua kameradnya itu, “jangan khawatir dan pergilah, wahai senior-seniorku sekalian.”
El Cid dan Manigoldo bertukar pandang, sebelum kemudian mengangguk bersamaan dan kembali berlari. Melewati Asmita, yang siap melanjutkan pertarungannya. Melewati Pharaoh, yang masih terkapar karena serangan mendadak Asmita dan berusaha bangkit lagi. Melewati Egyptian Temple, memasuki area selanjutnya—Field of Flowers.
.
.
.
Dua orang pria yang seharusnya berada di pertengahan usia dua puluhan itu beriringan berjalan menembus padang bunga yang membuat mereka merasa bahwa tempat itu bukanlah Underworld, teritorial kekuasaan Dewa Kegelapan, Hades. Sama-sama diam karena tenggelam dalam pikiran masing-masing.
El Cid memikirkan apa yang terjadi pada mereka hingga harus berada di tempat ini. Mereka, yang telah menyelesaikan tugas akhir mereka sebagai Saint Athena—menaklukan Hades—, seharusnya diberikan sedikit waktu untuk beristirahat sebelum menjalani proses reinkarnasi. Namun mendadak, Asmita muncul di hadapannya dan memaksanya untuk mengikutinya tanpa memberikan penjelasan apapun. Barulah setelah mereka berkumpul dengan Manigoldo, junior mereka satu itu menjelaskan tujuannya mendatangi mereka berdua.
“Proses reinkarnasi sudah dimulai.” Asmita memulai penjelasannya dengan suara sekalem mungkin. “Namun ada sesuatu yang ganjil. Seharusnya, proses dimulai sesuai dengan urutan kematian. Yang mati terlebih dahulu akan mulai lebih awal, lalu setelah roh mereka disucikan, tinggal menunggu waktu untuk dikirim ke bumi. Hanya saja…”
Comments
Post a Comment