Posts

Konstelasi: Orion

Prompt: Orion – Dua karakter berburu bersama Karakter Yang Digunakan: Undertaker, Asch the Bloody . . . Suara ledakan tawa membuat aktivitas di kelab malam itu terhenti sesaat. Semua tatapan mata segera tertuju ke satu arah—ke arah sumber suara, yaitu counter bar. Seorang lelaki dengan rambut berwarna abu keperakan dapat terlihat di sana, bahunya gemetar naik turun ketika kekehnya tak kunjung berhenti. Bartender yang melayaninya berdiri kaku di balik counter , tak tahu harus berbuat apa. Pelanggan-pelanggan lainnya yang juga duduk mengitari counter , memilih untuk menjauh kecuali satu: seorang pria muda dengan rambut merah yang diikat. Meskipun ia tetap berada di tempat duduknya, yang notabene tepat di samping si rambut abu-abu, tapi ekspresi wajahnya jelas menyiratkan bahwa ia ingin pura-pura tidak kenal atau mendadak berubah menjadi invisibel. “Demi Thanatos,” desah si rambut perak setelah tawanya reda, “sudah lama aku tidak mendengar lelucon sebagus itu, bartender. Seand...

Pengkhayal

Mengkhayal menurutnya begitu menyenangkan. Mengkhayalkan sebuah adegan seru atau manis adalah yang paling sering ia lakukan, di mana kemudian ia akan menuangkannya dalam bentuk kata-kata, menggubahnya menjadi kisah yang dipandangnya menarik. Mengkhayalkan sesuatu yang lucu ketika pengajar memberikan materi kuliah juga tak jarang ia lakukan, dan lagi biasanya muncul juga ide-ide untuk menjadikannya sebuah kisah pendek. Mengkhayal dan mengkhayal. Karena ia percaya khayalan adalah salah satu dari segelintir hal yang mampu menyelamatkannya dari kegilaan dunia nyata. Mengkhayal, bahkan ketika ia sedih dan marah. Mengkhayalkan apa yang akan ia katakan kepada seseorang yang membuatnya naik pitam, namun berakhir tak bisa ia keluarkan karena sisi rasionalnya cukup kuat untuk menahan dirinya dari mengatakan hal-hal yang tidak seronok, yang akan memperburuk citra dirinya. Mengkhayalkan apa yang akan ia cerocoskan ketika memijat deretan angka pada ponselnya, ketika dadanya sesak dan ...

Jatuh Cinta

Kudengar, para remaja perempuan di negara sepupu Nona Sasha berasal punya kebiasaan menyimpan foto orang yang mereka sukai di dalam dompet mereka. Aku bukan dari negara yang sama, namun hal itu kulakukan juga. Meski caraku melakukannya berbeda. Menurut Nona Sasha, foto yang dimiliki gadis-gadis itu biasanya diambil secara diam-diam, atau hasil jepretan klub fotografi di sekolah masing-masing ketika ada acara-acara besar di sekolah. Sementara aku, foto yang kumiliki bukanlah sosok gagah orang yang kusukai ketika dia tersenyum dengan tampannya, melainkan foto diriku sendiri. Ya, foto diriku sendiri—yang diambil oleh nya . Meski kukatakan 'foto diriku sendiri', namun yang masuk ke dalam frame  kamera hanyalah beberapa helai rambutku, selebihnya adalah latar yang tertangkap pada saat momen yang tepat. Beberapa orang yang pernah iseng membuka dompetku dan melihat isinya sepakat mengatakan bahwa caraku ini aneh, tapi aku hanya tersenyum menanggapi komentar mereka lalu,...

The Fairest

"Camus! Aku benci kamu!" Camus, yang sedang duduk santai membaca buku di sofa berlengan di ruang tamu, mendongak ke arah asal suara dan menaikkan sebelah alisnya. "... Hah?" "Pokoknya aku benci sama kamu! Titik!" Yang berseru padanya berbicara sambil menuding-nuding sebelum berlari keluar ruangan dengan gaya dramatis, meninggalkan tidak hanya Camus, tapi juga Milo yang sedang tidur-tidur ayam di sana, melongo bingung. Milo menatap sahabatnya, mencari tahu. "Kamu ngapain si Aphrodite, 'Mus?" Yang ditanyai mengangkat bahu tanda tak paham. Namun beruntung, karena seseorang yang masuk ke dalam ruang tamu tak lama setelah kepergian Aphrodite datang dengan sebuah jawaban. "Abaikan saja. Dia lagi labil." "Labil kenapa, Mask? Kenapa Camus yang kena amuk?" Milo semakin bingung. Bukan hal biasa, 'sih, jika seorang Aphrodite mendadak marah-marah. Tapi biasanya dibalik segala kesewotannya itu, si cantik dari kuil ke-12...

Konstelasi: Cancer

Prompt: Cancer - Character A tries to calm character B Characters: Leo Regulus, Agasha . . . Ketika ia mendengar berita tentang kematian Albafica, dengan segera Regulus berlari ke arah Makam Saint. Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari-cari dengan pandangan matanya yang tajam sekiranya yang mana makam dari Saint Pisces tersebut dari sekian banyak kuburan yang ada di sana. Tidak butuh waktu lama baginya, karena ketika ia melihat ke suatu arah, sosok seseorang yang lumayan familiar tertangkap dalam jarak pandangnya dan ia langsung tahu bahwa itulah makam yang dicarinya. Karena seseorang yang tengah berdoa di hadapan makam itulah yang sebenarnya ia cari. "Agasha!" Yang dipanggil menoleh dan terlihat terkejut melihatnya berlari mendekat. "Regulus- sama ! A-apa yang Anda lakukan di sini...?" Regulus berhenti berlari ketika ia tiba di hadapan gadis yang usianya hanya beberapa tahun lebih muda darinya itu. Namun, bukannya langsung menjawab sapaan Agash...

Konstelasi: Sagittarius

Prompt: Sagittarius  - Character A teaches character B a skill Characters: Hornet Sonia, Horologium Tokisada . . . Ini konyol. Konyol. Konyol level raja seluruh lautan di alam semesta ini. Sejak kecil, ia, yang meskipun anak pertama namun dilahirkan dengan jenis kelamin perempuan, ditakdirkan untuk membantu Eden, adik laki-lakinya yang kelak akan menjadi pemimpin di muka bumi. Untuk masa depan yang akan mereka capai itu, ia mulai belajar segala hal yang diperlukan untuk menjadi petarung yang hebat, agar nantinya ia bisa memerangi siapapun yang mengancam keselamatan sang adik. Kedua orang tuanya mendukung niatnya ini dengan memberinya pelatih-pelatih handal, dan dengan bantuan mereka perlahan-lahan ia berkembang. Meskipun latihan yang ia jalani begitu berat untuk ukuran perempuan, ia tidak pernah mengeluh atau patah semangat, karena ia tahu orang tuanya memilihkan yang terbaik untuknya dan ia ingin mereka merasa bangga saat ia menjadi lebih kuat setelah menjalani semuanya. ...

Waiting

Albafica. Hasgard. Manigoldo. El Cid. Kardia. Dègel. Sisyphus. Lalu, dirinya sendiri. Delapan dari dua belas Saint Emas telah tiba di alam barzah, Asmita menghitung. Empat masih bertarung sekuat tenaga di dunia fana, mendukung Athena dalam perang syahid melawan pasukan Hades. Adalah sesuatu yang tidak pantas untuk mengharapkan kematian seseorang, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berdoa agar 'orang itu' segera muncul di hadapannya. Ia rindu. Akan hangat yang ia rasakan tiap kali berada di dekatnya. Akan rasa nyaman yang muncul kala disentuh olehnya. Akan damai yang terbawa ketika ia melihat wajahnya. Ia merindukannya. "Asmita?" Melirik ke samping kanan dan ia menemukan Sisyphus tiba di sisinya. Wajah ksatria dari kuil ke-9 itu menunjukkan ekspresi cemas. Mungkin karena menyadari bahwa sedaritadi Asmita diam terpaku menatap satu titik tak berujung. "Ada sesuatu yang meresahkanmu?" Ia menggeleng. "Aku—" Kalimatnya ta...