Transcending Time - 1
Akhir musim gugur yang biasa-biasa saja, menurut Agasha. Sama sekali tidak ada pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang menarik, tidak juga ada isu-isu yang bisa membuatnya bersemangat. Dan karena itulah, ketika sepasang tangan mendadak menutupi pandangannya saat ia tengah menyirami bunga-bunga di teras rumahnya, ia begitu terkejut.
"Si—siapa?!"
"Coba tebak."
Suara laki-laki yang tidak ia kenali, yang jelas-jelas membuat gadis itu panik. Meski begitu, ia mencoba untuk tetap tenang dan mulai meraba punggung tangan yang tetap menghalangi pengelihatannya dengan sedikit ragu. Besar dan lumayan mulus. Tidak seperti tangan laki-laki manapun yang ia kenal cukup baik.
"A-aku tidak tahu. Tolong lepaskan!"
"Hee... sedihnya kau tidak mengenaliku."
Agasha langsung mengambil jarak dan membalikkan badan begitu tangan tersebut melepaskan kepalanya, berhadapan dengan si pemberi kejutan.
Berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi besar. Rambutnya yang berwarna cokelat dan sedikit ikal dipotong rapi di bawah telinga. Mata birunya berkilat jenaka namun senyumnya begitu kalem dan dewasa—kontras yang menarik.
Ia terlihat begitu familiar, namun di saat yang sama Agasha merasa bahwa ini kali pertama mereka pernah bertatap muka.
"Masih tidak mengenaliku?" tanyanya sambil sedikit tertawa.
"Uhm, sayangnya begitu..." Agasha merasa sedikit bersalah. Dari gelagatnya, orang itu sepertinya memang mengenalnya. "Maaf, bisa beritahu nama Anda?"
Pria tersebut tersenyum maklum. Ia membuka mulut, hendak menyebutkan namanya, namun dibatalkannya ketika ujung matanya melihat bak berisi kumpulan bunga yang akan dipotong dan dijual hari itu diletakkan di dekat salah satu pot bunga. Senyumnya melebar—aura dewasanya menghilang, karena senyum itu begitu polos dan membuatnya seperti anak-anak. Ia meraih setangkai bunga violet dari dalam bak tersebut, lalu, tanpa meminta ijin, menyematkannya pada rambut Agasha.
"Regulus."
Gadis penjual bunga itu mengerjap, masih setengah kaget karena baru saja orang yang asing baginya itu melakukan sesuatu yang dianggapnya terlalu... akrab. "Apa?"
"Namaku." Senyumnya semakin melebar. Aura kekanakannya semakin semerbak. "Regulus, putra dari Ilias."
Comments
Post a Comment