Poison Rose - Crimson
Translasi dari: http://www.pixiv.net/novel/show.php?i d=1209484
.
.
.
Satu dasawarsa telah berlalu semenjak Lugonis tiba di Sanctuary dan menjadi Gold Saint. Hanya ada sedikit Gold Saint yang aktif di generasinya, dan satu-satunya yang berusia sebaya dengannya hanyalah Leo Ilias.
Meskipun sekarang Ilias dikenal sebagai Saint Leo dengan tingkat kebajikan, kecerdasan, dan keberanian tinggi, ketika masih muda ia adalah pemuda yang bebas dan liar serta senang bertualang. Ia adalah seorang jenius, namun tak pernah menyombongkan kekuatannya.
Ketika Lugonis, yang memiliki daya tahan alami terhadap berbagai macam jenis racun, tiba di Sanctuary dari Healer's Island, Ilias telah menjadi Saint Emas yang bersinar bak matahari. Tidak butuh waktu lama bagi lelaki pendatang itu untuk menyadari bahwa ia telah terpikat dan terebut hatinya oleh pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu.
Ilias memiliki wajah yang manis dan sifat yang jujur yang mengagetkan siapapun begitu mengetahui statusnya, namun perubahan yang terjadi pada Crimson Rose--julukan milik Lugonis--beberapa tahun setelah bergabungnya ia di Sanctuary lebih mencengangkan semua orang. Bukannya berubah menjadi pria cantik, sang Saint Pisces berubah menjadi mawar beracun yang indah.
Setelah menjadi Saint Pisces, sembari memusatkan perhatiannya pada latihan-latihan dan mengembang biakkan mawar, Lugonis menjadi semakin cantik. Lalu, insiden itu terjadi.
Ilias,yang telah berkeliling dunia, tidak pernah melihat seseorang yang lebih cantik dan mulia daripada Lugonis, yang tengah menggendong seorang bayi—yang dicampakkan di kebun mawar Pisces—dalam pelukannya. Ia memutuskan bahwa ia akan melindungi sang ksatria konstelasi ikan kembar itu dan harta berharga yang diketemukannya hingga Athena muncul.
Karena di kebun mawar Lugonis terdapat mawar-mawar beracun dan obat-obatan herbal, demi sang bayi yang dalam tahap tumbuh kembang, ia memutuskan untuk menanam mawar-mawar yang tidak beracun.
Karena tidak sepertinya, yang dijuluki Crimson Rose dikarenakan warna rambutnya yang begitu merah, Albafica memiliki warna rambut yang menyerupai helaian sutra tanpa warna, demi anak itu ia menanam lebih banyak mawar putih.
.
.
.
Dari rumahnya di kampung halaman, keluarganya akan mengirim seseorang untuk membawakan barang-barang yang ia pesan setiap sebulan sekali; barang-barang yang terutama dikirimkan oleh ayah dan pamannya biasanya datang dalam jumlah besar.
"Sir Lugonis, kiriman dari Healer's Island telah tiba."
Pelayan yang memanggilnya mengantar seorang bocah lelaki yang membawa sebuah kotak yang ukurannya lebih besar darinya.
Pelayan yang memanggilnya mengantar seorang bocah lelaki yang membawa sebuah kotak yang ukurannya lebih besar darinya.
"Kak Lugonis!"
"Luco? Sudah lama sekali ya... kau sudah besar."
Ketika ia pergi, Luco masih sangat muda, tapi sekarang ia telah tumbuh besar hingga cukup mampu untuk membawa beban barang-barang berat dan menyeberangi lautan.
"Kakak telah menjadi orang hebat... Aku senang kita bisa bertemu lagi!"
Dalam situasi yang mengharukan itu, Luco menjatuhkan barang-barang yang dibawanya saat abangnya mendorongnya menjauh. Perlahan, Luco membuka mulutnya karena kaget.
"..... Kakak?"
"Ada racun yang mengalir dalam tubuhku. Tidak ada seorang pun yang boleh mendekat apalagi menyentuhku."
Tidak mengerti alasan dari pernyataan yang baru saja diberikan padanya, Luco menggeleng.
"Apa maksudmu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku adalah Gold Saint Pisces. Dengan mawar beracun dan darah beracun sebagai senjata, orang-orang yang memiliki daya tahan yang kuat terhadap racun terpilih untuk menyimpan racun di dalam tubuh mereka."
"Jadi, Kak, kau mau bilang kalau kau tidak akan membiarkan siapapun untuk menyentuhmu karena racun di dalam tubuhmu itu?"
Adiknya itu bertanya dengan bibir bergetar, dan ia mengangguk mengiyakan.
"Kau bohong!"
Meskipun ia ingin memeluk dan menenangkan adiknya, yang mulai menangis menjerit-jerit, ia melihat luka-luka di lutut dan lengan Luco yang disebabkan karena ia tidak terbiasa dengan perjalanan panjang ke Sanctuary.
"Tenanglah, Luco. Kau pasti lelah, 'kan? Kau boleh beristirahat di kamar dalam."
"Aku begini karena tubuh terkutuk Kakak!"
Meskipun ia ingin memeluk dan menenangkan adiknya, yang mulai menangis menjerit-jerit, ia melihat luka-luka di lutut dan lengan Luco yang disebabkan karena ia tidak terbiasa dengan perjalanan panjang ke Sanctuary.
"Tenanglah, Luco. Kau pasti lelah, 'kan? Kau boleh beristirahat di kamar dalam."
"Aku begini karena tubuh terkutuk Kakak!"
Ada obat-obatan herbal beracun yang tidak boleh disentuh dengan tangan kosong, namun Lugonis telah menyembunyikan fakta bahwa ia bisa memetik dan mencicipi rasanya dari seluruh anggota keluarganya. Jika adiknya tahu bahwa ia tidak mati setelah melakukannya, ia akan meributkan masalah penemuannya akan daya tahan racun si abang.
“Luco, kau salah paham. Aku tidak menganggap ini sebagai kutukan. Tubuh ini adalah kebangaanku.”
Ada sedikit keraguan, namun penjabat title Saint Pisces itu tidak ingin merendahkan dirinya sendiri.
Luco berdiri dan mengangkat wajahnya, sembari masih menangis.
“Aku akan menyembuhkanmu... aku, aku akan menunjukkan padamu bahwa aku bisa membuat penawar racun yang akan menghilangkan racun-racun di tubuhmu, Kak!”
“Luco!”
Melihat Luco yang melarikan diri, pelayannya mencoba untuk menangkapnya. Meskipun ia kembali tanpa menerima uang ataupun makanan, mata sang adik berkilat dengan tekad membara. Dia tidak akan mendengarkan ucapan kakaknya.
.
.
.
Ketika Lugonis mewarisi posisi sebagai Saint Pisces, ia pindah untuk tinggal di sebuah kabin yang terletak di tengah-tengah kebun mawarnya. Hingga ia mengadopsi Albafica, ia tidak pernah kembali ke tempat tinggal yang pernah ditempatinya bersama almarhum gurunya.
Agar dapat merawat sang bayi, seorang nanny membutuhkan bantuan seorang pelayan. Jadi, setikdanya hingga Albafica tumbuh besar menjadi anak yang sehat secara fisik dan mental, mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah yang aman, luas, dan dapat dijangkau dengan mudah agar mereka dapat datang dan pergi dengan gampang.
Karena seharusnya tidak ada bayi di Sanctuary ini, Albafica menarik perhatian para orang dewasa, dan ada banyak sekali orang-orang yang berkunjung untuk melihat wajahnya yang menggemaskan. Bahkan Pope Sage juga datang untuk menjenguk dan berkata bahwa ia merasa segar kembali setelah melihat wajah Albafica.
.
.
.
Lugonis kembali ke ruang dalam ketika ia mendengar gema tangisan tak lama setelah Luco pergi.
“Ada apa?”
“Ada apa?”
Di dalam kamar bayi yang remang-remang, sang nanny memeluk dan menimang si bayi yang menangis.
“Padahal dia sudah banyak minum susu, tapi kenapa dia tidak mau berhenti menangis, ya?”
Nanny yang datang dari desa itu menyerahkan sang bayi pada Lugonis.
“Sir Lugonis sangat sibuk, 'kan?”
Ketika Lugonis muncul bersama pelayannya, sang nanny memarahinya, namun ia hanya tersenyum. Membisikan, 'cep, cep' dan setelah situasinya perlahan membaik, ia membiarkan sang bayi menyembunyikan wajahnya di dalam pelukannya dan tangisannya perlahan mereda.
“Oh, lihatlah. Sir Lugonis pintar dalam membesarkan anak, jadi aku hanya perlu menyusui saja.”
“Bagi seorang bayi, susu itu paling penting di atas segalanya.”
“Apa yang kau katakan, hei, yang paling penting itu pelukan dari tangan yang lembut, tahu. Karena kalau susu, yang didapat dari kambing atau sapi juga bagus untuk diminum.”
“Bagi seorang bayi, susu itu paling penting di atas segalanya.”
“Apa yang kau katakan, hei, yang paling penting itu pelukan dari tangan yang lembut, tahu. Karena kalau susu, yang didapat dari kambing atau sapi juga bagus untuk diminum.”
Sang nanny mengerutkan dahi sementara ia tertawa kebapakan, dan pelayannya pergi meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. Namun, tak lama kemudian ia kembali dan berbicara dengan nada suara panik.
“Sir Ilias dari Kuil Leo tiba!”
Segera setelah ia mengatakannya, Ilias menampakkan dirinya. Lengan bajunya digulung ke atas dan ujung celana panjangnya robek-robek--kelihatannya ia baru saja kembali dari sebuah ertarungan--sementara matanya yang tanpa ekspresi menyorot ke arah Lugonis, yang tersenyum padanya.
“Apa kau baru kembali dari misi?”
“Ya. Aku baru saja kembali. Kubawakan ini untuk oleh-oleh.”
Setelah ia melempar tas kulitnya ke atas meja, seekor ikan besar melompat keluar dari dalamnya dan mengejutkan sang pelayan.
Setelah ia melempar tas kulitnya ke atas meja, seekor ikan besar melompat keluar dari dalamnya dan mengejutkan sang pelayan.
“Ya ampun, ikan yang segar sekali!”
“Aku ingin protes kalau kau ingin makan ikan di Kuil Pisces.”
Ketika ia menolehkan kepalanya, sang pelayan telah meninggalkan ruangan sambil membawa ikan tersebut, berniat menggunakannya sebagai bahan makan malam.
“Aku ingin protes kalau kau ingin makan ikan di Kuil Pisces.”
Ketika ia menolehkan kepalanya, sang pelayan telah meninggalkan ruangan sambil membawa ikan tersebut, berniat menggunakannya sebagai bahan makan malam.
“Terima kasih, Ilias.”
Menyerahkan Albafica kepada sang nanny, ia berbalik menghadap Ilias.
“Dia mendapat tidur yang cukup, eh. Ia bertambah besar setiap kali aku datang untuk menengoknya, jadi kau pasti cukup pintar dalam hal membesarkan anak.”
Pandangan Ilias melembut seraya ia memperhatikan sang bayi, dan hal itu membuat Lugonis senang.
“Membesarkan anak itu pengalaman yang baik.”
“Oh ya ampun, dia menangis lagi.”
Menyerahkan Albafica kepada sang nanny, ia berbalik menghadap Ilias.
“Dia mendapat tidur yang cukup, eh. Ia bertambah besar setiap kali aku datang untuk menengoknya, jadi kau pasti cukup pintar dalam hal membesarkan anak.”
Pandangan Ilias melembut seraya ia memperhatikan sang bayi, dan hal itu membuat Lugonis senang.
“Membesarkan anak itu pengalaman yang baik.”
“Oh ya ampun, dia menangis lagi.”
Sang nanny kembali ke dalam ruangan dan memberikan Albafica yang menangis kembali kepada Lugonis. Segera setelah sang ayah angkat menimangnya, tangisannya berhenti dan ia menggumamkan bunyi 'ku' pelan.
“Terbangun ketika kau merasa mengantuk itu bukan hal yang baik, maka jadilah anak baik dan tidur yang nyenyak sekarang.”
Penuh kasih sayang, ia menatap Albafica yang tidur di dalam pelukannya sembari membujuk dengan suara pelan.
Melihat sisi Lugonis yang satu ini membuat senyum lembut terpampang di wajah Ilias.
Melihat sisi Lugonis yang satu ini membuat senyum lembut terpampang di wajah Ilias.
.
.
.
Di sebuah kamar yang tenang, di mana Albafica telah berhenti menggerutu, Lugonis tidak bisa menemukan keberadaan nanny-nya.
“…… Ilias?”
“…… Ilias?”
Ia melihat Ilias tidur sambil berdiri, bersandar pada tembok.
Ia menidurkan Albafica di ranjang dan memperhatikan kondisi Ilias sekarang. Sang Leo pergi selama satu minggu dan jenggot telah mulai menutupi bagian bawah wajahnya. Di lengannya, yang ia lipat di depan dada, terdapat banyak bekas goresan tipis yang sudah mulai menutup.
Saat itu tidak ada Ksatria Emas lain yang dapat beroperasi penuh keciali mereka berdua; sementara Lugonis mengetatkan perlindungan di Sanctuary, Ilias hampir selalu sendirian dalam menyelesaikan misi-misi di luar. Reputasinya sebagai Saint Leo yang terkuat bukanlah omong kosong belaka, rumor tentang kekuatan sejatinya telah menggema hingga negara-negara tetangga.
Ia pergi melapor pada Pope dengan berjalan kaki sambil mempertahankan penampilan seperti itu.
Ia pasti lumayan lelah……
Tangannya terulur untuk menggenggam rambut Ilias, sementara ia memarahi dirinya sendiri di dalam hati. Seharusnya ia tidak membiarkan emosinya mengontrol dan membuatnya menyentuh sang Leo. Ia tidak bisa mendapatkan tubuh yang terbebas dari racun lagi, maka dari itu ia tidak boleh menyimpan perasaan khusus kepada kameradnya itu untuk kedua kalinya.
Ia pasti lumayan lelah……
Tangannya terulur untuk menggenggam rambut Ilias, sementara ia memarahi dirinya sendiri di dalam hati. Seharusnya ia tidak membiarkan emosinya mengontrol dan membuatnya menyentuh sang Leo. Ia tidak bisa mendapatkan tubuh yang terbebas dari racun lagi, maka dari itu ia tidak boleh menyimpan perasaan khusus kepada kameradnya itu untuk kedua kalinya.
Ia pergi meninggalkan ruangan tanpa membuat suara sedikitpun dan memanggil pelayannya, memerintahkannya untuk menyiapkan kamar tamu.
“Lebih baik ia tidur di sana daripada tidur berdiri begitu.”
.
.
.
Ilias terbangun ketika sang pelayan menyentuhnya, dan sembari menggaruk kepalanya ia bertanya,
“Sialan, apa aku ketiduran? Kamar ini terlalu tenang.”
“Sialan, apa aku ketiduran? Kamar ini terlalu tenang.”
Ia bertanya sambil merenggangkan badannya.
“Apa Anda ingin tidur di kamar? Kalau mau, saya juga akan menyiapkan air panas untuk mandi.”
“Aku cuma ingin cuci muka. Tolong.”
Mempercayakan Ilias kepada pelayannya, Lugonis pergi untuk mengecek benih-benih bunga yang ia tinggalkan di sisi Albafica, yang dibawa dari kampung halamannya.
.
.
.
Luco. Aku tidak bisa mengubah pendirian adikku, yang telah lama tidak kutemui.
Karena aku tidak ingin timbul kekacauan jika Luco melihatnya, agar kekuatanku ini tidak disadari oleh ayah kami, aku membiarkan ibu kami tahu. Aku telah menyembunyikannya sejak aku masih kecil, tapi beliau menyadari berkembangnya daya tahanku terhadap racun yang begitu abnormal. Aku cukup bahagia tinggal di dunia kecilku yang dikelilingi dengan obat-obatan herbal, dan aku berniat untuk selamanya menyembunyikan sisi diriku yang abnormal itu agar aku tidak dijadikan kambing hitam dalam keluarga.
Ketika aku pergi meninggalkan pulau sambil menggendong beban harapan keluargaku bahwa aku akan menjadi Saint, kukira beliau yang paling pertama akan merasa bahagia, disusul anggota keluarga kami yang lain. Awalnya perjuanganku begitu sulit karena aku datang dengan tekad yang setengah-setengah, namun berkat Ilias aku dapat menempuh segalanya dengan baik. Ia membuatku menyadari tenang alasanku untuk terus hidup.
Maafkan aku, Luco, aku tidak menjadi Saint yang sesuai dengan harapanmu dan malah membuatmu khawatir.
Tapi sekarang, aku tahu alasan keberadaanku di sini. Aku telah mendapatkan keyakinan diri dan kebangganku sendiri.
.
.
.
“Sir Illias, Sir Albafica sedang beristirahat di sini.”
Ia tidak berhenti ketika mendengar ucapan sang pelayan, Ilias terus berjalan masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap. Permintaannya untuk menunggu di kamar tamu hingga waktu makan malam tiba tidak didengarkannya sama sekali.
“Aku boleh di sini asal aku tetap diam, 'kan?”
“Ya. Kalau begitu, kemarilah.”
“Ya. Kalau begitu, kemarilah.”
Di atas meja, benih-benih yang telah dibersihkan tersebar dan ditata secara diagonal. Ditempatkan di sebelahnya adalah kotak P3K, yang disiapkan untuk Ilias. Mengenakan sepasang sarung tangan, Lugonis lalu menutup mulutnya dengan masker.
“Luka di lenganmu harus diobati.”
“Kau itu terlalu berlebihan.”
“Kau itu terlalu berlebihan.”
Ilias mendengus dan meregangkan tangannya. Ada bekas torehan kecil di tangannya yang berotot dan sarung tangan putih yang dikenakan Lugonis mulai terkotori seraya ia merawat luka tersebut.
Luka-luka yang dialami Luco juga akan mulai sembuh setelah kembali ke pulau.
“Ada apa?”
Pertanyaan dadakan itu mengejutkannya.
“Apa ada yang datang padamu? Di depanku, entah kenapa kau jadi perhatian sekali.”
“Apa ada yang datang padamu? Di depanku, entah kenapa kau jadi perhatian sekali.”
Ia percaya diri bahwa tidak ada satupun yang akan terlewat dari pengawasannya, namun tidak ada orang awam yang mampu memprediksi apa yang sedang dipikirkan Ilias.
“Adikku datang dari kampung halaman untuk menjumpaiku di sini.”
“Kau menolaknya.”
“Adikku datang dari kampung halaman untuk menjumpaiku di sini.”
“Kau menolaknya.”
Ia mengangguk mengiyakan tebakan itu.
“Ketika ia akan memelukku, aku menolaknya dan menakut-nakutinya.”
“Bukannya boleh saja kalau cuma pelukan?”
“Adikku terluka tadi. Ada kemungkinan bahwa jika aku memeluknya maka keringatku akan masuk ke dalam tubuhnya dan membuatnya merasakan sakit atau layuh semu.”
“Bukannya boleh saja kalau cuma pelukan?”
“Adikku terluka tadi. Ada kemungkinan bahwa jika aku memeluknya maka keringatku akan masuk ke dalam tubuhnya dan membuatnya merasakan sakit atau layuh semu.”
“Aah. Padahal aku ingin memelukmu juga.”
Ia mengucapkan kalimat yang tidak adil itu.
“Dia, 'kan, adikku. Aku sudah selesai dengan tanganmu. Apa ada luka lain?”
Ketika ia melepaskan tangan yang terbaring di atas meja itu, tangan yang sama mengenggam lengannya. Mengangkat wajahnya, tatapan mata yang serius itu membuat jantung Lugonis berdegup kencang, namun bukannya marah, ia malah merasa tenang dan kegugupannya menghilang.
“Tolong lepaskan.”
“Dia, 'kan, adikku. Aku sudah selesai dengan tanganmu. Apa ada luka lain?”
Ketika ia melepaskan tangan yang terbaring di atas meja itu, tangan yang sama mengenggam lengannya. Mengangkat wajahnya, tatapan mata yang serius itu membuat jantung Lugonis berdegup kencang, namun bukannya marah, ia malah merasa tenang dan kegugupannya menghilang.
“Tolong lepaskan.”
Ilias melepaskan tangannya sambil merutuk pelan, sadar bahwa ia baru saja bereaksi berlebihan.
“Kalau lukaku sudah sembuh, boleh aku menyentuhmu?”
Sorot mata yang kuat dan tadinya begitu haus darah telah menghilang, digantikan dengan tatap mata yang bisa dimiliki anak kecil yang manja.
“Kalau kau, tidak boleh.”
Menyadari senyum di wajah Lugonis membuatnya sedikit kesal.
“Kalau kau, tidak boleh.”
Menyadari senyum di wajah Lugonis membuatnya sedikit kesal.
“Jahat sekali.”
Mengingat kejadian ketika pertama kali mereka bertemu satu sama lain, ia sadar bahwa ekspresi kekanakan di wajah Ilias begitu manis.
.
.
.
Comments
Post a Comment