The Fairest
"Camus! Aku benci kamu!"
Camus, yang sedang duduk santai membaca buku di sofa berlengan di ruang tamu, mendongak ke arah asal suara dan menaikkan sebelah alisnya. "... Hah?"
"Pokoknya aku benci sama kamu! Titik!" Yang berseru padanya berbicara sambil menuding-nuding sebelum berlari keluar ruangan dengan gaya dramatis, meninggalkan tidak hanya Camus, tapi juga Milo yang sedang tidur-tidur ayam di sana, melongo bingung.
Milo menatap sahabatnya, mencari tahu. "Kamu ngapain si Aphrodite, 'Mus?"
Yang ditanyai mengangkat bahu tanda tak paham. Namun beruntung, karena seseorang yang masuk ke dalam ruang tamu tak lama setelah kepergian Aphrodite datang dengan sebuah jawaban.
"Abaikan saja. Dia lagi labil."
"Labil kenapa, Mask? Kenapa Camus yang kena amuk?" Milo semakin bingung. Bukan hal biasa, 'sih, jika seorang Aphrodite mendadak marah-marah. Tapi biasanya dibalik segala kesewotannya itu, si cantik dari kuil ke-12 itu pasti memiliki alasan khusus atas rasa sensi yang dialaminya.
Deathmask menghempaskan bokongnya di sofa yang tersisa, menyeringai lebar. "Tadi dia ke perpustakaan di lantai atas gitu... terus nemu semacam buku riwayat para Saint terdahulu, akhirnya dibaca-bacalah. Sayangnya cuma sampai halaman Saint Aquarius dari masa mitologi. Begitu dia selesai baca bagian itu, jadilah dia emosi kayak tadi."
"Aquarius?" Camus semakin bingung. "Memangnya kenapa dengan Saint Aquarius dari era mitologi...?"
Pria asal Italia itu tidak menjawab. Ia malah menyodorkan sebuah buku tebal nan usang ke arah Camus, yang ditandai pada sebuah halaman. Seolah mengerti maksud Deathmask, si rambut hijau toska itu membuka halaman yang dimaksud dan mulai membacanya, dengan Milo yang penasaran berpindah ke sisinya untuk ikut melihat isinya.
"Saint Aquarius generasi pertama—dari era mitologi: Aquarius Ganymede. Dikenal sebagai pangeran dari Troy yang dibawa ke Olympus oleh Dewa Zeus untuk menjadi penuang anggur di pesta para dewa-dewi. Ketika tanda-tanda perang antara Athena dan Hades merebak, ia menjadi salah satu dari sekian orang yang segera mengangkat senjata dan tanpa ragu lagi menyatakan dedikasinya untuk melindungi sang Dewi Perang. Di antara dua belas Saint paling kuat yang dimiliki Athena, namanya tersohor sebagai yang tercantik, yang bahkan membuat Dewi Aphrodite mengakuinya..."
...
"Oh. Beginian doang? Lenje, yah."
Suara derap langkah kaki dan Aphrodite kembali muncul di ruang tamu. Ia segera menyambar sebuah bantal sofa dan melemparnya ke arah Milo, yang dengan sigap menangkapnya agar bantal tersebut tidak menampar wajah tampannya.
"Coba bilang aku lenje lagi! Kupukul kamu!"
Milo malah menyeringai lebar, tak takut sedikitpun pada ancaman seniornya itu. "Siapa takut? Ayo sini!"
Maka jadilah ruang tamu itu sebagai arena kejar-kejaran antara sang Ikan dan sang Kalajengking. Camus hanya bisa menghela napas melihat kekonyolan keduanya, sementara Deathmask tetap duduk santai di tempatnya sembari sesekali memprovokasi dua lelaki dewasa yang tingkahnya masih seperti anak kecil itu.
Camus, yang sedang duduk santai membaca buku di sofa berlengan di ruang tamu, mendongak ke arah asal suara dan menaikkan sebelah alisnya. "... Hah?"
"Pokoknya aku benci sama kamu! Titik!" Yang berseru padanya berbicara sambil menuding-nuding sebelum berlari keluar ruangan dengan gaya dramatis, meninggalkan tidak hanya Camus, tapi juga Milo yang sedang tidur-tidur ayam di sana, melongo bingung.
Milo menatap sahabatnya, mencari tahu. "Kamu ngapain si Aphrodite, 'Mus?"
Yang ditanyai mengangkat bahu tanda tak paham. Namun beruntung, karena seseorang yang masuk ke dalam ruang tamu tak lama setelah kepergian Aphrodite datang dengan sebuah jawaban.
"Abaikan saja. Dia lagi labil."
"Labil kenapa, Mask? Kenapa Camus yang kena amuk?" Milo semakin bingung. Bukan hal biasa, 'sih, jika seorang Aphrodite mendadak marah-marah. Tapi biasanya dibalik segala kesewotannya itu, si cantik dari kuil ke-12 itu pasti memiliki alasan khusus atas rasa sensi yang dialaminya.
Deathmask menghempaskan bokongnya di sofa yang tersisa, menyeringai lebar. "Tadi dia ke perpustakaan di lantai atas gitu... terus nemu semacam buku riwayat para Saint terdahulu, akhirnya dibaca-bacalah. Sayangnya cuma sampai halaman Saint Aquarius dari masa mitologi. Begitu dia selesai baca bagian itu, jadilah dia emosi kayak tadi."
"Aquarius?" Camus semakin bingung. "Memangnya kenapa dengan Saint Aquarius dari era mitologi...?"
Pria asal Italia itu tidak menjawab. Ia malah menyodorkan sebuah buku tebal nan usang ke arah Camus, yang ditandai pada sebuah halaman. Seolah mengerti maksud Deathmask, si rambut hijau toska itu membuka halaman yang dimaksud dan mulai membacanya, dengan Milo yang penasaran berpindah ke sisinya untuk ikut melihat isinya.
"Saint Aquarius generasi pertama—dari era mitologi: Aquarius Ganymede. Dikenal sebagai pangeran dari Troy yang dibawa ke Olympus oleh Dewa Zeus untuk menjadi penuang anggur di pesta para dewa-dewi. Ketika tanda-tanda perang antara Athena dan Hades merebak, ia menjadi salah satu dari sekian orang yang segera mengangkat senjata dan tanpa ragu lagi menyatakan dedikasinya untuk melindungi sang Dewi Perang. Di antara dua belas Saint paling kuat yang dimiliki Athena, namanya tersohor sebagai yang tercantik, yang bahkan membuat Dewi Aphrodite mengakuinya..."
...
"Oh. Beginian doang? Lenje, yah."
Suara derap langkah kaki dan Aphrodite kembali muncul di ruang tamu. Ia segera menyambar sebuah bantal sofa dan melemparnya ke arah Milo, yang dengan sigap menangkapnya agar bantal tersebut tidak menampar wajah tampannya.
"Coba bilang aku lenje lagi! Kupukul kamu!"
Milo malah menyeringai lebar, tak takut sedikitpun pada ancaman seniornya itu. "Siapa takut? Ayo sini!"
Maka jadilah ruang tamu itu sebagai arena kejar-kejaran antara sang Ikan dan sang Kalajengking. Camus hanya bisa menghela napas melihat kekonyolan keduanya, sementara Deathmask tetap duduk santai di tempatnya sembari sesekali memprovokasi dua lelaki dewasa yang tingkahnya masih seperti anak kecil itu.
Comments
Post a Comment