Konstelasi: Orion; another

Koefisien kriminalitas di atas 140. Subyek penangkapan. Pengaman akan dilepaskan. Bidik dengan tenang dan kendalikan target.

Suara tembakan terdengar segera setelah instruksi di telinganya selesai diucapkan. Bidikannya sukses mengenai target, membuat kriminal tersebut pingsan dan jatuh ke lantai yang basah akibat hujan sore tadi. Dua orang berjalan mendekati lelaki yang tak sadarkan diri itu. Salah satunya, yang memiliki surai panjang berwarna merah menyala, mengeluarkan borgol dari dalam jas dan memasangkannya pada pergelangan tangan buruan mereka.


“Ahli nujum, Byaku. Kau ditangkap.”

Bunyi ‘klik’ nyaring dan si rambut merah menghela napas lega. Proses penangkapan telah selesai. Partner kerjanya, seorang lelaki sebayanya yang berambut emas bergelombang, mengontak seseorang dengan gelang komunikasi.

“Yo, Saga. Bagianku dan Camus—”

Inspektur Camus, Milo,” si rambut merah menghardik.

“—sudah selesai, ‘nih.” Milo menyeringai, tak menggubris pembetulan dari sang inspektur. “Ada lagi yang perlu kami kerjakan, atau kami sudah boleh istirahat setelah ini?”

Keduanya mendengar tawa pelan dari alat komunikasi mereka—dari orang di seberang sana, yang mereka ajak bicara—lalu sahutan, “Ya, untuk saat ini kalian boleh istirahat dan kembali ke markas. Akan kukontak lagi jika ada insiden mendadak yang perlu kalian tangani.”

“Dimengerti dan over.” Milo memutus sambungan dan beralih menatap Camus, yang sudah terlebih dahulu berjalan keluar dari gang tempat mereka menyudutkan target mereka tadi. “Hei, Camus! Sebelum kembali ke markas, mampir dulu untuk minum kopi di kafe yang baru buka di dekat markas, yuk!”

“Kriminal Laten sepertimu tidak boleh berkeliaran di tempat umum kecuali untuk bertugas; kau lupa?” Begitu keluar dari gang, Camus memberi isyarat pada sejumlah robot petugas yang menunggu tak jauh dari sana, memerintahkan mereka untuk mengangkut Byaku yang masih tak sadarkan diri.

“’Kan hanya sebentar. Lagipula, ada kau yang menemaniku, Inspektur.” Dengan sengaja Milo memberi penekanan khusus pada kata terakhirnya.

Camus, yang awalnya hendak memasuki mobil mereka, menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap dingin anak buah sekaligus sahabatnya. “Tidak. Kita tidak akan ke sana.”

Milo menghela napas pasrah, lalu sambil sedikit mengerucutkan bibir tanda cemberut mengikuti Camus masuk ke dalam mobil. Mesin menyala dan secara otomatis bergerak ke suatu tujuan. Milo memandang keluar jendela dengan tatapan tak berminat dan pipi sedikit menggembung. Camus melirik ke arah kawannya itu dan menghela napas panjang.

“Aku memang bilang kalau kita tidak akan mendatangi kafe yang baru dibuka itu, tapi aku tidak bilang kita tidak akan pergi ke tempat lain juga.”

Kalimat itu berhasil membuat Milo menoleh ke arah atasannya. “Maksudmu—?”

“—Kita akan hunting makanan.” Camus melanjutkan. “Tapi hanya dua jam. Tidak leb—MILO!”

Pekikan tadi keluar dari mulut sang inspektur berambut merah karena mendadak saja anak buahnya yang sering kelewat bersemangat itu menghambur memeluknya. Beruntung mereka mengendarai mobil yang kendalinya bergerak secara otomatis, sehingga mereka tidak terancam bahaya salah membelokkan kendali setir dan menabrak tepian highway atau mobil lain yang juga melalui jalan tersebut.

“Milo! Lepaskan!”

“Hehehe!” Milo mengendurkan pelukannya, tapi tidak benar-benar melepaskan si rambut merah. “Kita hunting masakan Perancis dulu? Atau apa?”

“Dégel merekomendasikan sebuah restoran Rusia bagus kemarin.”

“Rusia? Pasti baru nemu bareng Seraphina dan Unity. Tapi, tak a—”

Mendadak alat komunikasi yang dipasang di mobil menyala, memunculkan wajah Saga. Telepon mendadak seperti ini hanya berarti satu hal.

“Camus, Milo; maaf aku mengganggu kalian—aku memang bilang kalau kalian boleh istirahat sekarang, tapi—”

“Tugas lagi, ‘kan?” Milo memotong cepat, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa jengkelnya. Padahal baru saja ia memikirkan mengisi perutnya dengan masakan-masakan khas Rusia, tapi khayalannya buyar akibat telepon dari Saga itu.

“Ya.” Saga terdengar menyesal. “Aku akan kirimkan data buruan kalian dan lokasinya sekarang. Tolong segera meluncur ke sana.”

Beberapa pop up box muncul, menggantikan posisi wajah Saga di layar. Milo membaca kiriman tersebut sambil setengah menggerutu, dan lagi-lagi Camus harus menghela napas.

“Sepertinya untuk di masa-masa sibuk begini, kita memang hanya diberi kesempatan untuk mendatangi kafe di dekat markas itu…”

Comments

Popular posts from this blog

Scrapped: EC-8

Scrapped: Raijin no Keifu

Konstelasi: Sagittarius