Pacar 2
Disclaimer: Prince of Stride © FiFS, Kadokawa
--
Hubungan percintaan sesama jenis bukan sesuatu yang bisa membuat Tomoe risih. Bagaimanapun, ia hidup di jaman di mana sebuah negara adigdaya di seberang lautan sana telah berdeklarasi bahwa mereka mendukung pernikahan pasangan gay. Tanah air tempatnya lahir dan dibesarkan ini pun disinyalir mendapat julukan surga baik bagi mereka yang memang pelaku hubungan maupun hanya penikmat keindahannya.
Jadi, ya, yang membuat Tomoe terguncang bukan itu, tapi lebih ke arah bahwa Riku sudah punya pacar.
Adiknya yang ia kira masih bocah ingusan penggemar yakisoba pan buatan toko roti keluarga mereka, yang sebagian besar otaknya diduga terdiri atas otot dan bukannya sel fungsional, ternyata sudah punya minat untuk menjalin hubungan percintaan.
Rasanya sulit dipercaya. Meskipun Tomoe tidak pernah meremehkan kemampuan fisik adiknya, untuk bidang lain, baik secara sengaja maupun tidak, ia nyatanya meremehkan Riku.
"... Sudah bukan anak kecil lagi, ya..."
"Siapa yang kau bicarakan?"
"Eh-"
Sapaan dadakan itu membuat tangan Tomoe tergelincir. Alhasil, bukannya mendapatkan sekaleng kopi hitam kesukaannya, yang keluar dari mesin penjual otomatis malah jenis Americano. Selama beberapa saat, ia cuma bisa berdiri dengan tampang cengo, melihat seseorang membungkuk dan mengulurkan tangan mengambil kaleng kopi hangat itu.
"Ku ambil, ya? Kau tidak suka Americano, 'kan?"
"... Kyousuke..."
--
Hubungan percintaan sesama jenis bukan sesuatu yang bisa membuat Tomoe risih. Bagaimanapun, ia hidup di jaman di mana sebuah negara adigdaya di seberang lautan sana telah berdeklarasi bahwa mereka mendukung pernikahan pasangan gay. Tanah air tempatnya lahir dan dibesarkan ini pun disinyalir mendapat julukan surga baik bagi mereka yang memang pelaku hubungan maupun hanya penikmat keindahannya.
Jadi, ya, yang membuat Tomoe terguncang bukan itu, tapi lebih ke arah bahwa Riku sudah punya pacar.
Adiknya yang ia kira masih bocah ingusan penggemar yakisoba pan buatan toko roti keluarga mereka, yang sebagian besar otaknya diduga terdiri atas otot dan bukannya sel fungsional, ternyata sudah punya minat untuk menjalin hubungan percintaan.
Rasanya sulit dipercaya. Meskipun Tomoe tidak pernah meremehkan kemampuan fisik adiknya, untuk bidang lain, baik secara sengaja maupun tidak, ia nyatanya meremehkan Riku.
"... Sudah bukan anak kecil lagi, ya..."
"Siapa yang kau bicarakan?"
"Eh-"
Sapaan dadakan itu membuat tangan Tomoe tergelincir. Alhasil, bukannya mendapatkan sekaleng kopi hitam kesukaannya, yang keluar dari mesin penjual otomatis malah jenis Americano. Selama beberapa saat, ia cuma bisa berdiri dengan tampang cengo, melihat seseorang membungkuk dan mengulurkan tangan mengambil kaleng kopi hangat itu.
"Ku ambil, ya? Kau tidak suka Americano, 'kan?"
"... Kyousuke..."
Comments
Post a Comment