Belle en het Beest #6
In the Moonlight © aicchan
.
.
.
Suara gaduh mengusik tidurku, menarikku dari alam mimpi kembali ke dunia nyata. Dalam usahaku untuk kembali sadar sepenuhnya, perlahan aku menyadari apa yang menimbulkan bunyi gaduh itu. Suara pintu digedor keras-keras, suara Pefko berteriak, dan satu-dua prajurit berusaha menenangkannya. Ketika aku mulai bertanya-tanya dalam benakku apa yang menyebabkan sepupu kesayanganku itu bersikap heboh begitu, aku mendengar suara Dohko. Begitu jelas, tidak seperti suara Pefko dan para prajurit yang sedikit teredam karena sepertinya mereka ada di balik pintu.
"Mengertilah, Pangeran. Ini semua demi Tuan Putri dan kesejahteraan kerajaan ini."
"Tetap saja!" Pefko masih terus menggedor pintu. "Kenapa harus Agasha yang dikorbankan!?"
Agasha?
Mendengar nama itu disebut, aku kontan bangkit dari posisiku berbaring. Mengerjap beberapa kali, rupanya aku berada di kamarku meski anehnya aku tidak ingat pergi ke kamar untuk tidur—
—oh, ya. Shion membuatku pingsan karena aku ngotot ingin tahu tentang rahasia yang mereka sembunyikan dariku sore tadi.
Apa rahasia itu ada kaitannya dengan Agasha? Apa maksud Pefko tadi dengan mengatakan bahwa Agasha akan dikorbankan?
"Tuan Putri... Anda baik-baik saja?"
Begitu aku menoleh, ternyata Dohko sudah berada di dekatku. Pintu kamarku tak lagi digedor, tapi aku masih bisa mendengar Pefko berteriak di baliknya, sekarang lebih terdengar seperti raungan. Apa dia menangis?
Mengkhawatirkan sepupuku itu, aku bergerak untuk meninggalkan ranjangku. Dohko berusaha menahanku, tapi aku mendorongnya dengan sedikit kasar—saat itu, aku sama sekali lupa bahwa ia lebih tua dariku dan seharusnya kuperlakukan dengan hormat, plus karena statusnya sebagai salah seorang pejabat tinggi di istana ini—dan terus berjalan ke arah pintu kamarku. Sesuai dugaan, pintunya dikunci. Untungnya dari dalam dan kuncinya masih menggantung di sana, jadi langsung kubuka saja.
Dugaanku benar. Pefko berhasil ditahan oleh dua orang prajurit yang berjaga di depan pintu kamarku, namun ia berusaha meronta dari pegangan mereka. Beruntung ia tak perlu terlalu lama berontak, karena begitu menyadari bahwa aku telah membuka pintu, dua orang bawahan Shion itu tampak begitu terkejut sampai-sampai mereka membatu sesaat. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Pefko untuk berlari ke arahku dan memeluk pinggangku.
"Kakak! Tolong, Kak! Mereka akan mengorbankan Agasha!"
Aku mengelus kepalanya pelan, berusaha menenangkannya dan membuatnya melonggarkan pelukannya pada pinggangku. Begitu berhasil, aku berjongkong di hadapannya, bertanya dalam isyarat tangan untuk menjelaskan maksud ucapannya dengan perlahan.
"Aku... aku tidak tahu pasti. Tapi sebelum waktu makan malam, aku berjalan-jalan di dekat gerbang istana, terus ayahnya Agasha terlihat buru-buru berlari mendekat, terus dia bilang Shion dan unit khususnya baru saja datang ke tempatnya dan mereka mengambil paksa Agasha. Katanya mereka ingin mengorbankan Agasha demi kedamaian kerajaan ini, tapi aku tidak mengerti!"
Mulutku menganga terbuka. Terkejut bukan satu-satunya yang kurasakan, tapi juga marah dan sedih. Marah karena baik Ayah maupun Shion tidak jujur dan menceritakan hal ini padaku, sedih karena Agasha, seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa, harus menggantikan posisiku dan dikorbankan 'demi kedamaian kerajaan', entah apapun maksudnya.
—oh, sebentar.
Ada seseorang di sini yang bisa menjelaskan padanya.
Menoleh, aku melihat Dohko masih berdiri di tempatnya tadi, menghadap tembok dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Aku segera berdiri dan berjalan menghampirinya. Pefko mengekor di belakangku dengan langkah ragu-ragu tapi penasaran. Ia memperhatikanku menepuk pundak Dohko yang, tanpa perlu aku melakukan isyarat tangan untuk memerintahkannya bercerita, langsung mengajukan pernyataan,
"Baik, akan kujelaskan pada kalian!" Ia mendesah frustrasi. "Tapi perlu kutekankan pada kalian sebelumnya, bahwa sedari awal aku tidak menyetujui rencana mereka, jadi kuminta ka;ian jangan marah padaku."
Bertukar pandang sejenak dengan Pefko, kami berdua lalu mengangguk kompak.
.
.
.
Setelah menutup pintu dan memerintahkan pada penjaga untuk kembali bersikap seperti biasa, kami bertiga duduk mengitari meja kecil di dalam kamarku yang memang disediakan jika aku ingin berbincang dengan orang-orang secara privat. Pefko berhasil kutenangkan—tadinya ia terlihat seperti akan benar-benar menangis jika saja aku tidak juga keluar dari dala kamar untuk menemuinya dan bersamaku ia mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Dohko.
Dohko bercerita dari awal, tentang dirinya yang menemukan pemecahan masalah nasional yang dihadapi Kerajaan Flandre melalui mimpinya lalu ia sampaikan kepada Ayah. Beliau pun segera mengatur agar Shion bisa bertemu dengan si pemecah masalah, seseorang bernama Minos yang datang dari luar kerajaan. Sementara Shion pergi untuk menemui si Minos ini, Dohko kembali bermimpi, dan kali kedua ini ia memimpikan bahwa benar Minos berhasil membebaskan kerajaan kami dari ancaman pembinasaan, namun dengan harga bahwa setelahnya ia akan membawa pergi diriku dari sini.
"Jadi... kau melihat Kak Albafica bersama dengan si Minos itu dalam mimpimu?" Pefko menggantikanku bertanya, untuk sekedar memastikan.
"Tidak juga, 'sih. Hanya sekedar sosok samar—sebenarnya Minos yang kulihat dalam mimpi pun hanyalah sosok samar yang bisa kukenali hanya karena warna rambutnya. Tapi dalam mimpi itu, ia berbicara seperti mendeskripsikan Tuan Putri."
Mendeskripsikanku?
"Rambut biru, wangi mawar." Dohko tersenyum kecil. "Tidak ada orang lain lagi di negeri ini yang memiliki wangi mawar setajam Anda, Tuan Putri."
Aku memandang tubuhku sendiri. Memang benar, wangi tubuhku adalah mawar. Aku suka harum mawar, karena mereka adalah bunga kesukaanku dan almarhumah ibuku, mendiang ratu kerajaan ini. Sudah jadi pengetahuan umum. Sayangnya sejumlah masyarakat negeri ini menganggap keistimewaanku ini sebagai suatu ironi, mengingat bahwa 17 tahun yang lalu Ratu tewas terbunuh oleh racun yang terkandung dalam salah satu jenis mawar—Krestroos.
"Lalu, kenapa Agasha yang dipilih menggantikan Kakak?" Pefko kembali bertanya. "Agasha sama sekali tidak mirip dengan Kakak. Rambutnya cokelat dan tubuhnya mungil—"
"Tubuhnya wangi mawar." Dohko dengan cepat memotong kalimat Pefko. "Kau sendiri yang mengatakannya, Pangeran, bahwa dia anak seorang tukang bunga dan mawar-mawar di kebun mereka sedang berbunga. Tubuhnya tentu pekat dengan aroma mawar. Tidak perlu memperhitungkan penampilannya, karena berdasarkan penuturan Shion begitu ia kembali siang tadi, syarat yang diajukan Minos adalah 'membawakan seseorang yang tubuhnya berbau mawar tajam'."
Kalau begitu ceritanya, masuk akal jika mereka tanpa ragu lagi membawa paksa Agasha untuk dijadikan penggantinya. Tapi, aku tetap mencemaskan keselamatan gadis itu. Untuk saat ini tidak ada yang bisa memastikan apakah Minos akan tertipu atau tidak. Jika ia tahu bahwa dirinya ditipu, ada kemungkinan bahwa nyawa Agasha akan terancam. Jika pun ia dengan mudahnya tertipu... yah, aku tetap tidak bisa membiarkannya berada di sisi orang asing yang terdengar membahayakan seperti Minos.
Karena Pefko menyukai Agasha.
Aku membuat isyarat tangan, dan Pefko menerjemahkannya untukku seperti biasa (Dohko termasuk salah seorang yang tidak punya kesempatan untuk mempelajari bahasa isyarat demi memahami apa yang ingin kuutarakan), menanyakan di mana tempat pertemuan Shion dengan Minos.
"Penginapan yang dekat dengan Pelabuhan Windermer. Tapi kenapa Anda berta—"
Kulihat mata Dohko membulat lucu.
"—tolong jangan katakan Anda ingin ke sana!"
Aku tersenyum tipis. Tanpa perlu mengatakan apapun, tentunya sang peramal bisa mengerti apa yang sekarang aku rencanakan dalam kepalaku—pergi ke kandang kuda dan mengambil salah satu kuda tunggangan untuk pergi ke tempat yang dimaksud. Kalau ada yang berani menghentikanku, aku akan menggunakan kekuasaanku sebagai putri mahkota agar bisa menerobos keluar. Kalau benar-benar terpaksa, sedikit kekerasan pun rasanya tak akan terelakan.
Maka aku beranjak dari kursi tempatku duduk, berjalan cepat menuju pintu kamar. Tidak mengejutkan, yang menghalangiku paling pertama adalah Dohko. Tongkat yang biasa ia bawa kemana-mana ia acungkan ke arahku. Bagian kepalanya mendadak bercahaya—sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya dan mau tak mau membuatku waspada. Aku pernah mendengar isu bahwa ahli ramal istana tak hanya pandai melihat masa depan kerajaan melalui mimpi, tapi mereka juga menguasai ilmu sihir.
Apakah Dohko hendak menggunakan kekuatannya demi menghentikanku?
"Maaf, Tuan Putri, tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan Anda pergi dari sini." Mata beriris hijaunya tajam menatapku. Seiring dengan itu cahaya di ujung tongkatnya semakin menguat. "Ini perintah Yang Mulia Raja."
Tanganku secara refleks meraba area pinggangku, tempat di mana rapierku biasa menggantung. Tapi aku lupa bahwa hingga beberapa menit yang lalu aku tertidur. Di saat aku tak sadarkan diri, seseorang—entah Shion atau siapapun yang menaikkan tubuhku ke tempat tidur—telah melepas sabukku dan menempatkannya entah di mana. Yang jelas kini aku tak bersenjata, tak kuasa balas menyerang ataupun melindungi diriku sendiri dengan senjata andalanku.
Di saat aku bimbang dan menimang-nimang langkah mana yang harus kupilih, suatu bayangan hitam berkelebatan di depanku dan sedetik kemudian tubuh Dohko terlempar mundur hingga menabrak dinding di belakangnya. Aku terkesiap. Pefko seperti biasa bereaksi lebih cepat daripada aku.
"Siapa kau?!" tanyanya, kaget campur penasaran.
Bayangan hitam itu ternyata adalah seorang manusia dengan rambut berwarna keperakan dan berpakaian serba hitam. Kukira dia adalah Minos yang disebut-sebut oleh Dohko, tapi, entah kenapa, ketika ia berbalik menghadap ke arahku dan aku melihat wajahnya, aku merasa yakin bahwa ia adalah orang lain namun masih memiliki keterkaitan dengan si Minos. Firasatku yang aneh itu dibuktikan ketika ia mulai berbicara.
"Yang Mulia Putri Albafica Quina Challwa," seraya menyebutkan nama lengkap plus gelar resmiku sebagai anggota keluarga raja, pria itu turun dan berlutut, menundukkan kepalanya lalu melanjutkan, "saya datang kemari untuk membawa Anda ke tempat majikan saya, Tuan Minos."
.
.
.
[to be continued]
.
.
.
Suara gaduh mengusik tidurku, menarikku dari alam mimpi kembali ke dunia nyata. Dalam usahaku untuk kembali sadar sepenuhnya, perlahan aku menyadari apa yang menimbulkan bunyi gaduh itu. Suara pintu digedor keras-keras, suara Pefko berteriak, dan satu-dua prajurit berusaha menenangkannya. Ketika aku mulai bertanya-tanya dalam benakku apa yang menyebabkan sepupu kesayanganku itu bersikap heboh begitu, aku mendengar suara Dohko. Begitu jelas, tidak seperti suara Pefko dan para prajurit yang sedikit teredam karena sepertinya mereka ada di balik pintu.
"Mengertilah, Pangeran. Ini semua demi Tuan Putri dan kesejahteraan kerajaan ini."
"Tetap saja!" Pefko masih terus menggedor pintu. "Kenapa harus Agasha yang dikorbankan!?"
Agasha?
Mendengar nama itu disebut, aku kontan bangkit dari posisiku berbaring. Mengerjap beberapa kali, rupanya aku berada di kamarku meski anehnya aku tidak ingat pergi ke kamar untuk tidur—
—oh, ya. Shion membuatku pingsan karena aku ngotot ingin tahu tentang rahasia yang mereka sembunyikan dariku sore tadi.
Apa rahasia itu ada kaitannya dengan Agasha? Apa maksud Pefko tadi dengan mengatakan bahwa Agasha akan dikorbankan?
"Tuan Putri... Anda baik-baik saja?"
Begitu aku menoleh, ternyata Dohko sudah berada di dekatku. Pintu kamarku tak lagi digedor, tapi aku masih bisa mendengar Pefko berteriak di baliknya, sekarang lebih terdengar seperti raungan. Apa dia menangis?
Mengkhawatirkan sepupuku itu, aku bergerak untuk meninggalkan ranjangku. Dohko berusaha menahanku, tapi aku mendorongnya dengan sedikit kasar—saat itu, aku sama sekali lupa bahwa ia lebih tua dariku dan seharusnya kuperlakukan dengan hormat, plus karena statusnya sebagai salah seorang pejabat tinggi di istana ini—dan terus berjalan ke arah pintu kamarku. Sesuai dugaan, pintunya dikunci. Untungnya dari dalam dan kuncinya masih menggantung di sana, jadi langsung kubuka saja.
Dugaanku benar. Pefko berhasil ditahan oleh dua orang prajurit yang berjaga di depan pintu kamarku, namun ia berusaha meronta dari pegangan mereka. Beruntung ia tak perlu terlalu lama berontak, karena begitu menyadari bahwa aku telah membuka pintu, dua orang bawahan Shion itu tampak begitu terkejut sampai-sampai mereka membatu sesaat. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Pefko untuk berlari ke arahku dan memeluk pinggangku.
"Kakak! Tolong, Kak! Mereka akan mengorbankan Agasha!"
Aku mengelus kepalanya pelan, berusaha menenangkannya dan membuatnya melonggarkan pelukannya pada pinggangku. Begitu berhasil, aku berjongkong di hadapannya, bertanya dalam isyarat tangan untuk menjelaskan maksud ucapannya dengan perlahan.
"Aku... aku tidak tahu pasti. Tapi sebelum waktu makan malam, aku berjalan-jalan di dekat gerbang istana, terus ayahnya Agasha terlihat buru-buru berlari mendekat, terus dia bilang Shion dan unit khususnya baru saja datang ke tempatnya dan mereka mengambil paksa Agasha. Katanya mereka ingin mengorbankan Agasha demi kedamaian kerajaan ini, tapi aku tidak mengerti!"
Mulutku menganga terbuka. Terkejut bukan satu-satunya yang kurasakan, tapi juga marah dan sedih. Marah karena baik Ayah maupun Shion tidak jujur dan menceritakan hal ini padaku, sedih karena Agasha, seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa, harus menggantikan posisiku dan dikorbankan 'demi kedamaian kerajaan', entah apapun maksudnya.
—oh, sebentar.
Ada seseorang di sini yang bisa menjelaskan padanya.
Menoleh, aku melihat Dohko masih berdiri di tempatnya tadi, menghadap tembok dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Aku segera berdiri dan berjalan menghampirinya. Pefko mengekor di belakangku dengan langkah ragu-ragu tapi penasaran. Ia memperhatikanku menepuk pundak Dohko yang, tanpa perlu aku melakukan isyarat tangan untuk memerintahkannya bercerita, langsung mengajukan pernyataan,
"Baik, akan kujelaskan pada kalian!" Ia mendesah frustrasi. "Tapi perlu kutekankan pada kalian sebelumnya, bahwa sedari awal aku tidak menyetujui rencana mereka, jadi kuminta ka;ian jangan marah padaku."
Bertukar pandang sejenak dengan Pefko, kami berdua lalu mengangguk kompak.
.
.
.
Setelah menutup pintu dan memerintahkan pada penjaga untuk kembali bersikap seperti biasa, kami bertiga duduk mengitari meja kecil di dalam kamarku yang memang disediakan jika aku ingin berbincang dengan orang-orang secara privat. Pefko berhasil kutenangkan—tadinya ia terlihat seperti akan benar-benar menangis jika saja aku tidak juga keluar dari dala kamar untuk menemuinya dan bersamaku ia mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Dohko.
Dohko bercerita dari awal, tentang dirinya yang menemukan pemecahan masalah nasional yang dihadapi Kerajaan Flandre melalui mimpinya lalu ia sampaikan kepada Ayah. Beliau pun segera mengatur agar Shion bisa bertemu dengan si pemecah masalah, seseorang bernama Minos yang datang dari luar kerajaan. Sementara Shion pergi untuk menemui si Minos ini, Dohko kembali bermimpi, dan kali kedua ini ia memimpikan bahwa benar Minos berhasil membebaskan kerajaan kami dari ancaman pembinasaan, namun dengan harga bahwa setelahnya ia akan membawa pergi diriku dari sini.
"Jadi... kau melihat Kak Albafica bersama dengan si Minos itu dalam mimpimu?" Pefko menggantikanku bertanya, untuk sekedar memastikan.
"Tidak juga, 'sih. Hanya sekedar sosok samar—sebenarnya Minos yang kulihat dalam mimpi pun hanyalah sosok samar yang bisa kukenali hanya karena warna rambutnya. Tapi dalam mimpi itu, ia berbicara seperti mendeskripsikan Tuan Putri."
Mendeskripsikanku?
"Rambut biru, wangi mawar." Dohko tersenyum kecil. "Tidak ada orang lain lagi di negeri ini yang memiliki wangi mawar setajam Anda, Tuan Putri."
Aku memandang tubuhku sendiri. Memang benar, wangi tubuhku adalah mawar. Aku suka harum mawar, karena mereka adalah bunga kesukaanku dan almarhumah ibuku, mendiang ratu kerajaan ini. Sudah jadi pengetahuan umum. Sayangnya sejumlah masyarakat negeri ini menganggap keistimewaanku ini sebagai suatu ironi, mengingat bahwa 17 tahun yang lalu Ratu tewas terbunuh oleh racun yang terkandung dalam salah satu jenis mawar—Krestroos.
"Lalu, kenapa Agasha yang dipilih menggantikan Kakak?" Pefko kembali bertanya. "Agasha sama sekali tidak mirip dengan Kakak. Rambutnya cokelat dan tubuhnya mungil—"
"Tubuhnya wangi mawar." Dohko dengan cepat memotong kalimat Pefko. "Kau sendiri yang mengatakannya, Pangeran, bahwa dia anak seorang tukang bunga dan mawar-mawar di kebun mereka sedang berbunga. Tubuhnya tentu pekat dengan aroma mawar. Tidak perlu memperhitungkan penampilannya, karena berdasarkan penuturan Shion begitu ia kembali siang tadi, syarat yang diajukan Minos adalah 'membawakan seseorang yang tubuhnya berbau mawar tajam'."
Kalau begitu ceritanya, masuk akal jika mereka tanpa ragu lagi membawa paksa Agasha untuk dijadikan penggantinya. Tapi, aku tetap mencemaskan keselamatan gadis itu. Untuk saat ini tidak ada yang bisa memastikan apakah Minos akan tertipu atau tidak. Jika ia tahu bahwa dirinya ditipu, ada kemungkinan bahwa nyawa Agasha akan terancam. Jika pun ia dengan mudahnya tertipu... yah, aku tetap tidak bisa membiarkannya berada di sisi orang asing yang terdengar membahayakan seperti Minos.
Karena Pefko menyukai Agasha.
Aku membuat isyarat tangan, dan Pefko menerjemahkannya untukku seperti biasa (Dohko termasuk salah seorang yang tidak punya kesempatan untuk mempelajari bahasa isyarat demi memahami apa yang ingin kuutarakan), menanyakan di mana tempat pertemuan Shion dengan Minos.
"Penginapan yang dekat dengan Pelabuhan Windermer. Tapi kenapa Anda berta—"
Kulihat mata Dohko membulat lucu.
"—tolong jangan katakan Anda ingin ke sana!"
Aku tersenyum tipis. Tanpa perlu mengatakan apapun, tentunya sang peramal bisa mengerti apa yang sekarang aku rencanakan dalam kepalaku—pergi ke kandang kuda dan mengambil salah satu kuda tunggangan untuk pergi ke tempat yang dimaksud. Kalau ada yang berani menghentikanku, aku akan menggunakan kekuasaanku sebagai putri mahkota agar bisa menerobos keluar. Kalau benar-benar terpaksa, sedikit kekerasan pun rasanya tak akan terelakan.
Maka aku beranjak dari kursi tempatku duduk, berjalan cepat menuju pintu kamar. Tidak mengejutkan, yang menghalangiku paling pertama adalah Dohko. Tongkat yang biasa ia bawa kemana-mana ia acungkan ke arahku. Bagian kepalanya mendadak bercahaya—sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya dan mau tak mau membuatku waspada. Aku pernah mendengar isu bahwa ahli ramal istana tak hanya pandai melihat masa depan kerajaan melalui mimpi, tapi mereka juga menguasai ilmu sihir.
Apakah Dohko hendak menggunakan kekuatannya demi menghentikanku?
"Maaf, Tuan Putri, tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan Anda pergi dari sini." Mata beriris hijaunya tajam menatapku. Seiring dengan itu cahaya di ujung tongkatnya semakin menguat. "Ini perintah Yang Mulia Raja."
Tanganku secara refleks meraba area pinggangku, tempat di mana rapierku biasa menggantung. Tapi aku lupa bahwa hingga beberapa menit yang lalu aku tertidur. Di saat aku tak sadarkan diri, seseorang—entah Shion atau siapapun yang menaikkan tubuhku ke tempat tidur—telah melepas sabukku dan menempatkannya entah di mana. Yang jelas kini aku tak bersenjata, tak kuasa balas menyerang ataupun melindungi diriku sendiri dengan senjata andalanku.
Di saat aku bimbang dan menimang-nimang langkah mana yang harus kupilih, suatu bayangan hitam berkelebatan di depanku dan sedetik kemudian tubuh Dohko terlempar mundur hingga menabrak dinding di belakangnya. Aku terkesiap. Pefko seperti biasa bereaksi lebih cepat daripada aku.
"Siapa kau?!" tanyanya, kaget campur penasaran.
Bayangan hitam itu ternyata adalah seorang manusia dengan rambut berwarna keperakan dan berpakaian serba hitam. Kukira dia adalah Minos yang disebut-sebut oleh Dohko, tapi, entah kenapa, ketika ia berbalik menghadap ke arahku dan aku melihat wajahnya, aku merasa yakin bahwa ia adalah orang lain namun masih memiliki keterkaitan dengan si Minos. Firasatku yang aneh itu dibuktikan ketika ia mulai berbicara.
"Yang Mulia Putri Albafica Quina Challwa," seraya menyebutkan nama lengkap plus gelar resmiku sebagai anggota keluarga raja, pria itu turun dan berlutut, menundukkan kepalanya lalu melanjutkan, "saya datang kemari untuk membawa Anda ke tempat majikan saya, Tuan Minos."
.
.
.
[to be continued]
Comments
Post a Comment