Posts

Scrapped: Bond chapter 14

Alam Barzah Semua yang mati akan kembali ke tanah. Semua yang mati, sementara jasad duniawinya terkubur dan ditangisi mereka yang masih hidup, rohnya akan terbang ke alam sana untuk dihakimi. Semua yang mati rohnya dihakimi, lalu dikirim ke tempat-tempat yang telah ditentukan untuk menebus segala dosa-dosanya ketika masih hidup. Semua, tanpa terkecuali. . . . Atau mungkin, ada perkecualian bagi beberapa jiwa. “Berhenti! Berhenti kalian!” Perintah tersebut tidak didengarkan. Tiga orang—er, tiga buah jiwa dengan gesit menghindari serangan-serangan yang dilancarkan ke arah mereka sambil terus berlari dan sesekali balas menyerang. Terus berlari, menembus kepungan Spectre yang ditugaskan berjaga di Black Wind Valley. Yang mereka dengarkan hanyalah suara halus salah satu dari mereka yang terus terngiang di dalam kepala. “Maju terus. Jangan biarkan siapapun menghentikan kalian hingga kalian tiba di ‘tempat itu’!” Derap langkah kaki mereka yang terus berlari tenggelam di ...

Transcending Time - 1

Akhir musim gugur yang biasa-biasa saja, menurut Agasha. Sama sekali tidak ada pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang menarik, tidak juga ada isu-isu yang bisa membuatnya bersemangat. Dan karena itulah, ketika sepasang tangan mendadak menutupi pandangannya saat ia tengah menyirami bunga-bunga di teras rumahnya, ia begitu terkejut. "Si—siapa?!" "Coba tebak." Suara laki-laki yang tidak ia kenali, yang jelas-jelas membuat gadis itu panik. Meski begitu, ia mencoba untuk tetap tenang dan mulai meraba punggung tangan yang tetap menghalangi pengelihatannya dengan sedikit ragu. Besar dan lumayan mulus. Tidak seperti tangan laki-laki manapun yang ia kenal cukup baik. "A-aku tidak tahu. Tolong lepaskan!" "Hee... sedihnya kau tidak mengenaliku." Agasha langsung mengambil jarak dan membalikkan badan begitu tangan tersebut melepaskan kepalanya, berhadapan dengan si pemberi kejutan. Berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki be...

Scrapped: A-11

Mata Albafica mengerjap malas sementara ia memandangi langit-langit kamarnya. Bukan, bukan karena langit-langit kamarnya didekor dengan amat sangat menarik sehingga ia rela menghabiskan waktu untuk mengamati detil-detilnya, namun lebih dikarenakan saat ini tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain melamun sambil menatap langit-langit. Bagaimanapun, ia baru saja berhasil lolos dari cengkeraman dewa kematian setelah berjuang selama tiga hari tiga malam—atau itulah penjelasan yang diberikan gurunya ketika ia terbangun dan merasakan tubuhnya nyeri dan basah oleh keringat dingin. Susah payah Albafica menggerakan tangan kanannya hingga ia bisa melihat jari-jarinya. Jari-jari yang, perlu ia akui, sama sekali tidak mulus karena terlalu sering bersentuhan dengan duri-duri mawar. Banyak luka gores di sana-sini, namun yang ia perhatikan hanya satu titik: luka yang paling baru, yang tertoreh tiga hari yang lalu. Luka tempat darahnya dan darah gurunya bertukar. Ritual Ikatan Merah, guru...

Scrapped: EC-8

Kuil Virgo, satu-satunya yang kuil selain kuil Pisces yang memiliki taman di antara 12 kuil Zodiak, malam itu disulap menjadi tempat pelaksanaan acara ulang tahun kecil-kecilan. Sebuah pohon bambu ditancapkan di tanah. Dahan-dahannya penuh menampung tanzaku bertuliskan aksara-aksara Yunani dan Latin—permohonan para Saint yang sempat menghadiri acara tersebut. Acara sudah berjalan selama beberapa jam dan karena hari sudah larut, banyak dari hadirin yang undur diri dengan alasan lelah atau ingin bangun pagi untuk latihan esok hari. Hanya beberapa yang masih bertahan di sana, yakni mereka yang sebaya dan memang dekat dengan si bocah yang sedang berulang tahun. Dan , tentu saja, si bocah yang berulang tahun itu sendiri , . “Manigoldo.” Calon pewaris Cancer Cloth itu mendongak, menemukan El Cid berjalan mendekatinya yang sedang duduk di bawah pohon elm. “Masih belum mau pulang dan tidur? Kelihatannya kau sudah tidak tertarik menontoni bintang-bintang.” Manigoldo ...

Scrapped: A-16

Lalu, dirasakannya sepasang tangan yang besar berbalut sarung tangan yang terbuat dari emas merengkuhnya dari belakang, mengejutkannya. Warna biru dari kepala yang bersandar secara mendadak di bahunya cukup familiar, sehingga tak perlu melihat wajah si penyerang pun Albafica bisa mengenalinya. “Manigoldo, lepaskan aku.” Suaranya tersendat, dan usahanya untuk terdengar tegas menolak sentuhan kulit tersebut hancur berantakan. “Kau boleh terus menangis kalau kau mau, tahu.” Kalimat Manigoldo membuat deretan protes yang akan diutarakan Albafica berikutnya berhenti di ujung tenggorokan. “Kau boleh berteriak seperti orang sinting, meraung memanggil nama gurumu, berdukacita akan kepergian beliau sampai berbulan-bulan atau apa. Tapi, kau tahu beliau tidak akan kembali meskipun kau lakukan semua itu, ‘kan?” Sesenggukannya belum berhenti. “Kau tahu beliau malah akan sedih kalau kau murung terus seperti ini. Oke, aku mungkin tidak terlalu dekat dengan beliau, tapi, dia tidak jauh berb...

Scrapped: A-16

Lalu, dirasakannya sepasang tangan yang besar berbalut sarung tangan yang terbuat dari emas merengkuhnya dari belakang, mengejutkannya. Warna biru dari kepala yang bersandar secara mendadak di bahunya cukup familiar, sehingga tak perlu melihat wajah si penyerang pun Albafica bisa mengenalinya. “Manigoldo, lepaskan aku.” Suaranya tersendat, dan usahanya untuk terdengar tegas menolak sentuhan kulit tersebut hancur berantakan. “Kau boleh terus menangis kalau kau mau, tahu.” Kalimat Manigoldo membuat deretan protes yang akan diutarakan Albafica berikutnya berhenti di ujung tenggorokan. “Kau boleh berteriak seperti orang sinting, meraung memanggil nama gurumu, berdukacita akan kepergian beliau sampai berbulan-bulan atau apa. Tapi, kau tahu beliau tidak akan kembali meskipun kau lakukan semua itu, ‘kan?” Sesenggukannya belum berhenti. “Kau tahu beliau malah akan sedih kalau kau murung terus seperti ini. Oke, aku mungkin tidak terlalu dekat dengan beliau, tapi, dia tidak jauh berb...

Hero

"Besar, gendut, bodoh!" Tiga kata yang cukup untuk membuat bendungan air mata dibuka, yang langsung membuat rangkaian hinaan bertambah. "Cengeng!" Dan yang akan datang untuk membelanya adalah pahlawannya sejak kecil. Pahlawan yang tak pernah lelah menolongnya kapanpun dan dimanapun. "Kalian anak kecil banget, 'sih, ngeledekin anak cewek sampai nangis!" "Cewek?" Gerombolan anak nakal itu tertawa terbahak-bahak. "Vivi mananya yang keliatan kayak anak cewek? Rambut pendek, gaya selalu kayak anak cowok, mulutnya kasar! Tapi tetep aja pengecut! Diledekin dikit, nangis!" "Itu bukan pengecut, tolol! Cewek, mau penampilannya bagaimanapun juga, tetap cewek di dalamnya! Ngaku, deh, di antara kalian pasti ada yang ibunya kelihatan tegar. Tapi, coba, bayangin kalau bapak kalian mukul beliau atau dihina dengan sangat menyakitkan oleh siapapun--pasti beliau bakal nangis juga!" Kontan anak-anak itu terdiam. Yang tersisa han...